
Magang Berdampak
Program magang untuk menyiapkan lulusan yang adaptif, siap kerja, dan terhubung dengan kemitraan lintas sektor.
Selengkapnya
Diktisaintek Berdampak adalah gerakan strategis pendidikan tinggi untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan pembangunan bangsa melalui ilmu pengetahuan, teknologi, riset, inovasi, dan pengabdian.
Bagi Universitas Negeri Gorontalo, semangat ini memperkuat peran kampus sebagai ruang belajar, pusat pengetahuan, dan mitra pembangunan yang menghasilkan manfaat langsung bagi Gorontalo, kawasan Teluk Tomini, dan Indonesia.
Program unggulan menjadi jalur bagi mahasiswa, dosen, organisasi kemahasiswaan, dan mitra untuk mengembangkan kapasitas sekaligus memberi kontribusi langsung.

Program magang untuk menyiapkan lulusan yang adaptif, siap kerja, dan terhubung dengan kemitraan lintas sektor.
Selengkapnya
Penguatan kapasitas organisasi kemahasiswaan melalui pembinaan, pengabdian, dan pemberdayaan masyarakat.
Selengkapnya
Dukungan pengembangan usaha mahasiswa melalui pendanaan, pendampingan, dan pelatihan usaha.
Selengkapnya
Akselerasi gagasan kreatif dan inovatif mahasiswa untuk berkontribusi pada ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Selengkapnya
Jalur percepatan akademik bagi sarjana unggul untuk menempuh pendidikan magister menuju doktor.
Selengkapnya
Kolaborasi sosial yang menghubungkan riset, inovasi, dan kebutuhan masyarakat agar solusi kampus lebih aplikatif.
Selengkapnya
Kebutuhan bahan baku pakan unggas terus meningkat, sementara harga tepung ikan sebagai salah satu sumber protein utama dalam pakan cenderung semakin mahal dan sebagian masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Kondisi tersebut mendorong para peneliti mencari bahan baku alternatif yang lebih ekonomis, mudah diperoleh, sekaligus mampu mendukung produktivitas ternak. Salah satu sumber yang dinilai menjanjikan adalah limbah pengolahan ikan cakalang yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.Potensi tersebut menjadi fokus penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh Srisukmawati Zainudin, Hartutik, Edhy Sudjarwo, dan Osfar Sjofjan melalui penelitian berjudul The Effects of Replacing Fish Meal with Skipjack Tuna Offal Meal on the Growth Performance and Carcase Quality of Local Chickens. Penelitian ini mengevaluasi tingkat penggunaan tepung limbah ikan cakalang kukus (steamed skipjack tuna offal meal/SSFO) sebagai pengganti tepung ikan dalam pakan ayam lokal untuk memperoleh tingkat penggunaan yang paling optimal dalam meningkatkan performa pertumbuhan dan kualitas karkas ayam.Penelitian ini memiliki relevansi yang tinggi bagi Indonesia, khususnya Gorontalo, yang merupakan salah satu daerah penghasil ikan cakalang. Data yang dikutip dalam penelitian menunjukkan bahwa produksi cakalang di Gorontalo mencapai lebih dari 13 ribu ton pada tahun 2020. Selama ini, bagian sisa pengolahan seperti usus, lambung, hati, jantung, paru-paru, dan telur ikan masih belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal memiliki kandungan nutrisi yang berpotensi menjadi bahan baku pakan ternak.Untuk menguji potensinya, para peneliti mengganti tepung ikan dalam ransum dengan tepung limbah ikan cakalang kukus pada beberapa tingkat penggunaan. Selama pemeliharaan, berbagai parameter diamati, mulai dari konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, rasio konversi pakan (feed conversion ratio/FCR), nilai income over feed cost (IOFC), bobot karkas, persentase karkas, hingga kandungan protein dan lemak daging ayam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 5% tepung limbah ikan cakalang kukus memberikan performa terbaik. Pada tingkat ini, ayam lokal menghasilkan bobot badan akhir dan bobot karkas yang lebih tinggi, disertai nilai FCR yang lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya. Artinya, ayam mampu memanfaatkan pakan secara lebih efisien untuk menghasilkan pertambahan bobot badan. Selain itu, nilai IOFC juga menjadi yang tertinggi, menunjukkan bahwa penggunaan bahan pakan tersebut berpotensi meningkatkan keuntungan usaha peternakan.Dari sisi kualitas daging, penelitian menemukan bahwa penggantian tepung ikan dengan tepung limbah ikan cakalang kukus tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan protein daging, sehingga kualitas protein tetap terjaga. Sementara itu, kandungan lemak daging mengalami perubahan, namun masih berada dalam kisaran normal untuk daging ayam. Peneliti juga melaporkan bahwa persentase karkas dada tidak berbeda nyata antarperlakuan, meskipun bobot karkas meningkat pada tingkat penggunaan tertentu.Temuan ini menunjukkan bahwa limbah ikan cakalang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan alternatif. Selain membantu mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan, pemanfaatan hasil samping industri perikanan juga dapat mengurangi limbah organik sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.Bagi peternak, hasil penelitian ini membuka peluang untuk memanfaatkan bahan baku lokal yang lebih mudah diperoleh tanpa mengorbankan performa produksi ayam. Di daerah penghasil cakalang seperti Gorontalo, inovasi ini berpotensi menekan biaya pakan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah hasil perikanan.Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa tepung limbah ikan cakalang kukus dapat digunakan sebagai pengganti tepung ikan hingga tingkat 5% dalam pakan ayam lokal. Penggunaan pada tingkat tersebut terbukti mampu meningkatkan performa pertumbuhan, memperbaiki efisiensi penggunaan pakan, meningkatkan bobot karkas, serta berpotensi meningkatkan keuntungan peternak. Temuan ini menjadi salah satu alternatif inovasi pakan yang tidak hanya lebih ekonomis, tetapi juga mendukung pemanfaatan sumber daya lokal dan pengembangan peternakan yang lebih berkelanjutan. (Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

GORONTALO – Membangun generasi yang sehat tidak hanya dimulai dari layanan kesehatan, tetapi juga dari kebiasaan baik yang ditanamkan sejak usia dini. Semangat inilah yang diwujudkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) UNG Desa Balahu, melalui kegiatan Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi siswa SDN 4 Tibawa, Senin (27/7).Kegiatan tersebut menjadi salah satu program unggulan mahasiswa KKN-PK, dalam mendukung peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat melalui pendidikan kesehatan di lingkungan sekolah. Dengan sasaran anak-anak usia sekolah dasar, mahasiswa berupaya menanamkan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat sebagai kebiasaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.Dalam suasana yang penuh semangat, para mahasiswa menyampaikan materi mengenai berbagai praktik PHBS yang sederhana, namun memiliki manfaat besar bagi kesehatan. Edukasi mencakup pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan diri, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan jamban sehat, mengonsumsi makanan bergizi, serta menjaga kebersihan lingkungan sekolah.Agar penyampaian materi lebih mudah dipahami, mahasiswa mengemas kegiatan secara interaktif. Siswa diajak berdiskusi, menjawab berbagai pertanyaan, hingga mempraktikkan langsung kebiasaan hidup bersih dan sehat yang telah dipelajari. Pendekatan tersebut membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan, sekaligus mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi.Antusiasme para siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian dan semangat, terutama saat praktik mencuci tangan yang benar serta permainan edukatif yang mengajak mereka mengenali kebiasaan sehat dalam kehidupan sehari-hari.Koordinator Desa KKN-PK Desa Balahu menuturkan bahwa pendidikan mengenai PHBS di sekolah dasar memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kebiasaan hidup sehat sejak dini. Terlebih anak-anak merupakan kelompok usia yang sangat tepat, untuk diberikan edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat.“Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga kebersihan lingkungan dapat menjadi bekal penting untuk mencegah berbagai penyakit sekaligus membentuk pola hidup sehat hingga dewasa," ujarnya.Ia menambahkan bahwa melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya ingin meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga mendorong mereka menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga maupun masyarakat."Kami berharap siswa dapat menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat setiap hari, baik di sekolah maupun di rumah. Bahkan mereka dapat menjadi contoh bagi teman dan keluarganya dalam membangun budaya hidup sehat," tambahnya.Melalui program edukasi PHBS ini, mahasiswa KKN-PK UNG kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan sejak usia dini, sehingga tercipta lingkungan sekolah yang sehat serta generasi muda yang lebih peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungannya.

GORONTALO – Langkah Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan di masyarakat terus diwujudkan melalui aksi nyata. Bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Puskesmas Talaga Jaya, dan Pemerintah Desa Luwoo, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) UNG menggelar kegiatan Tracking TBC Terintegrasi dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kantor Desa Luwoo, Kamis (23/7).Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan layanan kesehatan primer berbasis masyarakat melalui edukasi, deteksi dini, serta peningkatan kesadaran warga terhadap tuberkulosis yang hingga kini masih menjadi salah satu penyakit menular dengan beban kasus tinggi di Indonesia.Pelaksanaan program mendapat pendampingan langsung dari Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PK Desa Luwoo, yakni Dr. dr. Vivien Novarina A. Kasim, M.Kes., dr. Siti Rakhmatia P. Th. Kum, M.Biomed., Ns. Nur Ayun R. Yusuf, S.Kep., M.Kep., dan Ns. Sartika, S.Kep., M.Kep. Kehadiran para dosen memastikan setiap rangkaian kegiatan berjalan sesuai kaidah ilmiah sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.Koordinator Desa KKN-PK UNG Desa Luwoo, Taufik Mohamad Nur, menjelaskan bahwa mahasiswa tidak hanya terlibat dalam penyelenggaraan layanan kesehatan, tetapi juga menjadi agen edukasi di tengah masyarakat.Melalui penyuluhan yang dilakukan, masyarakat diberikan pemahaman mengenai cara penularan tuberkulosis, gejala yang perlu diwaspadai, pentingnya pemeriksaan sejak dini, hingga kepatuhan menjalani pengobatan sampai tuntas. Edukasi juga menekankan pentingnya menghilangkan stigma terhadap penyintas TBC, agar masyarakat tidak ragu memeriksakan diri ketika mengalami gejala."Pengetahuan masyarakat merupakan kunci utama dalam memutus rantai penularan TBC. Karena itu kami berupaya memberikan edukasi yang mudah dipahami, sekaligus mendorong masyarakat untuk tidak takut melakukan pemeriksaan apabila mengalami gejala," jelas Taufik.Selain penyuluhan, mahasiswa turut mendampingi tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo dan Puskesmas Talaga Jaya, dalam pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan kadar gula darah, hingga skrining kesehatan sebagai langkah promotif dan preventif, untuk mendeteksi faktor risiko penyakit sejak dini.Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. dr. Vivien Novarina A. Kasim, M.Kes., menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa merupakan implementasi nyata peran perguruan tinggi, dalam mendukung program prioritas kesehatan nasional.Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah desa, dan UNG menjadi model sinergi yang efektif dalam memperkuat transformasi layanan kesehatan primer."Kehadiran mahasiswa tidak hanya membantu pelaksanaan program pemerintah dalam mempercepat penemuan kasus TBC, tetapi juga memperkuat edukasi kesehatan di masyarakat. Pendekatan promotif dan preventif seperti ini menjadi langkah penting, untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan perilaku hidup sehat," ujarnya.Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Warga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan sekaligus berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai pencegahan tuberkulosis maupun faktor risiko penyakit tidak menular. (**)

GORONTALO – Komitmen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dalam menghadirkan solusi berbasis inovasi bagi masyarakat, kembali diwujudkan melalui program Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK). Mahasiswa KKN-PK UNG memperkenalkan SIGAP KIA (Sistem Informasi Kesehatan Ibu dan Anak) berbasis website sebagai inovasi digital, untuk mendukung peningkatan layanan kesehatan ibu hamil dan anak di Desa Datahu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo.Inovasi tersebut diperkenalkan dalam Seminar Awal KKN-PK yang berlangsung di Aula Kantor Desa Datahu, Rabu (22/7). Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk memaparkan hasil pendataan kesehatan masyarakat, sekaligus menyosialisasikan program kerja yang akan dijalankan selama masa pengabdian.Seminar turut dihadiri pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader kesehatan, serta masyarakat setempat. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut menjadi langkah awal membangun kolaborasi dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih efektif, terintegrasi, dan berbasis data.Koordinator Desa KKN-PK UNG Desa Datahu menjelaskan bahwa SIGAP KIA dirancang sebagai sistem informasi berbasis website yang memudahkan proses pendataan ibu hamil, pemantauan kondisi kehamilan, serta memperkuat koordinasi antara bidan desa, kader kesehatan, dan pemerintah desa."Melalui SIGAP KIA, kami ingin membantu pemerintah desa dan tenaga kesehatan melakukan pemantauan ibu hamil secara lebih sistematis. Sistem ini dipadukan dengan pendampingan melalui home visit sehingga ibu hamil yang memiliki risiko tinggi dapat terdeteksi lebih dini dan segera memperoleh penanganan yang tepat," jelasnya.Lebih dari sekadar aplikasi digital, SIGAP KIA juga menjadi bagian dari strategi pemberdayaan masyarakat. Mahasiswa akan memberikan pelatihan kepada kader kesehatan mengenai penggunaan sistem informasi tersebut, sehingga proses pencatatan dan pemantauan kesehatan ibu hamil dapat terus berjalan secara berkelanjutan setelah program KKN berakhir.Selain menghadirkan inovasi digital, mahasiswa KKN-PK UNG juga menyiapkan berbagai program promotif dan preventif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Program tersebut meliputi kerja bakti lingkungan, edukasi pemilahan sampah, sosialisasi HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS), senam hipertensi, cek kesehatan gratis (CKG), hingga sosialisasi Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) sebagai upaya pencegahan hipertensi dan diabetes melitus.Pemerintah Desa Datahu menyambut positif kehadiran mahasiswa KKN-PK UNG beserta inovasi yang mereka bawa. Menurut pemerintah desa, SIGAP KIA merupakan terobosan yang sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui pemanfaatan teknologi digital.Program tersebut diyakini mampu meningkatkan kualitas pendataan, mempercepat deteksi dini kehamilan berisiko tinggi, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat dalam memberikan pendampingan kepada ibu hamil.

GORONTALO - Dalam mendukung peningkatan kesehatan ibu dan anak kembali diwujudkan melalui aksi nyata mahasiswa di tengah masyarakat, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan UNG menggelar program BUMIL TANGGUH (Ibu Hamil Tangguh) di Desa Hutadaa, Kabupaten Gorontalo, Jumat (24/7), sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi kondisi kegawatdaruratan ibu hamil, khususnya saat terjadi bencana.Mengusung tema “Model Pemberdayaan Kader dan Tenaga Kesehatan Berbasis Buku Panduan Manajemen Kegawatdaruratan Ibu Hamil pada Situasi Bencana untuk Menurunkan Risiko Angka Kematian Ibu dan Anak di Desa Hutadaa”, kegiatan yang dipusatkan di Koperasi Desa Hutadaa ini melibatkan kader kesehatan, tenaga kesehatan, serta masyarakat sebagai mitra utama dalam membangun sistem perlindungan ibu hamil berbasis komunitas.Program BUMIL TANGGUH dirancang sebagai bentuk pengabdian mahasiswa yang tidak hanya berfokus pada edukasi kesehatan, tetapi juga pada penguatan kapasitas kader sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat desa. Melalui pelatihan tersebut, para kader dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali tanda bahaya kehamilan, memberikan respons awal terhadap kondisi darurat, serta melakukan koordinasi dan rujukan secara cepat ketika diperlukan.Koordinator Desa KKN Profesi Kesehatan UNG di Desa Hutadaa menjelaskan bahwa keberadaan kader kesehatan memiliki peran strategis karena menjadi pihak yang paling dekat dengan masyarakat, khususnya ibu hamil dan keluarganya."Melalui kegiatan BUMIL TANGGUH, kami berharap kader kesehatan di Desa Hutadaa memiliki kesiapan yang lebih baik dalam mengenali kondisi darurat pada ibu hamil, terutama ketika terjadi bencana. Kader diharapkan mampu memberikan respons awal, membantu edukasi keluarga, serta segera berkoordinasi dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan tanda-tanda kegawatdaruratan," ujarnya.Selain meningkatkan kapasitas kader, kegiatan ini juga memperkenalkan Buku Panduan Manajemen Kegawatdaruratan Ibu Hamil pada Situasi Bencana sebagai acuan praktis dalam melakukan deteksi dini, pendampingan, hingga penanganan awal terhadap ibu hamil yang berada dalam kondisi berisiko.Dosen Pembimbing Lapangan KKN Profesi Kesehatan UNG menilai bahwa pemberdayaan masyarakat melalui kader kesehatan merupakan strategi penting dalam mendukung percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Anak (AKA).Menurutnya, upaya menjaga keselamatan ibu hamil tidak dapat hanya mengandalkan fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi harus diperkuat melalui keterlibatan aktif keluarga, kader, dan masyarakat."Pelatihan ini menjadi langkah penting untuk membangun sistem kesiapsiagaan berbasis masyarakat. Dengan adanya buku panduan manajemen kegawatdaruratan ibu hamil pada situasi bencana, kader dan tenaga kesehatan memiliki acuan yang lebih terarah dalam melakukan pendampingan, deteksi dini, hingga koordinasi penanganan. Harapannya, program ini dapat membantu menurunkan risiko Angka Kematian Ibu dan Anak di Desa Hutadaa," jelasnya.Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai manajemen kegawatdaruratan ibu hamil, pengenalan tanda bahaya kehamilan, prosedur respons cepat, pentingnya rujukan tepat waktu, hingga peran keluarga dan kader dalam memberikan pendampingan pada situasi darurat maupun bencana. Kegiatan juga berlangsung interaktif melalui diskusi dan berbagi pengalaman antarkader dalam menghadapi berbagai persoalan kesehatan ibu di lingkungan masing-masing.Program BUMIL TANGGUH menjadi salah satu implementasi nyata tema KKN Profesi Kesehatan UNG Tahun 2026 yang berfokus pada optimalisasi deteksi dini dan pendampingan kehamilan risiko tinggi sebagai upaya percepatan penurunan AKI dan AKA. Melalui kolaborasi antara mahasiswa, kader kesehatan, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat, UNG berharap terbentuk sistem pendampingan ibu hamil yang lebih tanggap, terkoordinasi, dan berkelanjutan.

GORONTALO – Inovasi pembelajaran karya dosen Fakultas Ilmu Pendidikan UNG, kembali mendapat panggung di tingkat internasional. Dosen Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Dr. Pupung Puspa Ardini, M.Pd., tampil sebagai pemakalah dalam Pacific Early Childhood Education Research Association (PECERA) Annual Conference 2026 yang berlangsung pada 10–12 Juli 2026 di Singapore University of Social Sciences (SUSS), Singapura.Konferensi internasional bergengsi tersebut mengusung tema “Early Childhood Care and Education in a Complex World: Supporting Agency, Diversity and Inclusion” dan mempertemukan para peneliti, akademisi, pendidik, serta praktisi pendidikan anak usia dini dari berbagai negara untuk berbagi hasil riset dan inovasi dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada perkembangan anak.Dalam forum ilmiah tersebut, Pupung mempresentasikan hasil penelitian berjudul “Bhinneka Magic Cube: The Introduction to Diversity Literacy Through Augmented Reality for Kindergarten”, sebuah inovasi media pembelajaran yang menggabungkan permainan edukatif dengan teknologi Augmented Reality (AR), untuk menanamkan nilai-nilai kebinekaan kepada anak usia dini.Penelitian tersebut merupakan hasil kolaborasi bersama Sri Rawanti, M.Pd., Arif Dwinanto, M.Pd., dan Hijrah Syahputra, M.Pd. yang berfokus pada pengembangan media pembelajaran interaktif sebagai sarana memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia sejak usia dini.Menurut Dr. Pupung, Bhinneka Magic Cube dirancang sebagai media pembelajaran, yang memadukan kubus edukatif dengan teknologi AR. Melalui proses pemindaian menggunakan perangkat digital, anak dapat mengakses berbagai konten interaktif, yang mengenalkan keberagaman suku, budaya, bahasa, agama, hingga kehidupan sosial masyarakat Indonesia secara menarik dan menyenangkan.“Anak-anak belajar melalui pengalaman yang konkret dan menyenangkan. Dengan memanfaatkan teknologi Augmented Reality, mereka dapat memahami keberagaman dengan cara yang lebih interaktif sesuai karakteristik belajar pada usia dini,” jelas Pupung.Pengembangan media tersebut menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) yang memastikan setiap tahapan dirancang secara sistematis, mulai dari analisis kebutuhan hingga evaluasi efektivitas media.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bhinneka Magic Cube memperoleh respons yang sangat positif. Berdasarkan hasil evaluasi, media ini meraih skor antara 83,40 hingga 87,40 persen pada berbagai aspek penilaian, meliputi tampilan, kreativitas, inovasi, kemudahan penggunaan, manfaat pembelajaran, hingga keamanan desain dan bahan.Hasil tersebut menunjukkan bahwa media ini memiliki potensi besar sebagai sarana efektif, dalam menanamkan nilai toleransi dan keberagaman kepada anak sejak usia dini. Pupung menegaskan bahwa penguatan literasi kebinekaan sejak masa kanak-kanak, merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter generasi masa depan.“Anak yang sejak dini diperkenalkan pada keberagaman akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih toleran, empatik, mampu bekerja sama, serta menghargai perbedaan. Teknologi dapat menjadi media yang efektif untuk mendukung proses tersebut, selama dimanfaatkan secara bijaksana dengan pendampingan guru dan orang tua,” ujarnya.Keikutsertaan akademisi FIP sebagai pemakalah dalam konferensi internasional tersebut menjadi bukti bahwa hasil riset dosen UNG, mampu berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat global. Sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi yang lahir dari UNG tidak hanya menjawab kebutuhan pendidikan di Indonesia, tetapi juga relevan dengan isu-isu strategis pendidikan anak usia dini di dunia. (**)

Aplikasi Hallo Stroke yang dikembangkan oleh tim peneliti Fakultas Kedokteran UNG hadir sebagai media edukasi dan layanan kesehatan untuk membantu masyarakat mengenali gejala stroke serta memperoleh penanganan lebih cepat dan tepat.

GORONTALO – Beragam inovasi pembelajaran hasil kreativitas mahasiswa UNG dipamerkan dalam Pameran Produk Program UNG Mengajar Batch 9 Wilayah Kabupaten Gorontalo, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LPMPP) UNG, Rabu (8/7), di SMP Negeri 3 Limboto Barat.Pameran ini menjadi ajang diseminasi berbagai luaran Program UNG Mengajar yang telah dijalankan selama satu semester di sekolah-sekolah mitra. Tidak sekadar menampilkan hasil karya, kegiatan ini juga menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan inovasi untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di Kabupaten Gorontalo.Pada pelaksanaan UNG Mengajar Batch 9, universitas menugaskan 217 mahasiswa untuk mengabdi di 19 sekolah mitra, yang terdiri atas jenjang SD, SMP, SMA, dan MA di Kabupaten Gorontalo. Selama berada di sekolah, para mahasiswa berkolaborasi dengan guru dalam mengembangkan berbagai metode dan media pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.Berbagai produk inovatif dipamerkan, mulai dari modul ajar Kurikulum Merdeka, media pembelajaran berbasis teknologi digital, alat peraga edukatif, perangkat pembelajaran interaktif, hingga program penguatan literasi dan pendidikan karakter. Seluruh karya tersebut merupakan hasil implementasi program yang telah diterapkan langsung di sekolah-sekolah mitra.Kepala LPMPP UNG, Prof. Dr. Elya Nusantari, M.Pd., menjelaskan bahwa pameran produk merupakan wadah untuk memperlihatkan berbagai inovasi yang telah dikembangkan mahasiswa selama mengikuti Program UNG Mengajar.Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi media publikasi hasil program, tetapi juga ruang berbagi pengalaman dan inspirasi antarmahasiswa, guru, maupun sekolah dalam mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih efektif.“Berbagai produk yang dipamerkan meliputi media pembelajaran, alat peraga edukatif, perangkat pembelajaran, serta hasil program kerja yang telah diterapkan di masing-masing sekolah. Melalui pameran ini, kami berharap inovasi yang dihasilkan dapat menjadi referensi bagi sekolah lain dan terus dikembangkan untuk meningkatkan mutu pendidikan,” ujar Elya.Suasana pameran berlangsung semarak dengan hadirnya 19 stan sekolah mitra yang menampilkan berbagai hasil karya mahasiswa bersama peserta didik. Pengunjung dapat melihat secara langsung media pembelajaran inovatif, proyek kolaboratif siswa, hingga dokumentasi kegiatan mahasiswa selama menjalankan program di sekolah.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi UNG, Dr. Harto Malik, M.Hum., mengapresiasi sinergi yang telah terbangun antara Universitas Negeri Gorontalo, Pemerintah Kabupaten Gorontalo, serta sekolah-sekolah mitra dalam menyukseskan Program UNG Mengajar.Ia berharap berbagai produk yang dihasilkan mahasiswa tidak berhenti sebagai hasil pameran semata, tetapi dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh sekolah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.“Diharapkan inovasi yang telah dihasilkan mahasiswa dapat terus digunakan dan disempurnakan oleh sekolah. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah seperti ini menjadi langkah strategis dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan di daerah," ungkap Harto.Apresiasi juga disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, Dr. Abd. Waris, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, kehadiran mahasiswa UNG Mengajar telah memberikan kontribusi positif bagi sekolah, terutama dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang mampu meningkatkan kreativitas guru dan peserta didik.“Semoga kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Gorontalo dan UNG dapat terus berlanjut, sehingga semakin banyak sekolah yang merasakan manfaat dari program tersebut,” harapnya.Melalui Pameran Produk UNG Mengajar Batch 9, Universitas Negeri Gorontalo kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi pendidikan yang berdampak langsung bagi sekolah dan masyarakat. Program ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat kualitas pendidikan melalui kolaborasi, kreativitas, dan pengabdian. (**)

GORONTALO – Siapa sangka tumpukan sabut kelapa yang selama ini hanya menjadi limbah tak berguna di sudut-sudut kebun warga Desa Dunggala, kini menjelma menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Itulah yang berhasil diwujudkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap I Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui program inovatif bertajuk GALAPEAT.Program yang resmi diluncurkan di Desa Dunggala, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango ini mengolah sabut kelapa menjadi cocopeat — media tanam organik yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.GALAPEAT merupakan salah satu program unggulan dalam kegiatan KKN Tematik bertema "Dunggala Digital Hub: Sinergi Multidisiplin dalam Branding Kearifan Lokal melalui Konten Edukasi Berbahasa Inggris untuk Global Marketing."Dari Limbah ke PeluangGALAPEAT lahir bukan sekadar dari ide di atas kertas. Program ini hadir sebagai jawaban nyata atas persoalan lingkungan sekaligus peluang ekonomi yang selama ini terlewatkan begitu saja oleh warga desa.Ketua tim KKN Tematik, Haris Danial, S.Pd., M.A., mengungkapkan bahwa, potensi besar desa ini selama ini tersembunyi di balik tumpukan sabut kelapa yang tak terurus."Sabut kelapa yang sebelumnya dianggap limbah ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui GALAPEAT, kami ingin mendorong masyarakat agar mampu mengembangkan potensi lokal sekaligus membangun identitas desa yang kuat berbasis kearifan lokal," ujar Haris.Program ini dipimpin oleh tim multidisiplin yang solid, terdiri atas Prof. Nonny Basalama, M.A., Ph.D., Muh. Rezky Friesta Payu, M.Si., dan Dr. Indri Wirahmi Bay, M.A. — membuktikan bahwa inovasi terbaik lahir dari kolaborasi lintas ilmu.Warga Belajar, Warga BerdayaTak hanya sekadar sosialisasi, program GALAPEAT mengajak langsung masyarakat, para petani, dan anggota Karang Taruna Desa Dunggala untuk terjun dalam proses produksi cocopeat dari awal hingga akhir.Dalam sesi pelatihan, peserta diperkenalkan pada berbagai manfaat cocopeat — mulai dari fungsinya sebagai media tanam ramah lingkungan yang menyerap air dengan baik, hingga peluangnya sebagai produk siap jual yang menjanjikan. Dengan terlibat langsung dalam proses produksi, warga tidak hanya menonton, tetapi benar-benar memahami dan menguasai keterampilan baru.Desa Inovatif Berbasis Kearifan LokalKehadiran GALAPEAT dan berbagai program pendampingan lainnya semakin menegaskan posisi Desa Dunggala sebagai desa yang inovatif, edukatif, dan berakar pada kearifan lokal. Lebih dari sekadar program pengabdian, GALAPEAT membuka babak baru bagi ekonomi kreatif desa — sebuah bukti bahwa mahasiswa tidak hanya datang untuk mengabdi, tetapi mampu meninggalkan jejak perubahan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

GORONTALO – Komitmen dalam mendukung pembangunan kesehatan masyarakat terus ditunjukkan Universitas Negeri Gorontalo (UNG), melalui pelaksanaan Coaching dan Pelepasan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan Tahun 2026. Sebanyak 448 mahasiswa dari berbagai program studi bidang kesehatan dan kedokteran resmi dilepas untuk mengabdi di tengah masyarakat dengan membawa misi besar menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Anak (AKA) di Kabupaten Gorontalo.Kegiatan KKN profesi kesehatan mengusung tema "Optimalisasi Deteksi Dini dan Pendampingan Kehamilan Risiko Tinggi sebagai Upaya Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Anak (AKA)". Tema tersebut menjadi landasan bagi mahasiswa untuk menghadirkan solusi nyata terhadap salah satu isu kesehatan yang masih menjadi tantangan di Indonesia.Selama kurang lebih satu setengah bulan, mulai 13 Juli hingga 26 Agustus 2026, para mahasiswa akan melaksanakan pengabdian di 28 desa yang tersebar di enam kecamatan di Kabupaten Gorontalo. Mereka akan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader kesehatan, hingga masyarakat dalam menjalankan berbagai program kesehatan berbasis kebutuhan lapangan.Kepala Pusat KKN UNG, Dr. Rosbin Pakaya, M.Pd., menjelaskan bahwa KKN Profesi Kesehatan tahun ini dirancang untuk memperkuat upaya promotif dan preventif melalui deteksi dini kehamilan risiko tinggi serta pendampingan ibu hamil.Mahasiswa akan melaksanakan berbagai program yang berfokus pada optimalisasi deteksi dini kehamilan risiko tinggi, pendampingan ibu hamil, edukasi kesehatan ibu dan anak, serta memperkuat kolaborasi dengan puskesmas, pemerintah desa, kader kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.“Melalui pendekatan tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam percepatan penurunan AKI dan AKA di Kabupaten Gorontalo,” jelas Rosbin.Menurutnya, pelaksanaan KKN Profesi Kesehatan juga menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mendukung program Diktisaintek Berdampak yang mendorong perguruan tinggi hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan pembangunan.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa KKN bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan momentum bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat."KKN Profesi Kesehatan merupakan wadah bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah sekaligus berkontribusi dalam menjawab berbagai persoalan kesehatan masyarakat. Melalui kolaborasi lintas disiplin, mahasiswa diharapkan mampu mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat, khususnya pada aspek kesehatan ibu dan anak," ungkap Hafidz.Ia menambahkan, coaching yang diberikan sebelum keberangkatan menjadi bekal penting bagi mahasiswa agar mampu memahami substansi program, mekanisme pelaksanaan KKN, etika pengabdian kepada masyarakat, hingga strategi menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan di lokasi penempatan."Dengan pembekalan yang matang, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan program secara profesional, adaptif, serta menghadirkan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat," tambahnya.

GORONTALO - Masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas tumbuh kembang anak di masa "emas" mereka. Menyadari hal tersebut, mahasiswa Pendidikan Profesi Ners Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggelar aksi nyata melalui penyuluhan kese...

GORONTALO - Sebagai daerah penghasil jagung terbesar di kawasan Timur Indonesia, Gorontalo sering kali dihadapkan pada masalah klasik: tumpukan limbah tongkol jagung yang hanya berakhir sebagai sampah atau bahan bakar tradisional. Namun, di tangan tim peneliti Universitas Negeri...

Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di Indonesia. Penyakit ini sering disebut sebagai silent killer karena berkembang tanpa gejala yang jelas, tetapi diam-diam dapat merusak organ vital. Jutaan orang hidup dengan tekanan darah tinggi tanpa menyadari bahwa kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal ginjal, hingga kematian mendadak.Selama ini, pengobatan hipertensi identik dengan konsumsi obat-obatan. Padahal, para ahli kini semakin menekankan pentingnya pendekatan yang lebih menyeluruh. Selain terapi medis, perubahan gaya hidup dan terapi komplementer dapat membantu menjaga tekanan darah tetap terkendali. Salah satu pendekatan yang mulai menarik perhatian adalah pijat kaki menggunakan minyak esensial lavender.Sebuah penelitian yang dilakukan oleh akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo memberikan bukti bahwa terapi sederhana ini berpotensi membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.Terapi Sederhana dengan Hasil MenjanjikanPenelitian dilakukan di Puskesmas Kabila dengan melibatkan 30 pasien hipertensi. Para peserta dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama mendapatkan terapi pijat kaki menggunakan minyak lavender selama 20 menit, sedangkan kelompok lainnya berperan sebagai kelompok kontrol yang tidak memperoleh perlakuan khusus.Hasil penelitian menunjukkan perubahan yang cukup menarik. Pada kelompok yang menerima terapi, rata-rata tekanan darah sistolik menurun dari 156,20 mmHg menjadi 150,20 mmHg. Sementara itu, tekanan darah diastolik turun dari 92 mmHg menjadi 81 mmHg.Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan tekanan darah yang berarti.Analisis statistik memperkuat temuan tersebut. Penurunan tekanan darah pada kelompok yang mendapatkan terapi terbukti signifikan dengan nilai p sebesar 0,001. Bahkan ketika dibandingkan langsung dengan kelompok kontrol, perbedaan hasilnya tetap bermakna secara statistik.Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi pijat kaki dan aromaterapi lavender memiliki potensi sebagai terapi pendamping dalam pengelolaan hipertensi.Mengapa Pijat Kaki Dapat Menurunkan Tekanan Darah?Sekilas, pijat kaki mungkin hanya dianggap sebagai aktivitas relaksasi. Namun, di balik sentuhan tersebut terjadi berbagai respons fisiologis yang memengaruhi kerja sistem saraf dan sistem peredaran darah.Ketika telapak kaki dipijat, reseptor saraf pada kulit menerima rangsangan yang kemudian diteruskan ke sistem saraf pusat. Respons ini membantu menekan aktivitas sistem saraf simpatis, yaitu bagian dari sistem saraf yang bekerja lebih aktif ketika seseorang mengalami stres, cemas, atau berada dalam kondisi tertekan.Saat aktivitas saraf simpatis menurun, pembuluh darah menjadi lebih rileks sehingga aliran darah mengalir lebih lancar. Pada saat yang sama, denyut jantung juga cenderung melambat. Kombinasi kedua proses tersebut berkontribusi terhadap penurunan tekanan darah.Lavender Menambah Efek RelaksasiEfek pijatan dalam penelitian ini diperkuat oleh penggunaan minyak lavender.Lavender telah lama dikenal sebagai salah satu tanaman aromatik yang memiliki efek menenangkan. Minyak esensialnya mengandung senyawa aktif seperti linalool dan linalyl acetate, yang diketahui mampu memberikan sensasi relaksasi pada tubuh.Saat aroma lavender dihirup, sistem penciuman mengirimkan sinyal ke bagian otak yang mengatur emosi dan respons terhadap stres. Proses ini membantu menurunkan produksi hormon stres seperti kortisol dan norepinefrin yang selama ini diketahui berperan dalam meningkatkan tekanan darah.Dengan demikian, terapi ini bekerja melalui dua jalur sekaligus: sentuhan fisik melalui pijatan dan stimulasi psikologis melalui aromaterapi. Kombinasi keduanya menciptakan efek relaksasi yang lebih optimal dibandingkan hanya menggunakan salah satu metode saja.Terapi Pendamping, Bukan Pengganti ObatTemuan ini menjadi kabar baik, terutama bagi penderita hipertensi yang mengalami kesulitan menjalani pengobatan secara rutin. Tidak sedikit pasien yang menghentikan konsumsi obat karena efek samping, keterbatasan biaya, atau sulit menjangkau fasilitas kesehatan.Dalam kondisi tersebut, terapi sederhana seperti pijat kaki dapat menjadi alternatif pendamping yang relatif murah, mudah dilakukan, dan memberikan rasa nyaman bagi pasien.Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa terapi ini bukanlah pengganti obat antihipertensi. Pengobatan yang diresepkan dokter tetap menjadi terapi utama untuk mengendalikan tekanan darah.Pijat kaki dengan minyak lavender lebih tepat diposisikan sebagai bagian dari pendekatan komplementer yang melengkapi pengobatan medis, bersama pola makan sehat, aktivitas fisik yang cukup, pengelolaan berat badan, dan pengendalian stres.Menuju Penanganan Hipertensi yang Lebih HolistikHasil penelitian ini memberikan pesan penting bahwa penanganan hipertensi sebaiknya tidak hanya berfokus pada pemberian obat.Edukasi mengenai pola hidup sehat, manajemen stres, aktivitas fisik, hingga pemanfaatan terapi relaksasi berbasis bukti ilmiah perlu menjadi bagian dari pelayanan kesehatan, termasuk di tingkat puskesmas.Pendekatan yang lebih holistik diyakini mampu meningkatkan kualitas hidup penderita hipertensi sekaligus membantu menurunkan risiko komplikasi jangka panjang.Menjaga tekanan darah tidak selalu membutuhkan langkah yang rumit. Kadang, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan. Meluangkan waktu sekitar dua puluh menit untuk relaksasi melalui pijat kaki dengan aromaterapi, disertai pola hidup sehat dan pengobatan yang tepat, dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu menjaga kesehatan jantung. Sebab, kesehatan bukan hanya ditentukan oleh angka pada alat pengukur tekanan darah, tetapi juga oleh kemampuan kita merawat tubuh dan mengelola stres dalam kehidupan sehari-hari.

Ancaman kegagalan panen akibat serangan hama dan penyakit adalah momok abadi bagi petani jagung. Keterbatasan petugas penyuluh lapangan dan minimnya pengetahuan seringkali berujung pada diagnosis yang keliru, membuat pengelolaan tanaman tidak tepat dan berakibat fatal pada produk...

Bone Bolango – Pemerintah Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, secara resmi menerima mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Sabtu, 20 Juni 2026.Penerimaan mahasiswa berlangsung di Desa Botutonuo dan dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), pemerintah desa, serta mahasiswa peserta KKN Kolaboratif UNG–UGM yang akan melaksanakan pengabdian selama 45 hari di desa tersebut.Tim DPL KKN Kolaboratif terdiri atas Ervan Hasan Harun selaku ketua, didampingi Rosbin Pakaya dan Jumiati Ilham. Program KKN di Desa Botutonuo mengusung tema pengembangan Desa Wisata Mandiri Energi berbasis tenaga surya untuk mendukung sport tourism berkelanjutan dan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di Desa Botutonuo.Kepala Desa Botutonuo, Nuzzul Abdul Radjak, menyampaikan apresiasi dan menyambut baik kehadiran mahasiswa KKN Kolaboratif di wilayahnya. Ia menyatakan bahwa pemerintah desa menerima dengan terbuka pelaksanaan program tersebut dan berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.Sementara itu, Ketua DPL KKN Kolaboratif, Ervan Hasan Harun, menjelaskan bahwa program yang akan dijalankan berorientasi pada pengembangan potensi Desa Botutonuo sebagai desa wisata yang berkelanjutan melalui penguatan sport tourism, ekonomi kreatif, pemasaran digital, serta pemanfaatan energi surya sebagai energi ramah lingkungan. Program ini juga melibatkan mahasiswa lintas disiplin ilmu untuk mendukung pembangunan desa berbasis potensi lokal.Melalui pelaksanaan KKN Kolaboratif ini, diharapkan terbangun sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata pesisir Desa Botutonuo sekaligus menghasilkan berbagai luaran yang dapat menjadi dasar pengembangan kawasan wisata berkelanjutan di masa mendatang. Program ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung pembangunan kawasan Teluk Tomini melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi kreatif, dan pemanfaatan energi terbarukan.

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menunjukkan komitmennya, dalam mendukung pembangunan masyarakat melalui program pengabdian. Sebanyak 38 mahasiswa resmi dilepas untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif UNG–UGM Tahun 2026 yang mengusung tema “Mewujudkan Desa Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan Berbasis Potensi Lokal.”Program kolaboratif yang melibatkan Universitas Negeri Gorontalo dan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat desa melalui penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.Kegiatan coaching dan pelepasan peserta berlangsung secara resmi dengan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, S.Pi., M.Si. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa dibekali berbagai pengetahuan dan keterampilan yang akan menjadi bekal selama menjalankan pengabdian di tengah masyarakat.Kepala Pusat KKN UNG, Dr. Rosbin Pakaya, M.Pd., menjelaskan bahwa para peserta akan melaksanakan program pengabdian di lima desa yang tersebar pada tiga kecamatan di dua kabupaten. Melalui KKN kolaboratif ini, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi dalam pengembangan desa berbasis potensi lokal sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.“Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta KKN, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan inovasi dan solusi bagi berbagai persoalan di desa,” ujar Rosbin.Menurutnya, program ini dirancang untuk memperkuat peran mahasiswa dalam mendukung pembangunan desa melalui pendekatan yang terintegrasi, mulai dari pengembangan ekonomi lokal, transformasi digital, pemberdayaan masyarakat, hingga pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.Dalam arahannya, Prof. Abdul Hafidz Olii, M.Si., menegaskan bahwa KKN merupakan sarana pembelajaran yang sangat penting bagi mahasiswa. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat, mahasiswa dapat memahami berbagai dinamika sosial sekaligus mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.“KKN memberikan pengalaman nyata yang tidak diperoleh di ruang kelas. Mahasiswa harus mampu membangun sinergi dengan pemerintah desa dan masyarakat untuk merancang program yang memberikan manfaat jangka panjang,” ungkap Hafidz.Ia juga menekankan bahwa kegiatan coaching sebelum keberangkatan menjadi bagian penting untuk memastikan mahasiswa siap menghadapi tantangan di lapangan. Berbagai materi pembekalan diberikan, mulai dari strategi pemberdayaan masyarakat, pemetaan potensi desa, penguatan ekonomi berbasis lokal, transformasi digital, hingga pembangunan berkelanjutan.

GORONTALO – Ketika mendengar kata daun pandan, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan aroma harum pada nasi, kue, atau minuman tradisional. Selama ini, tanaman bernama ilmiah Pandanus amaryllifolius itu memang lebih dikenal sebagai penyedap alami dalam berbagai hidangan khas Nusantara. Namun, siapa sangka bahwa tanaman yang akrab di dapur ini ternyata menyimpan potensi besar di bidang kesehatan?Temuan menarik tersebut diungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh Mohamad A. Paneo bersama tim peneliti yang terdiri atas Nurain Thomas, Fika N. Ramadhani, Multiani S. Latif, Faradila R. Moo, Lisa E. Puluhulawa, Intan Nusi, dan Angreni Ayuhastuti. Penelitian ini mengkaji pengembangan gel berbahan ekstrak daun pandan sebagai kandidat terapi topikal untuk membantu penyembuhan luka bakar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun pandan tidak sekadar menghadirkan aroma khas, tetapi juga memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung proses regenerasi jaringan kulit.Luka Bakar dan Tantangan PenanganannyaLuka bakar merupakan salah satu cedera yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik akibat kecelakaan rumah tangga, paparan panas, maupun bahan kimia. Pada kasus luka bakar derajat dua, kerusakan tidak hanya terjadi pada lapisan kulit terluar, tetapi juga mencapai lapisan di bawahnya.Proses penyembuhan luka bakar memerlukan penanganan yang tepat karena luka yang terbuka rentan mengalami infeksi bakteri. Jika tidak ditangani dengan baik, infeksi dapat memperlambat penyembuhan bahkan menyebabkan komplikasi yang lebih serius.Karena itu, pengembangan bahan alami yang aman, efektif, dan mudah diperoleh menjadi salah satu fokus penelitian di bidang farmasi modern.Mengubah Daun Pandan Menjadi Gel Penyembuh LukaDalam penelitian ini, para peneliti menggunakan ekstrak etanol 70 persen daun pandan yang kemudian diformulasikan menjadi gel topikal. Tiga formulasi disiapkan dengan konsentrasi ekstrak berbeda, yaitu 30 persen, 35 persen, dan 40 persen.Setiap formulasi diuji secara menyeluruh untuk menilai kualitas dan kestabilannya. Beberapa parameter yang diamati meliputi tingkat keasaman (pH), viskositas atau kekentalan gel, serta kestabilan selama penyimpanan pada berbagai kondisi suhu.Hasilnya cukup menggembirakan. Seluruh formulasi menunjukkan karakteristik fisik yang stabil dan memenuhi kriteria yang dibutuhkan untuk sediaan gel pada kulit. Artinya, formulasi tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai produk farmasi berbasis bahan alam.Aman bagi KulitSelain efektivitas, aspek keamanan juga menjadi perhatian utama dalam pengembangan produk kesehatan. Untuk itu, peneliti melakukan uji iritasi guna melihat apakah gel dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan pada kulit.Selama masa pengamatan, tidak ditemukan tanda-tanda kemerahan maupun pembengkakan pada area aplikasi. Temuan ini menunjukkan bahwa formulasi gel ekstrak daun pandan memiliki kompatibilitas yang baik terhadap kulit dalam kondisi penelitian yang dilakukan.Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa pengujian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan keamanan penggunaan jangka panjang pada manusia.Konsentrasi Lebih Tinggi, Penyembuhan Lebih CepatSalah satu hasil paling menarik dari penelitian ini adalah kemampuan gel daun pandan dalam mendukung penyembuhan luka bakar.Pada model praklinis yang digunakan, formulasi dengan konsentrasi ekstrak 40 persen menunjukkan proses penutupan luka yang lebih cepat dibandingkan formulasi berkonsentrasi lebih rendah maupun kelompok pembanding.Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun pandan, semakin besar pula potensi efektivitasnya dalam mendukung regenerasi jaringan kulit.Namun, para peneliti mengingatkan bahwa hubungan tersebut masih perlu dikaji lebih mendalam melalui penelitian lanjutan untuk memahami mekanisme biologis yang mendasarinya.Rahasia di Balik Khasiat Daun PandanApa yang membuat daun pandan berpotensi membantu penyembuhan luka?Jawabannya terletak pada kandungan senyawa bioaktif yang dimilikinya. Daun pandan diketahui mengandung flavonoid, tanin, dan polifenol—kelompok senyawa yang telah lama dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.Antioksidan berfungsi melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, sedangkan sifat antiinflamasi membantu meredakan peradangan yang sering muncul selama proses penyembuhan luka.Kombinasi kedua aktivitas ini diduga berperan penting dalam mempercepat regenerasi jaringan kulit yang mengalami kerusakan.Melawan Bakteri Penyebab InfeksiTidak hanya membantu penyembuhan, gel ekstrak daun pandan juga menunjukkan aktivitas antibakteri.Penelitian menguji kemampuan gel dalam menghambat pertumbuhan dua bakteri yang sering menyebabkan infeksi luka, yaitu Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.Hasilnya menunjukkan bahwa formulasi gel mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri tersebut, dengan efek yang lebih kuat terhadap Staphylococcus aureus.Temuan ini membuka peluang baru bagi pemanfaatan daun pandan sebagai sumber senyawa antimikroba alami untuk pengembangan produk perawatan luka di masa depan.Dari Tanaman Tradisional Menuju Inovasi FarmasiMeskipun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa seluruh temuan masih berada pada tahap praklinis. Sebelum dapat digunakan secara luas dalam layanan kesehatan, formulasi ini masih memerlukan serangkaian penelitian lanjutan, termasuk uji klinis pada manusia dan evaluasi keamanan jangka panjang.Namun demikian, studi ini memberikan gambaran bahwa kekayaan hayati Indonesia menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tergali. Tanaman sederhana yang selama ini digunakan sebagai pewangi makanan ternyata memiliki peluang untuk berkembang menjadi produk kesehatan bernilai tinggi.Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa inovasi sering kali berawal dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Daun pandan yang biasa hadir di dapur keluarga Indonesia kini menunjukkan potensi untuk melangkah lebih jauh—dari penyedap masakan menuju kandidat terapi penyembuhan luka berbasis bahan alam.(Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

Gorontalo – Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Gorontalo menyelenggarakan Webinar Kebencanaan SIGAP NUSA (Sinergi Generasi Adaptif Penanggulangan Bencana Nusantara) dengan tema “Dari Gorontalo untuk Indonesia: Membangun Tenaga Kesehatan yang Adaptif, Responsif, dan Tanggap Bencana.” Kegiatan yang digelar secara daring pada Minggu 14 Juni 2026 tersebut diikuti oleh 808 peserta dari 122 instansi di berbagai daerah di Indonesia.Ketua Panitia, Dr. dr. Zuhriana K. Yusuf, M.Kes, dalam laporannya menyampaikan bahwa webinar ini merupakan bagian dari komitmen FK UNG dalam bidang kegawatdaruratan dan kebencanaan yang menjadi salah satu keunggulan institusi.“Webinar kebencanaan diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran UNG dan IDI Wilayah Gorontalo. FK UNG menyelenggarakan kegiatan ini karena keunggulan FK UNG adalah kegawatdaruratan dan bencana,” ujarnya.Ia menjelaskan bahwa para pemateri yang hadir merupakan mitra yang selama ini telah menjalin kerja sama dengan FK UNG dalam berbagai program pengembangan kapasitas kebencanaan.“Partisipasi pemateri pada hari ini adalah rata-rata yang sudah menjalin kerja sama dengan FK UNG,” katanya.Menurut Zuhriana, FK UNG selama ini aktif berkontribusi dalam berbagai respons kebencanaan di Provinsi Gorontalo maupun daerah lain. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari pengabdian institusi dalam mendukung upaya penanggulangan bencana.“Beberapa kegiatan FK yang sudah dilaksanakan untuk memberikan kontribusi pada kebencanaan yaitu turun serta dalam segala tanggap darurat bencana di Provinsi Gorontalo,” ungkapnya.Ia berharap materi yang disampaikan dalam webinar dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat luas, khususnya tenaga kesehatan.“Kami dari panitia sangat berharap materi ini menjadi edukasi bagi seluruh masyarakat, terutama bagi tenaga kesehatan yang bisa mampu nantinya akan lebih siap menghadapi bencana,” tuturnya.Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., dalam sambutannya menegaskan bahwa kesiapsiagaan terhadap bencana merupakan kebutuhan penting, terutama bagi generasi muda.“Tentu, terkait dengan tanggap bencana ini merupakan sebuah kebutuhan buat kita terutama juga generasi muda saat ini. Kenapa dikatakan demikian, karena berkali-kali kita sudah diingatkan pada saat ketika ada bencana, baik itu di Gorontalo atau wilayah Indonesia, kita menunjukkan penyikapan untuk mengatasi bencana dengan baik. Tetapi untuk waspada terhadap bencana itu terkadang yang harus lebih kita tingkatkan. Artinya bagaimana kita merespon, kita mempersiapkan terutama mulai dari segi peringatan dan sebagainya. Tentu ini perlu untuk terus diingatkan dan dibangun kesadaran ini terkait dengan kesadaran untuk tanggap bencana karena jauh lebih baik kita sudah bisa mempersiapkan diri sebelum bencana itu datang daripada ketika saat bencana sudah datang, tentu effort-nya akan lebih besar,” ujar Eduart.Menurutnya, kegiatan edukatif seperti webinar memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat.“Lewat kegiatan webinar seperti ini tentu akan memberikan pemahaman keilmuan dan wawasan buat kita semua terkait penyikapan kita terhadap bencana. Karena lazimnya bencana pasti sudah didahului dengan pertanda, peringatan dan sebagainya. Kemudian bagaimana pola atau alur kita menyikapi terhadap bencana itu, ini yang memang harus lebih terus kita share ke semua pihak agar kita siap,” katanya.Ia menambahkan bahwa perubahan iklim global menyebabkan pola bencana semakin dinamis dan sulit diperkirakan, sehingga diperlukan respons yang lebih adaptif dari seluruh elemen masyarakat.“Karena sebagaimana kita ketahui dengan perubahan iklim yang sedang melanda dunia saat ini, terkadang bencana itu bisa datang dengan tiba-tiba dan juga tidak sebagaimana siklus yang lazimnya kita perhitungkan. Tentu dengan dinamika kebencanaan seperti ini, dibutuhkan respon dari kita juga yang lebih adaptif terhadap dinamika bencana yang saat ini kita hadapi,” lanjutnya.Dalam kesempatan tersebut, Eduart juga menyoroti kontribusi FK UNG dalam berbagai misi kemanusiaan dan penanganan bencana di tingkat nasional.“Kita ketahui bersama Fakultas Kedokteran UNG juga menitikberatkan keunggulannya terhadap tanggap kedaruratan bencana dan itu sudah kita tunjukkan dengan ikut berpartisipasi secara aktif di berbagai musibah bencana yang terjadi di wilayah Indonesia, bahkan kemarin sampai ke Aceh pun kita ikut terlibat. Tentu ini merupakan bentuk respon positif daripada FK UNG dan juga Universitas Negeri Gorontalo terhadap kondisi kebencanaan,” ungkapnya.Ia berharap webinar ini menjadi awal dari kolaborasi dan pertukaran pengetahuan yang lebih luas terkait kebencanaan.“Dan ke depan tentu dengan adanya webinar yang saya yakin ini bukan webinar yang terakhir tetapi ini merupakan awal dari sharing-sharing kita ke depan terkait penyikapan kita akan kebencanaan ini menjadi sangat penting. InsyaAllah dengan ini kita bisa lebih responsif adaptif terhadap bencana dan tentunya tujuan akhirnya selain membantu pemulihan lebih cepat, tetapi yang tidak kalah penting adalah memitigasi korban kebencanaan yang lebih minim, tentu itu harapan kita semua,” tutupnya.Webinar menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya Plt. Deputi Bidang Pencegahan BNPB Drs. Pangarso Suryotomo, M.M.B., Ketua Tim Kerja Tanggap Darurat dan Klaster Kesehatan Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Budiman, SKM., M.Kes., Ketua Lembaga Kemanusiaan dan Tanggap Bencana PB IDI dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, Sp.B., serta Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas II Gorontalo Dr. Andri Wijaya Bidang S.Si., M.Si.Materi yang disampaikan mencakup penguatan sistem tenaga cadangan kesehatan, peran organisasi profesi dalam respons kemanusiaan, hingga potensi ancaman gempa bumi dan tsunami di Gorontalo. Para pemateri menekankan pentingnya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, kolaborasi lintas sektor, serta literasi kebencanaan sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko korban dan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai ancaman bencana.

GORONTALO — Di balik ketenangan Danau Limboto yang membentang di jantung Provinsi Gorontalo, tersimpan kekayaan hayati yang selama ini belum banyak dikenal masyarakat luas. Salah satunya adalah ikan Hulu'u — ikan lokal yang kini mulai menarik perhatian dunia ilmu pengetahuan karena potensinya dalam mendukung proses penyembuhan luka.Pada Rabu (10/6), dosen Jurusan Farmasi Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo (FOK UNG) hadir langsung ke SMA Negeri 1 Paguyaman untuk memperkenalkan potensi luar biasa ikan lokal ini kepada para siswa melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat .Siapa sangka ikan yang hidup di Danau Limboto ini menyimpan kandungan istimewa? Ikan Hulu'u atau Giuris margaritacea ternyata kaya akan albumin — sejenis protein yang memiliki peran penting dalam proses regenerasi jaringan tubuh.Dalam sesi edukasi tersebut, para siswa diajak memahami bagaimana albumin yang terkandung dalam ikan Hulu'u dapat berpotensi mendukung proses penyembuhan luka bakar dan luka terbuka, membantu mengurangi peradangan, dan menunjang pemulihan jaringan tubuh secara alami. Sebuah temuan yang tidak hanya menarik secara ilmiah, tetapi juga sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Gorontalo sehari-hari.Ketua tim pengabdian, Apt. Mohomad Aprianto Paneo, M.Farm., menjelaskan bahwa kegiatan ini lahir dari keinginan, untuk mendekatkan ilmu pengetahuan dengan potensi lokal yang ada di sekitar masyarakat Gorontalo. Melalui kegiatan pengabdian ini, akademisi UNG ingin memberikan edukasi kepada siswa bahwa Gorontalo memiliki sumber daya lokal yang potensial, salah satunya ikan Hulu'u dari Danau Limboto.“Kandungan albumin pada ikan ini menjadi hal menarik untuk dikenalkan karena memiliki peran penting dalam mendukung proses regenerasi jaringan dan penyembuhan luka,” ujarnya.Ia juga menekankan bahwa pengenalan potensi ikan lokal kepada siswa merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran ilmiah sejak dini, sekaligus mengajak generasi muda tidak hanya mengenal kekayaan hayati daerahnya, tetapi juga memahami bagaimana ilmu farmasi dan kesehatan dapat mengkaji dan mengembangkan manfaat bahan alam bagi masyarakat.Suasana kegiatan berlangsung hidup dan penuh semangat. Para siswa SMA Negeri 1 Paguyaman terlihat antusias mengikuti pemaparan materi, mengajukan pertanyaan, dan berdiskusi tentang ikan Hulu'u, kandungan albumin, serta kaitannya dengan proses penyembuhan luka — topik yang terasa baru namun langsung menyentuh kehidupan nyata mereka.“Seluruh tim berharap para siswa kelak memahami bahwa potensi daerah bukan hanya kekayaan yang perlu dijaga, tetapi juga ilmu yang bisa dikembangkan untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” pungkasnya. (**)

GORONTALO – Ruang pertemuan Desa Lobuto Timur, Kecamatan Biluhu, Kabupaten Gorontalo tampak hidup pada Jumat (6/6). Warga desa berkumpul bukan untuk rapat biasa — melainkan untuk mengikuti sesi edukasi yang menyentuh isu paling mendasar dalam kehidupan mereka: keluarga.Dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo (FIP UNG), Mohamad Awal Lakadjo, M.Pd., hadir langsung ke tengah masyarakat membawa pengetahuan sekaligus semangat pengabdian dalam kegiatan bertema "Penguatan Kesadaran Sosial Masyarakat Desa Lobuto Timur Melalui Layanan Bimbingan dan Konseling."Kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen dosen FIP UNG dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi — khususnya pilar pengabdian kepada masyarakat. Universitas bukan hanya tempat belajar di balik tembok kelas, tetapi juga agen perubahan yang hadir langsung di tengah kehidupan nyata masyarakat.Dalam sesi tersebut, Mohamad Awal Lakadjo membawakan materi bertajuk "Hidup Berkeluarga yang Sehat" — sebuah kajian mendalam yang membahas berbagai aspek vital kehidupan keluarga, mulai dari: Pernikahan yang sehat dan bertanggung jawab, Membangun keluarga yang harmonis, Peran dan tanggung jawab setiap anggota keluarga hingga Strategi menghadapi tantangan dalam kehidupan rumah tangga.Bagi Mohamad Awal Lakadjo, keluarga bukan sekadar unit terkecil masyarakat — ia adalah pondasi utama yang menentukan kualitas karakter individu dan kesehatan kehidupan sosial secara keseluruhan."Ketahanan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan masyarakat yang harmonis. Ketika keluarga mampu menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik, maka lingkungan sosial yang sehat dan produktif juga akan lebih mudah terwujud," tuturnya.Oleh karena itu, setiap anggota keluarga perlu membangun komunikasi yang sehat, saling menghargai, dan menjalankan tanggung jawab masing-masing dengan penuh kesadaran.Materi yang disampaikan rupanya menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Para peserta terlihat antusias mengikuti sesi diskusi — berbagi pengalaman, mengajukan pertanyaan, dan saling bertukar cerita tentang dinamika kehidupan keluarga yang mereka hadapi sehari-hari.Melalui kegiatan ini, Mohamad Awal Lakadjo berharap benih kesadaran yang ditanam hari ini akan tumbuh menjadi perubahan yang berkelanjutan — masyarakat yang semakin memahami pentingnya membangun keluarga harmonis, bertanggung jawab, dan sejahtera sebagai fondasi terciptanya kehidupan sosial yang lebih peduli, kuat, dan berkualitas.Salah seorang warga mengungkapkan bahwa edukasi ini sangat relevan karena memberikan pemahaman praktis tentang cara membangun hubungan keluarga yang harmonis dan bertanggung jawab — sesuatu yang dibutuhkan namun jarang mereka dapatkan sebelumnya.Kegiatan ini bukan kerja sendiri. Program pengabdian ini merupakan bagian dari proyek kolaboratif Mata Kuliah BK di Masyarakat, BK Sosial, dan Kearifan Lokal yang diampu oleh Dr. Ilham Khairi Siregar, S.Pd., M.Pd. dan Mohamad Rizal Pautina, S.Pd., M.Pd.Lebih istimewa lagi, program ini melibatkan langsung mahasiswa BK FIP UNG Angkatan 2023 dan 2025 bersama para remaja Desa Lobuto Timur — menjadikannya sebuah pembelajaran berbasis pengabdian yang nyata, bukan sekadar teori di dalam kelas.