
Magang Berdampak
Program magang untuk menyiapkan lulusan yang adaptif, siap kerja, dan terhubung dengan kemitraan lintas sektor.
Selengkapnya
Diktisaintek Berdampak adalah gerakan strategis pendidikan tinggi untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan pembangunan bangsa melalui ilmu pengetahuan, teknologi, riset, inovasi, dan pengabdian.
Bagi Universitas Negeri Gorontalo, semangat ini memperkuat peran kampus sebagai ruang belajar, pusat pengetahuan, dan mitra pembangunan yang menghasilkan manfaat langsung bagi Gorontalo, kawasan Teluk Tomini, dan Indonesia.
Program unggulan menjadi jalur bagi mahasiswa, dosen, organisasi kemahasiswaan, dan mitra untuk mengembangkan kapasitas sekaligus memberi kontribusi langsung.

Program magang untuk menyiapkan lulusan yang adaptif, siap kerja, dan terhubung dengan kemitraan lintas sektor.
Selengkapnya
Penguatan kapasitas organisasi kemahasiswaan melalui pembinaan, pengabdian, dan pemberdayaan masyarakat.
Selengkapnya
Dukungan pengembangan usaha mahasiswa melalui pendanaan, pendampingan, dan pelatihan usaha.
Selengkapnya
Akselerasi gagasan kreatif dan inovatif mahasiswa untuk berkontribusi pada ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Selengkapnya
Jalur percepatan akademik bagi sarjana unggul untuk menempuh pendidikan magister menuju doktor.
Selengkapnya
Kolaborasi sosial yang menghubungkan riset, inovasi, dan kebutuhan masyarakat agar solusi kampus lebih aplikatif.
Selengkapnya
Buah jamblang yang dikenal dengan warna ungu gelap dan rasa khasnya berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan alami untuk meningkatkan karakteristik pangan fermentasi. Penelitian yang melibatkan dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan bahwa penambahan ekstrak buah jamblang (Syzygium cumini) dapat meningkatkan aktivitas antioksidan dan memengaruhi sejumlah karakteristik kefir susu kambing.Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah berjudul “Functional Enhancement of Goat Milk Kefir through Syzygium cumini Polyphenol Enrichment”. Penelitian ini melibatkan Agus Bahar Rachman dan Marleni Limonu dari Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Negeri Gorontalo, bersama Lukman Hakim dan Nicolays Jambang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Abdul Manab dan Premy Puspitawati Rahayu dari Universitas Brawijaya.Penelitian ini berangkat dari upaya mengembangkan pangan fermentasi yang tidak hanya memiliki nilai gizi, tetapi juga mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan manfaat tambahan. Salah satu produk yang menarik untuk dikembangkan adalah kefir, minuman fermentasi susu yang dihasilkan melalui aktivitas mikroorganisme, termasuk bakteri asam laktat dan khamir.Selama fermentasi, mikroorganisme tersebut berperan dalam mengubah komponen susu dan membentuk karakteristik produk. Pengembangan kefir dengan menambahkan bahan alami yang kaya senyawa bioaktif menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan kualitas produk fermentasi.Buah jamblang dipilih karena mengandung senyawa polifenol, termasuk kelompok antosianin, flavonoid, dan tanin. Polifenol dikenal memiliki aktivitas antioksidan, yakni kemampuan untuk menangkal radikal bebas dalam pengujian tertentu. Kandungan tersebut menjadikan jamblang menarik untuk diteliti sebagai bahan tambahan alami pada produk pangan.Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan susu kambing yang diperoleh dari peternakan lokal di Provinsi Gorontalo. Ekstrak buah jamblang kemudian ditambahkan ke dalam kefir dengan empat perlakuan konsentrasi, yaitu tanpa ekstrak sebagai kontrol, serta penambahan ekstrak sebanyak 1 persen, 1,5 persen, dan 2 persen. Seluruh perlakuan difermentasi selama 24 jam pada suhu sekitar 25 derajat Celsius.Sampel yang dihasilkan selanjutnya dianalisis untuk mengetahui sejumlah karakteristik, mulai dari kandungan protein, aktivitas antioksidan, jumlah bakteri asam laktat, komposisi asam amino dan asam lemak, hingga struktur mikro produk. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat perubahan kefir secara lebih menyeluruh setelah penambahan ekstrak jamblang.Hasilnya menunjukkan bahwa penambahan ekstrak jamblang meningkatkan aktivitas antioksidan kefir. Pada sampel tanpa ekstrak, kapasitas antioksidan tercatat sebesar 0,80 miligram ekuivalen Trolox per gram. Nilai tersebut meningkat menjadi 1,09 pada konsentrasi ekstrak 1 persen, 1,46 pada konsentrasi 1,5 persen, dan mencapai 2,16 miligram ekuivalen Trolox per gram pada konsentrasi 2 persen.Peningkatan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang ditambahkan dalam rentang perlakuan penelitian, semakin tinggi pula kapasitas antioksidan yang terukur. Meski demikian, hasil tersebut merupakan pengukuran aktivitas antioksidan dalam sampel dan belum dapat langsung diartikan sebagai bukti bahwa konsumsi kefir tersebut memberikan efek kesehatan tertentu pada manusia.Perubahan juga ditemukan pada kandungan protein. Kefir tanpa ekstrak memiliki kadar protein sebesar 2,54 persen, sedangkan kefir dengan penambahan ekstrak 1,5 persen mencapai 3,42 persen. Pada konsentrasi 2 persen, kadar protein tercatat sebesar 3,39 persen. Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan ekstrak berpengaruh signifikan terhadap kadar protein, sementara perubahan kadar lemak, pH, dan viskositas tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik.Selain itu, ekstrak jamblang memengaruhi jumlah bakteri asam laktat dalam kefir. Pada sampel kontrol, jumlah bakteri tercatat sekitar 7,59 log CFU per mililiter, sedangkan pada penambahan ekstrak 2 persen meningkat menjadi sekitar 8,50 log CFU per mililiter. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak jamblang dapat digunakan dalam proses fermentasi kefir pada kondisi yang diuji tanpa menghambat pertumbuhan bakteri asam laktat. Namun, penelitian ini belum memastikan mekanisme yang menyebabkan peningkatan tersebut.Peneliti juga menemukan perubahan pada profil asam amino dan sejumlah jenis asam lemak. Beberapa asam amino, termasuk lisin dan kelompok glutamat-glutamin, menunjukkan peningkatan pada perlakuan dengan konsentrasi ekstrak lebih tinggi. Pengamatan menggunakan mikroskop konfokal juga memperlihatkan bahwa sampel kefir yang ditambahkan ekstrak memiliki struktur yang cenderung lebih rapat dan lebih merata dibandingkan sampel kontrol.Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengayaan ekstrak jamblang tidak hanya berkaitan dengan peningkatan aktivitas antioksidan, tetapi juga disertai perubahan pada sejumlah karakteristik kimia, mikrobiologis, dan struktur kefir. Perlakuan dengan konsentrasi 1,5 persen dan 2 persen menunjukkan pola karakteristik yang relatif serupa dalam analisis multivariat, meskipun hasil penelitian belum menetapkan satu konsentrasi sebagai formulasi terbaik untuk seluruh kebutuhan pengembangan produk.Penelitian ini membuka peluang pemanfaatan buah jamblang sebagai bahan alami dalam inovasi pangan fermentasi berbasis potensi lokal. Pengembangan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah bahan pangan melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi pengolahan pangan.Meski demikian, para peneliti menegaskan perlunya penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi senyawa fenolik secara lebih terperinci, memahami mekanisme interaksi antara ekstrak jamblang dan komponen susu, serta mengevaluasi penerimaan sensori dan umur simpan produk. Aspek-aspek tersebut penting untuk mengetahui sejauh mana hasil penelitian dapat diterapkan dalam pengembangan produk pangan yang konsisten dan sesuai dengan kebutuhan konsumen.Artikel penelitian dipublikasikan pada tautan berikut

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap II Tahun 2026 Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mendorong penguatan tata kelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Luwoo melalui penerapan akuntansi manajemen berbasis kearifan lokal. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan usaha desa guna mendukung ketahanan pangan keluarga dan pengembangan usaha produktif masyarakat.Program pengabdian tersebut mengangkat tema “Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga melalui Strategi Implementasi Akuntansi Manajemen Berbasis Kearifan Lokal bagi BUMDes di Desa Luwoo”. Kegiatan ini berfokus pada penguatan sistem pengelolaan keuangan dan usaha BUMDes agar program ketahanan pangan dapat dijalankan secara lebih terencana, terukur, dan akuntabel.Ketahanan pangan menjadi salah satu fokus program BUMDes Luwoo, sejalan dengan kebijakan pengalokasian sekitar 20 persen anggaran desa untuk mendukung sektor pertanian, peternakan, dan usaha pangan lokal. Dukungan anggaran tersebut membuka peluang bagi pengembangan kegiatan ekonomi produktif yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.Namun, pengelolaan program pangan masih menghadapi tantangan, terutama dalam penyediaan informasi biaya, penyusunan anggaran, pengelolaan modal, dan mitigasi risiko usaha. Keterbatasan pada aspek-aspek tersebut dapat menyulitkan pengurus BUMDes dalam menentukan keputusan usaha, mengendalikan pengeluaran, serta menilai keberlanjutan kegiatan yang dijalankan.Tantangan tersebut semakin penting seiring perubahan pola pengelolaan bantuan pertanian menuju kemitraan usaha produktif. BUMDes tidak hanya dituntut menyalurkan atau memfasilitasi dukungan bagi masyarakat, tetapi juga perlu memiliki sistem pengelolaan usaha yang mampu menjaga transparansi, mengukur kinerja, dan mengantisipasi risiko.Melalui program KKN Tematik ini, tim UNG mendorong penerapan akuntansi manajemen sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat kapasitas kelembagaan BUMDes. Pendekatan ini mencakup pengelolaan informasi biaya, perencanaan anggaran, pengendalian modal, serta identifikasi risiko yang berpotensi memengaruhi keberlangsungan usaha.Penerapan akuntansi manajemen berbasis kearifan lokal juga diarahkan agar sistem pengelolaan yang dikembangkan tetap sesuai dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhan masyarakat Desa Luwoo. Dengan demikian, penguatan tata kelola tidak hanya berorientasi pada administrasi keuangan, tetapi juga mendukung pengambilan keputusan usaha yang lebih tepat berdasarkan kondisi lokal.Pelaksanaan program dirancang melalui tiga tahapan utama, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan, tim mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi BUMDes serta merumuskan strategi kegiatan sesuai kebutuhan mitra.Tahap pelaksanaan dilakukan melalui pembekalan materi, pelatihan, dan pendampingan langsung untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan pengurus BUMDes. Materi diarahkan pada aspek pengelolaan keuangan dan usaha yang dibutuhkan dalam mendukung kegiatan ketahanan pangan desa.Selanjutnya, evaluasi dilakukan untuk mengukur perkembangan pengetahuan dan keterampilan peserta melalui monitoring berkala serta analisis kuesioner. Tahapan ini menjadi bagian penting untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan program sekaligus mengidentifikasi aspek yang masih memerlukan pendampingan.Melalui penguatan kapasitas tersebut, BUMDes Luwoo diharapkan mampu mengembangkan sistem pengelolaan usaha yang lebih tertib, transparan, dan berkelanjutan. Tata kelola yang baik juga diharapkan membantu BUMDes mengoptimalkan potensi pertanian, peternakan, dan pangan lokal sehingga kegiatan usaha dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.Program KKN Tematik Tahap II Tahun 2026 ini didampingi oleh empat Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yakni Dr. Tri Handayani Amaliah, S.E., Ak., M.Si., CA; Siti Pratiwi Husain, S.E., M.Si.; Hendra Pratama Danial, S.E., M.Ak.; dan Ayu Rakhma Wuryandini, S.E., M.SA. Sebanyak 16 mahasiswa KKN Tematik UNG terlibat dalam pelaksanaan program pengabdian tersebut.Melalui kegiatan ini, UNG berupaya memperkuat peran BUMDes sebagai penggerak ekonomi desa dengan mendorong pengelolaan usaha yang lebih akuntabel dan sesuai dengan potensi lokal. Penguatan tata kelola tersebut diharapkan dapat mendukung keberlanjutan program ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kapasitas desa dalam mengembangkan usaha produktif berbasis kebutuhan masyarakat.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahap 2 Tahun 2026 melaksanakan rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Biluango, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango. Mengusung tema “Optimalisasi Peran Keluarga dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba dan Stunting melalui Pemanfaatan Potensi Lokal”, program ini berfokus pada penguatan peran keluarga, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, serta pemanfaatan potensi pangan lokal untuk mendukung kesejahteraan warga.Kegiatan pengabdian ini dibimbing oleh tiga Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yakni Fenti Prihatini Dance Tui, Mohammad Imran, dan Mohamad Aprianto Paneo, dengan melibatkan 15 mahasiswa. Program dirancang untuk menjawab tiga aspek permasalahan utama di masyarakat, yaitu ketahanan keluarga dan perlindungan remaja, kesehatan dan gizi keluarga, serta penguatan kelembagaan, partisipasi masyarakat, dan keberlanjutan program di tingkat desa.Rangkaian kegiatan diawali dengan pemaparan program kerja kepada pemerintah desa dan tokoh masyarakat. Tahap ini menjadi bagian penting untuk menyampaikan rencana kegiatan sekaligus membangun koordinasi dengan pemangku kepentingan setempat. Melalui koordinasi tersebut, mahasiswa berupaya memastikan program pengabdian dapat berjalan secara partisipatif dan selaras dengan kebutuhan masyarakat Desa Biluango.Pada aspek ketahanan keluarga, mahasiswa melaksanakan Sekolah Keluarga Anti Narkoba sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba. Edukasi ini menempatkan keluarga sebagai lingkungan pertama yang berperan dalam membentuk karakter, memberikan pendampingan, serta melindungi anak dan remaja dari berbagai pengaruh negatif. Penguatan komunikasi antara orang tua dan anak juga menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan keluarga yang sehat dan mendukung perkembangan generasi muda.Selain edukasi pencegahan narkoba, perhatian terhadap kesehatan keluarga diwujudkan melalui kegiatan Sekolah Keluarga Cegah Stunting. Kegiatan ini memberikan pemahaman mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi, pola asuh yang tepat, dan perhatian terhadap tumbuh kembang anak. Melalui edukasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa pencegahan stunting memerlukan keterlibatan keluarga serta dukungan lingkungan dan layanan kesehatan.Kegiatan edukasi kemudian dilanjutkan melalui Laboratorium Pangan Lokal yang mengajak masyarakat mengenali potensi bahan pangan di lingkungan sekitar. Dalam kegiatan ini, mahasiswa memperkenalkan pemanfaatan ikan oci dan daun kelor sebagai bahan dasar pengolahan makanan bergizi. Kedua bahan lokal tersebut diolah menjadi BACILOR (Bakso Ikan Oci Daun Kelor), sebuah inovasi pangan yang dikembangkan sebagai alternatif menu keluarga.Kehadiran BACILOR menjadi salah satu hasil yang menonjol dalam rangkaian pengabdian tersebut. Pemanfaatan ikan oci sebagai sumber protein dan daun kelor sebagai bahan pangan yang mengandung beragam zat gizi memperlihatkan peluang pengembangan komoditas lokal menjadi produk makanan yang lebih bervariasi. Pengolahan dalam bentuk bakso juga menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan bahan pangan lokal melalui sajian yang mudah dikenali masyarakat.Inovasi ini diharapkan dapat mendorong keluarga untuk lebih kreatif dalam menyediakan makanan bergizi dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di daerahnya. Selain mendukung edukasi pemenuhan gizi, pengembangan produk pangan lokal juga membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah komoditas setempat apabila nantinya dikembangkan lebih lanjut oleh masyarakat. Meski demikian, pencegahan stunting tetap membutuhkan upaya menyeluruh, mulai dari pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga pemantauan pertumbuhan anak dan akses terhadap layanan kesehatan.Untuk memperluas jangkauan edukasi, mahasiswa KKN Tematik UNG juga membuat dan memasang media informasi yang memuat pesan-pesan mengenai pencegahan penyalahgunaan narkoba dan stunting. Media tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh informasi yang mudah diakses sekaligus menjadi pengingat mengenai pentingnya perlindungan keluarga, kesehatan, dan pemenuhan gizi.Rangkaian kegiatan turut dilengkapi dengan pembuatan peta Desa Biluango. Peta tersebut diserahkan kepada pemerintah desa sebagai media informasi wilayah yang dapat mendukung pengenalan kondisi dan potensi lokal. Keberadaan peta diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sarana pendukung dalam penyebarluasan informasi serta perencanaan kegiatan pembangunan desa.Sebagai bagian dari penyebarluasan hasil pengabdian, dokumentasi rangkaian kegiatan dipublikasikan melalui kanal YouTube dan media massa daring. Publikasi ini menjadi sarana untuk memperkenalkan pelaksanaan program kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus menunjukkan kontribusi mahasiswa dalam mengembangkan pendekatan edukatif berbasis kebutuhan masyarakat.Melalui rangkaian kegiatan tersebut, KKN Tematik UNG Tahap 2 Tahun 2026 di Desa Biluango tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan edukasi, tetapi juga pada pengenalan solusi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi anti narkoba, peningkatan pemahaman mengenai pencegahan stunting, pengembangan inovasi BACILOR, serta penyediaan media informasi merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas keluarga dan masyarakat.Keterlibatan mahasiswa, dosen pembimbing, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi unsur penting dalam mendukung pelaksanaan program pengabdian ini. Melalui kolaborasi tersebut, berbagai potensi lokal dapat dikenali dan dimanfaatkan untuk menjawab persoalan sosial dan kesehatan yang dihadapi masyarakat.Program ini diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi warga Desa Biluango, khususnya dalam membangun ketahanan keluarga, meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan anak, serta mendorong pemanfaatan pangan lokal. Dengan demikian, pelaksanaan KKN Tematik menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan akademik sekaligus berkontribusi langsung dalam mendukung pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Tulang sotong yang kerap dianggap sebagai hasil samping perikanan ternyata menyimpan potensi untuk dikembangkan menjadi bahan produk kebersihan tangan. Melalui pengolahan menjadi kitosan, bahan ini diteliti sebagai agen antibakteri dalam formulasi spray hand sanitizer untuk menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli.Hasil samping perikanan tidak selalu harus berakhir sebagai limbah. Dengan pengolahan yang tepat, material yang belum dimanfaatkan secara optimal dapat menjadi bahan baku bernilai tambah. Salah satu contohnya adalah tulang sotong (Sepia sp.) yang berpotensi diolah menjadi kitosan, senyawa yang menarik perhatian dalam pengembangan berbagai produk, termasuk produk kebersihan.Potensi tersebut dikaji oleh Febriyanti Rasyid, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile dari Faculty of Maritime Affairs and Fisheries Technology, Gorontalo State University atau Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Penelitian mereka diterbitkan dalam Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 14 Nomor 1 Tahun 2025, halaman 37–52.Penelitian ini mengkaji pemanfaatan kitosan dari tulang sotong sebagai bahan aktif dalam spray hand sanitizer, sekaligus menguji kemampuannya menghambat bakteri Escherichia coli atau E. coli. Bakteri tersebut merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan apabila jenis patogeniknya masuk ke dalam tubuh melalui jalur yang sesuai.Kitosan Tulang Sotong Memiliki Karakteristik yang Memenuhi Parameter MutuPenelitian ini berangkat dari kebutuhan akan produk kebersihan tangan yang praktis sekaligus membuka peluang pemanfaatan bahan alami. Dalam penelitian tersebut, tulang sotong diproses melalui tiga tahapan utama, yakni deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi untuk menghasilkan kitosan yang kemudian digunakan sebagai bahan aktif dalam formulasi spray hand sanitizer.Hasil karakterisasi menunjukkan kitosan yang diperoleh memiliki rendemen 30 persen, kadar air 5,23 persen, kadar abu 3,36 persen, dan derajat deasetilasi 74,78 persen. Penelitian mencatat bahwa kadar air dan kadar abu tersebut berada di bawah batas yang dirujuk dalam SNI 7949:2013, sedangkan derajat deasetilasi telah melampaui batas minimum 70 persen.Kitosan tersebut kemudian diformulasikan dalam tiga konsentrasi, yaitu 5 persen (P1), 10 persen (P2), dan 15 persen (P3). Ketiga formula diuji berdasarkan pH, viskositas, serta aktivitas antibakterinya terhadap E. coli.Konsentrasi Kitosan Meningkatkan Aktivitas AntibakteriHasil pengujian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas antibakteri seiring meningkatnya konsentrasi kitosan. Zona hambat terhadap E. coli tercatat sebesar 9,07 ± 1,33 mm pada P1, 22,03 ± 7,40 mm pada P2, dan 25,43 ± 3,96 mm pada P3.Analisis ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan antarformula (p<0,05). Dalam interpretasi penelitian, P1 berada pada kategori lemah hingga sedang, P2 tergolong kuat, sedangkan P3 tergolong sangat kuat berdasarkan zona hambat yang dihasilkan. Namun, peningkatan konsentrasi juga diikuti oleh peningkatan viskositas.Formula 10 Persen Menjadi Titik KompromiMenariknya, konsentrasi tertinggi tidak otomatis menghasilkan karakteristik spray yang paling sesuai. Formula P3 dengan kitosan 15 persen menghasilkan zona hambat terbesar, tetapi memiliki viskositas 4.517 ± 680 cP, sehingga berpotensi menurunkan kenyamanan dan konsistensi penyemprotan.Sementara itu, formula P1 memiliki viskositas 750 ± 250 cP dan memberikan kenyamanan semprot yang lebih baik, tetapi aktivitas antibakterinya masih rendah. Formula P2 dengan konsentrasi kitosan 10 persen menghasilkan aktivitas antibakteri kuat dengan viskositas 2.917 ± 1.010 cP, sehingga oleh peneliti dipandang sebagai titik kompromi antara aktivitas antibakteri dan karakteristik fungsional formulasi.Meski demikian, terdapat catatan penting pada aspek pH. Formula 10 persen memiliki pH 9,02 ± 0,17, sementara penelitian menggunakan rentang ideal kulit sekitar 4,5–6,5. Karena itu, peneliti merekomendasikan optimasi sistem penyangga sebelum pengembangan lebih lanjut.Membuka Peluang Pemanfaatan Limbah PerikananDi balik pengujian formulasi dan aktivitas antibakteri, penelitian ini membawa gagasan yang lebih luas mengenai pemanfaatan sumber daya perikanan. Tulang sotong yang belum dimanfaatkan secara optimal berpotensi diolah menjadi bahan baku untuk pengembangan produk bernilai tambah.Pemanfaatan kitosan dari sumber non-krustasea seperti sotong juga memperluas pilihan bahan alami yang dapat diteliti untuk berbagai aplikasi. Jika dikembangkan melalui proses yang tepat, pendekatan ini berpotensi mendukung pemanfaatan hasil samping perikanan sekaligus mendorong inovasi produk berbasis sumber daya laut.Namun, manfaat lingkungan dan kelayakan penerapannya tetap perlu dinilai lebih lanjut, termasuk melalui kajian proses produksi, efisiensi bahan baku, biaya pengolahan, dan dampak lingkungan secara keseluruhan.Penelitian Febriyanti Rasyid, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile menunjukkan bahwa tulang sotong memiliki potensi sebagai sumber kitosan untuk formulasi spray hand sanitizer dengan aktivitas antibakteri terhadap E. coli dalam pengujian laboratorium. Di antara formula yang diuji, konsentrasi 10 persen dipandang menjanjikan karena menawarkan keseimbangan antara aktivitas antibakteri dan karakteristik fisik, meskipun persoalan pH masih perlu diatasi.Lebih dari sekadar mengembangkan formulasi produk kebersihan, riset ini memperlihatkan bagaimana hasil samping perikanan dapat menjadi titik awal inovasi ilmiah. Dengan penelitian lanjutan dan pengujian keamanan yang memadai, kitosan tulang sotong berpeluang dikembangkan lebih jauh sebagai bahan bernilai tambah dalam industri berbasis sumber daya perikanan. (**)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahap II Tahun 2026 mengembangkan inovasi pengolahan limbah perikanan menjadi produk pangan bernilai tambah melalui program pengabdian kepada masyarakat di Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo. Mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat melalui Diversifikasi Produk Perikanan Berbasis Tulang Ikan Tuna untuk Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan”, program ini mendorong pemanfaatan potensi perikanan lokal sekaligus membuka peluang pengembangan usaha masyarakat.Kegiatan ini dibimbing oleh tiga Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yaitu Amir Lukum, S.Pd., MSA, Dr. Mahdalena, S.E., M.Si., dan Zulkifli Bokiu, S.E.Ak., M.Si. Sebanyak 15 mahasiswa terlibat dalam pelaksanaan program yang berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah tulang ikan tuna menjadi produk pangan yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.Program pemberdayaan ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya pemanfaatan limbah tulang ikan tuna menjadi produk bernilai tambah serta terbatasnya pendampingan berkelanjutan dalam pengembangan inovasi pangan berbasis potensi perikanan setempat. Padahal, tulang ikan yang belum dimanfaatkan secara optimal berpotensi diolah menjadi produk pangan apabila melalui proses pengolahan yang tepat dan memenuhi standar keamanan pangan.Untuk menjawab permasalahan tersebut, mahasiswa KKN Tematik UNG melaksanakan kegiatan secara bertahap. Tahap awal dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah desa dan kelompok masyarakat sasaran, dilanjutkan dengan pemetaan sumber bahan baku, pengukuran volume limbah tulang ikan tuna, serta identifikasi pengetahuan dan keterampilan awal masyarakat melalui observasi dan wawancara.Tahap berikutnya berupa edukasi dan pelatihan mengenai keamanan pangan, sanitasi, serta higiene personal dalam proses produksi. Mahasiswa juga memfasilitasi penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengolahan tulang ikan tuna sebagai pedoman untuk mendukung proses produksi yang lebih terarah, konsisten, dan memperhatikan kebersihan serta keamanan produk.Penerapan pengetahuan tersebut dilanjutkan melalui praktik langsung pembuatan kerupuk tulang ikan tuna. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada proses diversifikasi produk perikanan dengan memanfaatkan bahan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah. Pengolahan tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan nilai guna hasil samping perikanan sekaligus memperkenalkan alternatif produk pangan berbasis potensi lokal.Inovasi kerupuk tulang ikan tuna diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat Desa Hungayonaa dalam mengembangkan produk olahan yang memiliki peluang ekonomi. Selain membantu mengurangi limbah perikanan, diversifikasi produk juga berpotensi memperluas pilihan usaha berbasis sumber daya lokal. Pengembangannya tetap perlu memperhatikan komposisi bahan, keamanan pangan, mutu produk, kemasan, serta penerimaan konsumen agar dapat bersaing di pasar.Untuk mengetahui perkembangan dan hasil pelaksanaan program, mahasiswa melakukan monitoring dan evaluasi melalui post-test, observasi keterampilan peserta, pencatatan volume limbah yang dimanfaatkan, serta jumlah produk yang dihasilkan. Evaluasi juga mencakup penerapan SOP, kemampuan masyarakat dalam memproduksi kerupuk, dan perhitungan analisis usaha sebagai dasar untuk menilai peluang pengembangan produk secara ekonomi.Rangkaian kegiatan ini dilengkapi dengan luaran berupa produk kerupuk tulang ikan tuna, video dokumentasi yang dipublikasikan melalui YouTube, serta berita pada media daring. Berbagai luaran tersebut diharapkan dapat memperluas penyebarluasan informasi mengenai inovasi pengolahan limbah perikanan dan menjadi referensi bagi pengembangan kegiatan serupa di masyarakat.Melalui program KKN Tematik ini, mahasiswa UNG berupaya menghubungkan penerapan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat dalam mengoptimalkan potensi perikanan lokal. Pendampingan yang mencakup pemetaan bahan baku, pelatihan, praktik produksi, hingga evaluasi usaha menjadi bagian penting untuk membangun keterampilan masyarakat secara bertahap.Pelaksanaan program di Desa Hungayonaa diharapkan dapat mendorong masyarakat melihat limbah perikanan bukan semata-mata sebagai bahan buangan, melainkan sebagai sumber daya yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Dengan dukungan keterampilan pengolahan, penerapan keamanan pangan, dan pendampingan yang berkelanjutan, inovasi kerupuk tulang ikan tuna diharapkan dapat berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap II Tahun 2026 Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Desa Buhu, Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo. Mengusung tema “Pemanfaatan Potensi Pertanian dan Perikanan Berbasis Koperasi”, program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi desa.Desa Buhu memiliki potensi sektor pertanian dan perikanan yang dapat dikembangkan untuk mendukung perekonomian masyarakat. Dengan jumlah penduduk sebanyak 2.247 jiwa yang tersebar dalam tiga dusun dan terdiri atas 738 kepala keluarga, potensi sumber daya pangan di desa ini menjadi modal penting bagi pengembangan usaha produktif berbasis kebutuhan dan kemampuan masyarakat setempat.Namun, potensi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam pemasaran hasil pertanian dan perikanan. Selama ini, petani dan nelayan cenderung menjual hasil produksi secara individual melalui pedagang pengumpul. Kondisi tersebut membatasi peluang masyarakat untuk memperoleh nilai tambah yang lebih baik dari hasil usaha mereka.Selain persoalan pemasaran, keterbatasan akses terhadap modal, teknologi, dan pendampingan usaha turut menjadi kendala dalam pengembangan ekonomi masyarakat. Di sisi lain, koperasi yang diharapkan menjadi wadah bersama untuk memperkuat kegiatan ekonomi warga belum berfungsi secara optimal dalam memfasilitasi kebutuhan anggotanya.Melihat kondisi tersebut, program KKN Tematik UNG mendorong penguatan koperasi sebagai salah satu strategi untuk mengoptimalkan potensi pertanian dan perikanan Desa Buhu. Pendekatan ini menempatkan koperasi sebagai wadah bagi petani dan nelayan untuk membangun kerja sama, memperkuat posisi tawar, serta mengembangkan kegiatan usaha secara lebih terorganisasi.Pelaksanaan program menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA), community development, dan pendampingan intensif (mentoring). Melalui pendekatan partisipatif tersebut, masyarakat didorong untuk terlibat dalam mengidentifikasi permasalahan, menentukan kebutuhan, serta merancang langkah pengembangan usaha yang sesuai dengan potensi desa.Kegiatan pemberdayaan mencakup pelatihan tata kelola organisasi koperasi, penyusunan rencana usaha, peningkatan kualitas pelayanan anggota, serta pengembangan unit usaha terpadu di bidang pertanian dan perikanan. Rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas pengelolaan koperasi agar mampu memberikan manfaat nyata bagi anggota dan masyarakat.Salah satu fokus program adalah mendorong optimalisasi peran Koperasi Merah Putih dalam mendukung rantai usaha pangan di tingkat desa. Koperasi diharapkan dapat menjadi penghubung antara petani, nelayan, dan pasar, sehingga pemasaran hasil produksi tidak sepenuhnya bergantung pada pedagang perantara.Melalui pengelolaan usaha yang lebih terarah, koperasi juga berpotensi memfasilitasi pemilahan dan pengelompokan mutu hasil panen (grading) untuk meningkatkan kualitas serta daya saing produk. Selain itu, koperasi diharapkan dapat membantu penyediaan sarana produksi dengan harga yang lebih terjangkau dan mengembangkan layanan keuangan anggota yang dikelola secara aman, transparan, dan bertanggung jawab sesuai ketentuan yang berlaku.Penguatan koperasi tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi pelaku usaha pertanian dan perikanan, tetapi juga mendukung terbentuknya ekosistem ekonomi desa yang lebih terintegrasi. Dengan pengelolaan kelembagaan dan usaha yang baik, potensi pangan lokal dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk memperkuat ketahanan pangan dan membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat.Melalui program pengabdian ini, UNG berupaya mendorong pemberdayaan masyarakat dengan menghubungkan potensi sumber daya lokal dan penguatan kelembagaan ekonomi desa. Pengembangan koperasi yang partisipatif dan berkelanjutan diharapkan menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan daya saing usaha masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Desa Buhu.

Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 yang didanai melalui skema BIMA berhasil mengembangkan lima inovasi mainan edukatif berbahan dasar limbah plastik rumah tangga. Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan pengelolaan sampah, kreativitas masyarakat, dan pengembangan media pembelajaran bagi anak usia dini.Program pengabdian bertajuk “Inovasi Kriya Mainan Edukatif Daur Ulang Plastik Rumah Tangga bagi Anak Usia Dini” ini dilaksanakan melalui kolaborasi dosen lintas fakultas Universitas Negeri Gorontalo bersama Komunitas Tanggidaa Grup Kota Gorontalo sebagai mitra pemberdayaan masyarakat.Tim pengabdian diketuai oleh Wira Pratama Rumambie, S.Ds., M.Ds., dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial UNG, dengan anggota Siti Mayasari Pakaya, S.Sos., M.I.Kom., dosen Ilmu Komunikasi FIS UNG, serta Sri Rawanti, S.Pd., M.Pd., dosen Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Fakultas Ilmu Pendidikan UNG.Ketua tim pengabdian, Wira Pratama Rumambie, menjelaskan bahwa program ini berangkat dari persoalan limbah plastik rumah tangga yang masih menjadi tantangan lingkungan, sekaligus kebutuhan terhadap media pembelajaran kreatif dan interaktif bagi anak usia dini.Menurutnya, limbah plastik memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih bernilai apabila dipadukan dengan pendekatan desain kriya dan konsep pendidikan yang tepat.“Melalui program ini, kami ingin menunjukkan bahwa limbah plastik rumah tangga tidak selalu berakhir sebagai sampah. Dengan kreativitas dan pengolahan yang tepat, material tersebut dapat dikembangkan menjadi produk edukatif yang memiliki manfaat bagi anak-anak sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat,” ujarnya.Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian menerapkan sejumlah tahapan, mulai dari sosialisasi dan identifikasi kebutuhan mitra, pengolahan limbah plastik, perancangan desain produk, produksi dan pendampingan, hingga diseminasi hasil program.Melalui proses tersebut, tim bersama komunitas mitra berhasil menghasilkan lima jenis mainan edukatif, yakni papan alfabet edukatif, papan angka magnetik, puzzle bentuk geometri, dan kotak permainan edukatif.Kelima produk tersebut dikembangkan dengan fungsi pembelajaran yang berbeda. Papan alfabet digunakan sebagai media pengenalan huruf, papan angka magnetik untuk mengenalkan angka dan aktivitas berhitung sederhana, puzzle geometri membantu anak mengenali bentuk dan warna, sedangkan kotak permainan edukatif dirancang untuk aktivitas pencocokan bentuk serta stimulasi koordinasi motorik.Wira menambahkan bahwa pengembangan produk tidak hanya menitikberatkan pada bentuk visual, tetapi juga mempertimbangkan fungsi edukatif, kemudahan penggunaan, dan potensi pengembangan produk secara berkelanjutan.“Kami tidak hanya ingin menghasilkan mainan dari bahan daur ulang, tetapi juga mengembangkan media yang memiliki nilai pembelajaran. Karena itu, pendekatan desain dan pendidikan anak usia dini menjadi bagian penting dalam proses perancangan produk bersama mitra,” tambahnya.Kolaborasi lintas disiplin ilmu menjadi salah satu kekuatan dalam pelaksanaan program tersebut. Bidang komunikasi dan desain berkontribusi dalam pengembangan konsep visual, kreativitas produk, serta penyampaian informasi, sedangkan bidang pendidikan anak usia dini memperkuat orientasi pembelajaran melalui aktivitas bermain.Selain menghasilkan produk, kegiatan pengabdian ini juga diarahkan pada peningkatan keterampilan Komunitas Tanggidaa Grup dalam mengolah material plastik, merancang produk kriya, dan mengembangkan potensi kreativitas yang dapat menjadi peluang usaha berbasis ekonomi kreatif.Sebagai bagian dari diseminasi hasil program, tim pengabdian turut melibatkan sejumlah lembaga pendidikan anak usia dini, yakni TK Sukma Bangsa, TK Damhil DWP UNG, dan TK Agropolitan. Keterlibatan lembaga pendidikan tersebut menjadi langkah untuk memperkenalkan pemanfaatan produk kriya daur ulang sebagai alternatif media pembelajaran yang kreatif dan ramah lingkungan.Dari sisi kebermanfaatan, program PISN 2026 memiliki tiga orientasi utama, yakni pemanfaatan kembali limbah plastik untuk mendukung kepedulian lingkungan, pengembangan media pembelajaran kreatif bagi anak usia dini, serta pemberdayaan komunitas melalui peluang pengembangan produk kriya.Meski telah menghasilkan lima jenis produk, tim pengabdian juga menempatkan peningkatan kualitas dan keamanan produk sebagai agenda pengembangan berikutnya. Langkah tersebut mencakup penyempurnaan desain, peningkatan kapasitas produksi mitra, serta perluasan kerja sama dengan lembaga pendidikan anak usia dini.Keberhasilan pengembangan produk ini menjadi langkah awal dalam membangun model pemberdayaan masyarakat yang menghubungkan inovasi material, desain produk, dan kebutuhan pendidikan anak usia dini. Program tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendekatan pengabdian berbasis kolaborasi dapat menghasilkan solusi kreatif terhadap persoalan lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

GORONTALO — Limbah pengolahan gula aren yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, kini dikembangkan menjadi produk bernilai tambah oleh tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui inovasi BioNira Zero Waste, limbah kolang-kaling dan kulitnya diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber serta pelet biomassa, yang berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Dulamayo Selatan, Kabupaten Gorontalo.Program bertajuk “BioNira Zero Waste: Inovasi Nano Fiber dan Pelet Biomassa Limbah Biji Nira Berbasis Pemberdayaan Karang Taruna Dulamayo Selatan” ini dilaksanakan oleh Rifka Anggraini Anggai, M.Farm., Dr. Dra. Ha. Sri Endang Saleh, M.Si., dan Angry Pratama Solihin, M.Sc. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat, yang memperoleh pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kemdiktisaintek Tahun 2026.Gagasan ini berangkat dari pengamatan tim terhadap aktivitas pengolahan gula aren di Desa Dulamayo Selatan, yang melibatkan banyak pengrajin dan pelaku usaha. Di balik aktivitas ekonomi tersebut, terdapat limbah yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Kondisi ini mendorong tim menghadirkan pendekatan zero waste dengan mengolah sisa bahan produksi, menjadi produk baru sekaligus melibatkan Karang Taruna sebagai mitra utama dalam pengembangan inovasi di tingkat desa.Ketua tim pengabdian, Rifka Anggraini Anggai, menjelaskan bahwa program ini memanfaatkan kolang-kaling dan kulit kolang-kaling untuk menghasilkan dua jenis produk berbeda. Kolang-kaling diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber, menggunakan peralatan yang diserahkan kepada pengurus Karang Taruna, sedangkan kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan baku pelet biomassa yang lebih ramah lingkungan.“Buah kolang-kaling kami olah dengan beberapa alat yang kami berikan kepada pengurus Karang Taruna untuk dijadikan serbuk serat Nano Fiber, sementara kulitnya dijadikan pelet biomassa yang ramah lingkungan,” jelas Rifka.Tidak berhenti pada penyediaan peralatan, tim UNG juga memberikan pendampingan agar mitra mampu menjalankan proses produksi secara lebih terarah. Pendampingan mencakup tahapan pengolahan bahan baku, hingga penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan serbuk serat Nano Fiber dan pelet biomassa. Langkah ini diharapkan menjadi fondasi bagi mitra, untuk menjaga konsistensi proses produksi dan mengembangkan kegiatan secara berkelanjutan.Penguatan kapasitas mitra juga diarahkan pada aspek pemasaran dan digital branding. Melalui pemanfaatan berbagai platform digital, produk yang dikembangkan diharapkan memiliki peluang untuk dikenal lebih luas. Dengan demikian, pemberdayaan tidak hanya berfokus pada keterampilan mengolah limbah, tetapi juga pada kemampuan mengelola produksi dan memperkenalkan produk kepada calon konsumen.Melalui BioNira Zero Waste, UNG mendorong perubahan cara pandang terhadap limbah hasil pengolahan aren, dari sisa produksi yang belum termanfaatkan menjadi sumber daya yang berpotensi menghasilkan nilai ekonomi. Keterlibatan Karang Taruna menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan masyarakat, untuk mengelola inovasi secara mandiri sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam pengembangan potensi desa.Program ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pemanfaatan limbah aren yang lebih produktif di Desa Dulamayo Selatan. Dengan dukungan teknologi tepat guna, pendampingan, dan penguatan pemasaran, inovasi BioNira Zero Waste mencerminkan upaya UNG dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus membuka peluang bagi tumbuhnya kegiatan ekonomi berbasis pemanfaatan sumber daya lokal.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik II Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahun 2026 melaksanakan program pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal di Desa Boludawa, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi makanan bergizi sebagai salah satu upaya mendukung pencegahan stunting.Program ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya pengetahuan dan keterampilan sebagian keluarga serta kader kesehatan dalam menyiapkan makanan tambahan yang sesuai dengan kebutuhan gizi balita. Selain itu, pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai sumber zat gizi, terutama protein, dinilai masih perlu dioptimalkan untuk mendukung pemenuhan gizi keluarga.Melalui pelatihan ini, masyarakat tidak hanya diberikan pemahaman mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang, tetapi juga dibekali pengetahuan tentang cara mengoptimalkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar untuk mendukung tumbuh kembang balita.Bahan pangan lokal memiliki potensi untuk diolah menjadi beragam menu makanan tambahan yang bergizi dan sesuai dengan kebutuhan anak. Selain relatif mudah diperoleh, pemanfaatan bahan pangan tersebut dapat menjadi alternatif bagi masyarakat dalam menyiapkan makanan tambahan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.Materi pelatihan turut mencakup pemilihan bahan baku, pemanfaatan sumber protein, penyesuaian porsi dan tekstur makanan, serta teknik penyajian PMT yang sehat dan menarik. Pemahaman terhadap aspek-aspek tersebut penting agar makanan yang disiapkan tidak hanya memiliki nilai gizi yang baik, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan balita.Pelaksanaan program diawali dengan persiapan dan koordinasi bersama pihak mitra, dilanjutkan dengan observasi lapangan untuk mengidentifikasi kondisi serta kebutuhan masyarakat. Hasil identifikasi tersebut menjadi dasar dalam penyusunan materi edukasi dan perancangan pelatihan yang sesuai dengan permasalahan di lapangan.Setelah memperoleh edukasi mengenai pencegahan stunting dan pentingnya makanan bergizi, peserta mengikuti demonstrasi pembuatan PMT berbasis pangan lokal. Kegiatan ini dilanjutkan dengan praktik langsung yang didampingi oleh tim mahasiswa KKN, sehingga peserta berkesempatan menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan.Untuk mengetahui pemahaman dan keterampilan peserta, tim juga merancang evaluasi setelah pelatihan. Program ini dilengkapi dengan pendampingan dan penyebarluasan informasi agar pengetahuan mengenai pengolahan PMT berbasis pangan lokal dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.Program pengabdian kepada masyarakat ini didampingi oleh tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang diketuai Yumanraya Noho, S.Pd., M.Sc., bersama anggota Dr. Rosbin Pakaya, Dr. Arfiani Rizki Paramata, dan Reinaldi J. Saleh, M.Kes. Sebanyak 16 mahasiswa KKN Tematik II UNG terlibat aktif dalam pelaksanaan program tersebut.Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik II UNG berupaya mendorong masyarakat agar semakin memahami pentingnya pemenuhan gizi balita serta mampu memanfaatkan potensi pangan lokal untuk menyiapkan makanan tambahan yang sehat dan bergizi. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat peran keluarga dan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang anak sekaligus menjadi bagian dari langkah pencegahan stunting di Desa Boludawa.

Limbah cair industri tahu berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan apabila dibuang tanpa pengolahan yang memadai. Di sisi lain, kandungan bahan organik di dalam limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Potensi inilah yang dikaji dalam penelitian dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Trifandi Lasalewo, bersama Iqbal Syaichurrozi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Ecological Engineering & Environmental Technology tahun 2026 tersebut membahas upaya meningkatkan produksi biogas dari limbah cair industri tahu melalui proses pengolahan biologis. Studi ini mengombinasikan proses anaerobic digestion atau pencernaan anaerob dengan teknologi microbial electrolysis cell (MEC) untuk mengoptimalkan pembentukan gas, khususnya metana, yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.Limbah cair industri tahu mengandung bahan organik yang dapat terurai melalui aktivitas mikroorganisme. Namun, apabila langsung dibuang ke lingkungan, kandungan bahan organik yang tinggi dapat menurunkan kadar oksigen di perairan dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Melalui pengolahan anaerob, bahan organik tersebut dapat diuraikan oleh mikroorganisme hingga menghasilkan biogas yang mengandung metana.Dalam penelitian ini menguji penambahan nikel klorida heksahidrat (NiCl2·6H2O) pada beberapa konsentrasi untuk mengetahui pengaruhnya terhadap produksi biogas. Nikel digunakan karena dalam jumlah yang sesuai dapat mendukung aktivitas mikroorganisme pembentuk metana. Akan tetapi, konsentrasi yang terlalu tinggi berpotensi menghambat aktivitas mikroorganisme, sehingga penentuan dosis menjadi salah satu aspek penting dalam proses pengolahan.Pengujian dilakukan pada skala laboratorium selama 15 hari menggunakan limbah cair industri tahu yang berasal dari wilayah Sukmajaya, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, Banten, dengan cairan rumen sebagai inokulum. Setelah menguji beberapa konsentrasi nikel pada proses pencernaan anaerob, peneliti membandingkan hasilnya dengan sistem yang menggabungkan pencernaan anaerob dan microbial electrolysis cell dengan tegangan 1,5 volt.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kedua teknologi dengan penambahan NiCl2·6H2O sebesar 2 miligram per liter menghasilkan produksi biogas dan metana terbaik di antara kondisi yang diuji. Pada kondisi tersebut, akumulasi produksi biogas mencapai 550,82 mililiter per liter, sedangkan produksi metana kumulatif mencapai 396,48 mililiter CH4 per liter.Keunggulan sistem kombinasi tersebut juga terlihat dari kemampuannya mengurangi kandungan padatan dalam limbah. Pada konsentrasi nikel yang sama, tingkat penyisihan total padatan atau total solids (TS) meningkat dari 28,57 persen pada proses pencernaan anaerob menjadi 37,50 persen pada sistem kombinasi. Penyisihan padatan tersuspensi atau total suspended solids (TSS) juga meningkat dari 25,81 persen menjadi 39,87 persen. Sementara itu, penyisihan total padatan terlarut atau total dissolved solids (TDS) naik dari 31,14 persen menjadi 34,93 persen.Temuan tersebut menunjukkan bahwa penggabungan teknologi MEC tidak hanya berpotensi meningkatkan produksi biogas, tetapi juga memperbaiki penyisihan sejumlah parameter padatan dalam limbah cair tahu. Dengan demikian, pendekatan ini membuka peluang pengembangan teknologi pengolahan limbah yang mengintegrasikan upaya pengendalian pencemaran dengan pemanfaatan sumber energi alternatif.Peneliti juga melakukan analisis energi untuk membandingkan kinerja kedua sistem. Hasilnya, sistem pencernaan anaerob yang dikombinasikan dengan MEC pada dosis nikel 2 miligram per liter menghasilkan surplus energi sebesar 3.915,79 joule. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan surplus energi sebesar 2.928,50 joule pada sistem pencernaan anaerob konvensional dengan dosis nikel 4 miligram per liter. Perbandingan ini memperlihatkan potensi keuntungan energi dari sistem kombinasi pada kondisi pengujian yang dilakukan.Meski memberikan hasil yang menjanjikan, temuan tersebut masih berasal dari pengujian skala laboratorium dengan sistem batch selama 15 hari. Karena itu, penerapannya pada industri memerlukan penelitian lanjutan, terutama untuk menilai kestabilan proses dalam jangka panjang, kinerja pada skala yang lebih besar, serta kelayakan ekonomi dan kebutuhan operasionalnya.Penelitian Trifandi Lasalewo dan Iqbal Syaichurrozi ini menambah kajian mengenai pemanfaatan limbah industri sebagai sumber energi alternatif. Melalui pengembangan teknologi pengolahan yang tepat, limbah cair industri tahu berpeluang tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan secara lebih produktif dan berkelanjutan.Artikel penelitian dipublikasikan pada tautan berikut

Pembangunan yang semakin maju belum tentu dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat. Di satu daerah, akses pendidikan, layanan kesehatan, dan fasilitas umum mungkin berkembang lebih cepat, sementara daerah lain masih menghadapi berbagai keterbatasan. Perbedaan kondisi inilah yang menjadi perhatian tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dalam mengkaji ketimpangan pembangunan manusia di Provinsi Gorontalo serta peran anggaran pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat.Penelitian berjudul “Pemetaan Ketimpangan Spasial IPM dan Efektivitas Belanja Antar Kabupaten/Kota di Provinsi Gorontalo” tersebut dipimpin oleh Sri Indriyani S. Dai, S.E., M.E., bersama Prof. Dr. Syarwani Canon, M.Si., Dr. Melizubaida Mahmud, S.Pd., M.Si., Siti Khairunnisa Rahman, dan Siti Rahmadita Pasila. Penelitian ini didanai melalui Program RAKPT Skema Riset Akselerasi Publikasi Internasional (RAPI) PNBP/BLU Universitas Negeri Gorontalo Tahun 2026.Dalam kajian ini, tim peneliti melihat perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di enam kabupaten/kota di Gorontalo, yaitu Kabupaten Pohuwato, Boalemo, Gorontalo, Gorontalo Utara, Bone Bolango, dan Kota Gorontalo. Data selama sepuluh tahun, mulai 2015 hingga 2024, digunakan untuk memahami perkembangan kualitas pembangunan manusia sekaligus melihat perbedaan capaian antardaerah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata IPM Provinsi Gorontalo terus mengalami peningkatan. Pada 2015, angkanya berada di 62,24 dan meningkat menjadi 68,88 pada 2024. Kenaikan ini menunjukkan adanya kemajuan dalam pembangunan manusia selama satu dekade terakhir. Namun, peningkatan rata-rata tersebut tidak serta-merta berarti seluruh daerah telah mencapai perkembangan yang sama.Melalui pemetaan wilayah, peneliti menemukan bahwa capaian pembangunan manusia di suatu daerah memiliki keterkaitan dengan kondisi daerah di sekitarnya. Wilayah dengan capaian IPM relatif tinggi cenderung berdekatan dengan wilayah yang juga memiliki capaian tinggi. Sebaliknya, beberapa daerah dengan capaian relatif rendah berada berdekatan dengan daerah yang menghadapi kondisi serupa.Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pembangunan manusia tidak selalu berdiri sendiri dalam batas administrasi suatu daerah. Kondisi wilayah sekitar juga perlu diperhatikan dalam merancang kebijakan pembangunan. Karena itu, upaya mengurangi ketimpangan membutuhkan perencanaan yang mempertimbangkan karakteristik dan hubungan antardaerah.Selain memetakan ketimpangan, penelitian ini juga menelaah penggunaan anggaran pemerintah pada sejumlah sektor, terutama pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi, dan perlindungan sosial. Hasil analisis menunjukkan bahwa belanja pemerintah untuk pendidikan, kesehatan, serta perumahan dan fasilitas umum memiliki hubungan positif dan signifikan dengan peningkatan IPM.Di antara sektor yang dianalisis, belanja kesehatan menunjukkan hubungan paling kuat dengan capaian IPM, disusul belanja pendidikan dan infrastruktur. Temuan ini memperlihatkan pentingnya dukungan anggaran terhadap layanan kesehatan, kesempatan memperoleh pendidikan, serta ketersediaan fasilitas dasar dalam mendorong kualitas hidup masyarakat.Sementara itu, belanja pada sektor ekonomi dan perlindungan sosial belum menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik terhadap IPM dalam model penelitian ini. Hasil tersebut tidak berarti kedua sektor tidak memiliki manfaat bagi masyarakat. Namun, berdasarkan data dan pendekatan yang digunakan, pengaruhnya terhadap capaian IPM belum dapat dibuktikan secara statistik.Bagi pemerintah daerah, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan arah penggunaan anggaran. Peningkatan alokasi belanja perlu disertai dengan perencanaan yang sesuai kebutuhan masyarakat dan kondisi setiap wilayah. Daerah dengan capaian pembangunan yang masih tertinggal membutuhkan perhatian dan strategi yang tepat agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata.Penelitian ini menghasilkan sejumlah luaran, antara lain peta ketimpangan IPM antarkabupaten/kota, model analisis pembangunan wilayah, serta policy brief yang memuat rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah. Tim peneliti juga menyusun buku ilmiah ber-ISBN dan telah mengajukan artikel hasil penelitian ke Journal of Regional and City Planning yang diterbitkan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan terindeks Scopus Q3.Melalui penelitian ini, UNG berupaya memberikan kontribusi bagi pemahaman mengenai tantangan pembangunan manusia di Gorontalo. Pemetaan ketimpangan dan kajian penggunaan anggaran diharapkan dapat membantu pemerintah daerah merumuskan kebijakan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga kemajuan pembangunan tidak hanya terlihat dari peningkatan angka, tetapi juga dari semakin meratanya kualitas hidup di seluruh wilayah.

Buah mangrove yang selama ini lebih dikenal karena perannya menjaga ekosistem pesisir ternyata menyimpan potensi untuk mendukung pengolahan hasil perikanan. Penelitian Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan bahwa ekstrak buah mangrove jenis Rhizophora mucronata berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pengawet alami untuk membantu mempertahankan kualitas fillet ikan cakalang (Katsuwonus pelamis).Penelitian yang dilakukan Risky S. Maulanan, Lukman Mile, dan Fernandy M. Djailani dari Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) UNG ini mengkaji efektivitas ekstrak air tepung buah mangrove dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada ikan. Hasilnya menunjukkan bahwa perlakuan menggunakan ekstrak tersebut dapat menurunkan jumlah mikroorganisme yang terukur pada fillet ikan cakalang, meskipun efektivitasnya berbeda menurut lama perendaman.Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Applied Environmental Science, Vol. 2 No. 2 Tahun 2025, melalui artikel berjudul “Effectiveness of Water Extract of Mangrove Fruit Flour (Rhizophora mucronata) as a Natural Preservative in Skipjack Fish Fillets (Katsuwonus pelamis)”.Penelitian ini berangkat dari potensi sumber daya alam yang dimiliki kawasan pesisir, khususnya keberadaan ekosistem mangrove dan hasil perikanan tangkap. Ikan cakalang merupakan salah satu komoditas bernilai ekonomi, tetapi kualitasnya dapat menurun apabila penanganan setelah penangkapan tidak dilakukan dengan baik. Penurunan mutu ikan berkaitan dengan berbagai proses, termasuk aktivitas mikroorganisme dan perubahan biokimia setelah ikan mati. Karena itu, diperlukan penanganan pascapanen yang tepat agar kualitas ikan tetap terjaga hingga sampai kepada konsumen.Di sisi lain, buah Rhizophora mucronata mengandung senyawa yang berpotensi dimanfaatkan dalam pengolahan pangan. Para peneliti mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatan buah tersebut sebagai sumber bahan pengawet alami yang dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab kerusakan ikan.Dalam penelitian ini, buah mangrove terlebih dahulu dikeringkan dan diolah menjadi tepung. Tepung tersebut kemudian diekstraksi menggunakan air melalui pemanasan pada suhu 70 derajat Celsius selama 30 menit. Ekstrak yang diperoleh digunakan untuk merendam fillet ikan cakalang dengan variasi waktu 10, 12, dan 14 jam.Efektivitas perlakuan kemudian dievaluasi melalui sejumlah parameter, meliputi karakteristik organoleptik, tingkat keasaman atau pH, serta Total Plate Count (TPC), yaitu metode untuk memperkirakan jumlah mikroorganisme hidup yang dapat tumbuh pada media pengujian.Salah satu hasil penting penelitian terlihat pada pengujian TPC. Sampel ikan tanpa perlakuan perendaman memiliki nilai TPC sekitar 27,09 × 10³. Setelah direndam dalam ekstrak buah mangrove selama 10 jam, nilainya turun menjadi 15,39 × 10³. Penurunan lebih lanjut ditemukan pada perlakuan perendaman selama 12 jam, dengan nilai TPC sebesar 8,38 × 10³. Namun, pada perendaman selama 14 jam, nilainya kembali meningkat menjadi 10,82 × 10³.Pola tersebut menunjukkan bahwa penambahan waktu perendaman tidak selalu menghasilkan penurunan jumlah mikroorganisme secara terus-menerus. Dalam kondisi pengujian yang dilakukan, perendaman selama 12 jam menghasilkan nilai TPC terendah dibandingkan perlakuan lainnya.Hasil uji fitokimia juga mengidentifikasi keberadaan senyawa alkaloid dan triterpenoid dalam ekstrak tepung buah Rhizophora mucronata. Senyawa-senyawa tersebut memiliki potensi aktivitas biologis, termasuk kemungkinan aktivitas antimikroba. Meski demikian, keberadaan senyawa tersebut belum dengan sendirinya membuktikan mekanisme penghambatan bakteri tertentu. Efektivitasnya tetap perlu dipahami berdasarkan hasil pengujian dan kondisi perlakuan yang digunakan.Pengawetan ikan tidak cukup dinilai hanya dari penurunan jumlah mikroorganisme. Karakteristik fisik dan sensori, seperti penampakan, aroma, dan tekstur, juga penting karena memengaruhi penerimaan konsumen terhadap produk. Karena itu, penelitian ini turut mengevaluasi perubahan karakteristik organoleptik fillet ikan setelah perendaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa lama perendaman perlu dipertimbangkan dalam menentukan perlakuan yang sesuai, sebab perubahan pada karakteristik produk dapat terjadi selama proses pengolahan.Penelitian tersebut menyebutkan bahwa perendaman selama 10 jam merupakan waktu optimal berdasarkan indikator kualitas organoleptik, aroma, dan tekstur. Sementara itu, hasil pengujian mikrobiologis menunjukkan nilai TPC terendah pada perendaman selama 12 jam. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa waktu perlakuan terbaik dapat bergantung pada parameter mutu yang dijadikan acuan.Pengukuran pH juga menunjukkan nilai pada kisaran 5,46–6,04. Parameter ini membantu memberikan gambaran mengenai kondisi kimiawi ikan selama perlakuan, tetapi tidak dapat digunakan sendirian untuk memastikan keamanan atau tingkat kesegaran produk.Dengan demikian, hasil penelitian perlu dipahami secara menyeluruh. Penurunan jumlah mikroorganisme merupakan temuan yang menjanjikan, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa produk dapat disimpan lebih lama atau aman dikonsumsi tanpa pengujian tambahan. Penetapan masa simpan dan keamanan pangan memerlukan evaluasi lebih lanjut, termasuk pengujian mikrobiologis, kondisi penyimpanan, dan parameter keamanan yang relevan.Penelitian ini memperlihatkan peluang pemanfaatan sumber daya hayati lokal untuk mendukung pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan. Buah mangrove yang tumbuh di kawasan pesisir berpotensi menjadi bahan yang dapat diteliti lebih lanjut untuk menghasilkan alternatif pengawetan berbasis bahan alami.Bagi daerah yang memiliki potensi mangrove dan perikanan tangkap seperti Gorontalo, pendekatan tersebut membuka ruang bagi pengembangan inovasi yang menghubungkan kekayaan ekosistem pesisir dengan kebutuhan pengolahan hasil perikanan. Namun, pemanfaatan buah mangrove sebagai bahan pengawet pangan tetap harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan. Pengambilan bahan baku perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak mengganggu regenerasi mangrove maupun fungsi ekologisnya sebagai pelindung pesisir dan habitat berbagai organisme.Tahap penelitian selanjutnya juga penting untuk menguji konsentrasi ekstrak yang paling efektif, konsistensi hasil pada skala pengolahan yang lebih besar, keamanan pangan, serta pengaruhnya terhadap mutu ikan selama penyimpanan. Kajian tersebut diperlukan sebelum teknologi ini dapat direkomendasikan untuk diterapkan secara luas.Melalui penelitian ini, akademisi UNG menunjukkan bahwa potensi mangrove tidak hanya berkaitan dengan perlindungan lingkungan pesisir, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan. Dengan penelitian lanjutan yang memadai, pemanfaatan bahan alami dari lingkungan sekitar berpeluang memberikan nilai tambah bagi komoditas perikanan sekaligus mendorong inovasi yang tetap memperhatikan kelestarian ekosistem.Artikel penelitian dipublikasikan pada tautan berikut

Pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, bendungan, dan fasilitas publik lainnya tidak hanya membutuhkan perencanaan teknis serta dukungan anggaran, tetapi juga kepastian hukum dalam pelaksanaan kontrak. Hubungan antara pemerintah sebagai pengguna jasa dan pihak kontraktor sebagai penyedia jasa harus dibangun atas dasar kesepakatan yang adil, transparan, dan saling menghormati kewajiban. Namun, dalam praktiknya, kontrak pengadaan konstruksi pemerintah masih kerap diwarnai persoalan yang berujung pada keterlambatan proyek, perselisihan pembayaran, hingga pemutusan kontrak secara sepihak.Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam penelitian berjudul “Reconceptualizing Pacta Sunt Servanda in Indonesian Government Construction Procurement Contracts” yang dipublikasikan dalam Jambura Law Review, Volume 8 Nomor 2 Tahun 2026, halaman 484–510. Penelitian ini ditulis oleh Mutia Cherawaty Thalib (UNG), La Ode Husen, Lauddin Marsuni, Sri Lestari Poernomo, dan Vivi Oktaviani Pulukadang.Penelitian ini menyoroti penerapan prinsip pacta sunt servanda, sebuah asas fundamental dalam hukum perjanjian yang berarti setiap kesepakatan yang dibuat secara sah harus dipatuhi oleh para pihak. Dalam hukum Indonesia, prinsip tersebut tercantum dalam Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata). Artinya, kontrak bukan sekadar dokumen administratif, melainkan kesepakatan yang mengikat dan menjadi dasar bagi setiap pihak untuk menjalankan hak serta kewajibannya.Namun, para peneliti menemukan bahwa penerapan prinsip tersebut dalam kontrak pengadaan konstruksi pemerintah masih cenderung dipahami secara kaku dan formalistis. Ketentuan kontrak sering kali hanya dipandang sebagai aturan tertulis yang harus dijalankan secara literal, tanpa cukup mempertimbangkan dinamika dan perubahan kondisi selama proyek berlangsung.Padahal, pekerjaan konstruksi memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi. Perubahan kondisi lapangan, keterlambatan pembebasan lahan, perubahan desain, persoalan anggaran, hingga faktor cuaca dapat memengaruhi pelaksanaan pekerjaan. Situasi seperti ini membutuhkan komunikasi, koordinasi, dan penyesuaian kesepakatan antara pemerintah dan kontraktor. Ketika masing-masing pihak hanya berpegang pada ketentuan formal tanpa mengedepankan kerja sama, potensi sengketa justru semakin besar.Gambaran persoalan tersebut terlihat dari data pengadaan pemerintah tahun anggaran 2023 yang dikutip dalam penelitian. Sebanyak 466 perusahaan dijatuhi sanksi daftar hitam oleh 129 instansi pemerintah. Dari jumlah tersebut, 315 perusahaan atau sekitar 67,6 persen berasal dari sektor jasa konstruksi. Angka ini menunjukkan bahwa persoalan pelaksanaan kontrak masih menjadi tantangan serius dalam penyelenggaraan proyek infrastruktur pemerintah.Penelitian ini juga mengangkat kasus proyek Rekonstruksi Jalan Nani Wartabone di Kota Gorontalo yang didanai melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Kasus tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan pelaksanaan kontrak dapat berkembang menjadi sengketa hukum. Dalam putusan Pengadilan Negeri Gorontalo Nomor 64/Pdt.G/2023/PN Gto, pemerintah kota dinyatakan melakukan perbuatan melawan hukum terkait pembatalan kesepakatan pengalihan pekerjaan secara sepihak. Namun, pada tingkat banding, Pengadilan Tinggi Gorontalo melalui Putusan Nomor 17/PDT/2024/PT GTO membatalkan putusan tersebut dan menyatakan gugatan tidak dapat diterima karena adanya persoalan formal mengenai subjek hukum.Bagi para peneliti, kasus ini memperlihatkan adanya tantangan dalam mewujudkan kepastian hukum dan keadilan substantif pada kontrak pengadaan konstruksi. Persoalan kontrak tidak cukup diselesaikan hanya dengan melihat terpenuhi atau tidaknya persyaratan administratif, tetapi juga perlu mempertimbangkan itikad baik, keseimbangan hak dan kewajiban, serta dampak keputusan terhadap keberlanjutan proyek dan kepentingan masyarakat.Melalui kajian tersebut, para peneliti menawarkan pemahaman baru bahwa prinsip pacta sunt servanda tidak seharusnya diterapkan secara kaku. Prinsip ini perlu dipahami sebagai prinsip hubungan kontraktual yang adaptif, dengan tetap menjaga kepastian hukum dan akuntabilitas penggunaan keuangan negara.Pendekatan tersebut dibangun melalui integrasi tiga landasan. Pertama, hukum internasional yang menekankan kewajiban melaksanakan perjanjian dengan itikad baik. Kedua, hukum nasional, khususnya Pasal 1338 KUHPerdata dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi. Ketiga, nilai-nilai etika dalam hukum Islam, terutama prinsip awfu bi al-'uqud atau kewajiban memenuhi akad serta konsep maslahah mursalah yang menempatkan kemanfaatan umum sebagai salah satu tujuan penting hukum.Dalam konteks pembangunan infrastruktur, pendekatan maslahah berarti pelaksanaan kontrak tidak hanya berorientasi pada kepentingan pemerintah atau kontraktor, tetapi juga harus menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Infrastruktur yang berkualitas, selesai tepat waktu, dan dibangun dengan penggunaan anggaran yang efisien merupakan bagian dari kemanfaatan tersebut.Karena itu, ketika terjadi perubahan kondisi yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya, para pihak perlu memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian kontrak secara adil melalui adendum atau perundingan ulang. Penyesuaian tersebut tetap harus dilakukan berdasarkan ketentuan hukum, disertai dokumentasi yang jelas, serta tidak mengabaikan prinsip transparansi dan pertanggungjawaban keuangan negara.Selain menawarkan pembaruan pemahaman terhadap prinsip hukum perjanjian, penelitian ini juga mengusulkan sebuah kerangka tata kelola kontrak terintegrasi atau Integrated Contract Governance Framework. Kerangka ini menekankan pentingnya memasukkan klausul itikad baik secara lebih konkret ke dalam dokumen standar pengadaan pemerintah. Klausul tersebut mencakup kewajiban untuk bekerja sama, menyampaikan informasi penting secara terbuka, melakukan perundingan ketika terjadi perubahan keadaan, serta tidak memanfaatkan ketimpangan posisi tawar antara pemerintah dan penyedia jasa.Para peneliti juga merekomendasikan mekanisme penyelesaian sengketa secara bertahap. Prosesnya dimulai dari negosiasi langsung antara para pihak. Apabila tidak tercapai kesepakatan, penyelesaian dilanjutkan melalui mediasi berbasis maslahah, yakni mencari solusi yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak sekaligus melindungi kepentingan publik. Jika mediasi tidak berhasil, sengketa dapat dibawa ke mekanisme adjudikasi yang lebih cepat, sebelum akhirnya menempuh arbitrase atau jalur pengadilan sebagai upaya terakhir.Rekomendasi ini merujuk pada praktik di Malaysia melalui Construction Industry Payment and Adjudication Act (CIPAA) 2012 serta Singapura melalui Security of Payment Act (SOPA), yang menyediakan mekanisme penyelesaian sengketa konstruksi secara lebih cepat, khususnya terkait persoalan pembayaran.Melalui hasil kajian ini, para peneliti menegaskan bahwa kepastian hukum dalam kontrak pengadaan konstruksi tidak cukup dibangun dengan memperketat aturan administratif. Diperlukan pula hubungan kontraktual yang dilandasi itikad baik, komunikasi, keadilan, dan mekanisme penyelesaian sengketa yang efektif.Penguatan tata kelola kontrak tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko perselisihan, mencegah keterlambatan pembangunan, serta meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran negara. Pada akhirnya, kontrak yang dikelola secara adil dan bertanggung jawab tidak hanya memberikan perlindungan hukum bagi pemerintah dan penyedia jasa, tetapi juga memastikan pembangunan infrastruktur dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.Artikel penelitian dipublikasikan pada tautan berikut

Pemanfaatan limbah hasil perikanan menjadi bahan bernilai guna terus membuka peluang pengembangan produk yang lebih ramah lingkungan. Salah satu potensi tersebut diteliti oleh akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui pengembangan hand sanitizer berbentuk semprot berbahan kitosan yang berasal dari tulang sotong (Sepia sp.).Penelitian yang dilakukan Febriyanti Rasyid, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile dari Fakultas Teknologi Kelautan dan Perikanan UNG ini mengkaji formulasi serta karakteristik spray hand sanitizer berbasis kitosan tulang sotong.Penelitian ini berangkat dari pentingnya menjaga kebersihan tangan sebagai salah satu upaya pencegahan infeksi. Produk hand sanitizer berbahan alkohol telah banyak digunakan karena praktis, tetapi penggunaan berulang dapat dikaitkan dengan kulit kering, rasa perih, hingga gangguan pada lapisan pelindung kulit. Kondisi tersebut mendorong pengembangan bahan alternatif yang memiliki aktivitas antibakteri sekaligus berpotensi mendukung penggunaan produk kebersihan tangan secara lebih nyaman.Dalam penelitian ini, tulang sotong dipilih sebagai sumber kitosan, yaitu polimer alami yang diperoleh melalui proses pengolahan kitin. Kitosan memiliki gugus amina yang dapat berinteraksi dengan membran bakteri, sehingga berpotensi menghambat pertumbuhan mikroorganisme tertentu. Pemanfaatan bahan dari tulang sotong juga membuka peluang pengolahan hasil samping perikanan menjadi bahan yang memiliki nilai tambah.Untuk memperoleh kitosan, peneliti melakukan beberapa tahapan pengolahan, meliputi deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi. Hasil proses tersebut menghasilkan kitosan dengan rendemen 30 persen, kadar air 5,23 persen, kadar abu 3,36 persen, serta derajat deasetilasi 74,78 persen. Berdasarkan parameter yang diuji, karakteristik kitosan yang dihasilkan memenuhi batas standar yang digunakan dalam penelitian, yakni SNI 7949:2013.Kitosan tersebut kemudian diformulasikan menjadi hand sanitizer berbentuk semprot dengan tiga variasi konsentrasi, yaitu 5 persen, 10 persen, dan 15 persen. Setiap formula diuji untuk mengetahui karakteristik pH, viskositas atau tingkat kekentalan, serta aktivitas antibakterinya terhadap Escherichia coli, salah satu bakteri yang digunakan dalam pengujian mikrobiologi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi kitosan berhubungan dengan meningkatnya aktivitas antibakteri. Formula dengan konsentrasi kitosan 5 persen menghasilkan zona hambat rata-rata 9,07 milimeter, sedangkan formula 10 persen menghasilkan 22,03 milimeter. Pada konsentrasi 15 persen, zona hambat mencapai 25,43 milimeter.Zona hambat merupakan area di sekitar bahan uji yang menunjukkan terhambatnya pertumbuhan bakteri pada media pengujian. Semakin besar zona hambat yang terbentuk, semakin kuat aktivitas penghambatan yang ditunjukkan dalam pengujian tersebut. Meski demikian, hasil ini menggambarkan aktivitas antibakteri terhadap E. coli dalam kondisi laboratorium dan belum dapat langsung disamakan dengan efektivitas penggunaan produk pada tangan manusia.Selain aktivitas antibakteri, penelitian ini juga menemukan bahwa konsentrasi kitosan memengaruhi tingkat kekentalan formulasi. Formula 5 persen memiliki viskositas rata-rata 750 cP, formula 10 persen mencapai 2.917 cP, sedangkan formula 15 persen mencapai 4.517 cP. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi kitosan, semakin kental pula sediaan yang dihasilkan.Kekentalan menjadi aspek penting dalam pengembangan produk semprot karena berkaitan dengan kemampuan cairan mengalir melalui nosel, pembentukan butiran semprotan, serta kenyamanan saat diaplikasikan. Formula dengan konsentrasi rendah memiliki karakteristik lebih mudah disemprotkan, tetapi aktivitas antibakterinya relatif lebih rendah. Sebaliknya, konsentrasi tinggi memberikan aktivitas antibakteri lebih besar, namun kekentalannya berpotensi memengaruhi kualitas semprotan dan kenyamanan penggunaan.Berdasarkan perbandingan tersebut, formula dengan konsentrasi kitosan 10 persen dinilai memberikan kompromi terbaik antara aktivitas antibakteri dan karakteristik kekentalan. Formula ini menghasilkan zona hambat yang tergolong kuat dalam pengujian serta memiliki viskositas yang masih berada dalam rentang sediaan semprot-gel yang dibahas dalam penelitian. Sementara itu, formula 15 persen menghasilkan zona hambat terbesar, tetapi memiliki kekentalan lebih tinggi yang berpotensi mengurangi kenyamanan dan konsistensi penyemprotan.Meski menunjukkan potensi, penelitian ini juga menemukan aspek penting yang perlu diperbaiki sebelum formulasi dapat dikembangkan lebih lanjut. Seluruh formula memiliki nilai pH yang cenderung basa, yakni berkisar antara 8,38 hingga 9,26. Formula 10 persen memiliki pH 9,02, sedangkan formula 15 persen mencapai 9,26. Nilai tersebut masih berada di atas rentang pH yang dinilai sesuai untuk produk yang digunakan pada kulit dalam penelitian.Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan hand sanitizer berbasis kitosan tidak cukup hanya mempertimbangkan kemampuan menghambat bakteri. Pengaturan pH juga menjadi perhatian penting agar formulasi memiliki karakteristik yang lebih sesuai dengan penggunaan pada kulit. Peneliti menyebutkan perlunya optimasi sistem penyangga atau buffer, termasuk melalui pendekatan berbasis sitrat atau laktat, untuk membantu mengendalikan pH pada rentang yang lebih sesuai.Penelitian ini juga menegaskan bahwa aktivitas antibakteri kitosan memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan hand sanitizer berbahan alkohol. Kitosan bekerja melalui interaksi dengan membran bakteri dan aktivitasnya dipengaruhi oleh kondisi formulasi, seperti pH, konsentrasi, serta karakteristik polimer. Karena itu, hasil pengujian menunjukkan potensi kitosan sebagai bahan aktif, tetapi belum membuktikan bahwa produk tersebut dapat menggantikan alkohol secara langsung dalam penggunaan sehari-hari.Ke depan, pengembangan formulasi masih memerlukan pengujian lebih lanjut, terutama untuk mengoptimalkan pH, kekentalan, kemampuan penyemprotan, dan kestabilan produk. Pengujian keamanan pada kulit, termasuk potensi iritasi dan kenyamanan penggunaan berulang, juga diperlukan sebelum produk dapat dinilai lebih jauh untuk aplikasi praktis.Secara keseluruhan, penelitian ini memperlihatkan potensi tulang sotong sebagai sumber kitosan untuk pengembangan hand sanitizer berbentuk semprot. Hasilnya memberikan dasar ilmiah bagi pemanfaatan bahan hasil samping perikanan dalam pengembangan produk kebersihan tangan. Dengan pengendalian karakteristik formulasi dan pengujian lanjutan, kitosan tulang sotong berpeluang dikembangkan sebagai salah satu alternatif bahan aktif nonalkohol yang lebih ramah lingkungan.Artikel penelitian dipublikasikan pada tautan berikut

Pemanfaatan tanaman herbal sebagai bahan pengembangan obat tidak cukup hanya didasarkan pada potensi manfaatnya. Keamanan juga menjadi hal penting yang harus dibuktikan melalui penelitian. Hal inilah yang dilakukan tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dengan menguji kombinasi dua tanaman lokal, yakni daun galing-galing dan daun insulin, yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan herbal antidiabetes.Penelitian yang dilakukan Karunita Ika Astuti, Mohamad Reski Manno, dan Indra ini bertujuan memperoleh gambaran awal mengenai tingkat keamanan kombinasi infusa daun galing-galing (Cayratia trifolia L.) dan daun insulin (Tithonia diversifolia). Kedua tanaman tersebut menjadi perhatian karena mengandung berbagai senyawa alami yang berpotensi dikaji lebih lanjut untuk pengembangan bahan obat berbasis tanaman.Riset bertajuk “Penentuan Toksisitas Akut Kombinasi Infusa Daun Galing-Galing (Cayratia trifolia L.) dan Daun Insulin (Tithonia diversifolia) dengan Metode OECD 425” ini dilaksanakan melalui skema Riset Akselerasi Publikasi Nasional (RAPN) Tahun 2026 pada Bidang Fokus Kesehatan dan Obat Universitas Negeri Gorontalo.Dalam pengembangan obat herbal, pengujian keamanan merupakan tahapan penting sebelum suatu bahan diteliti lebih jauh. Sebab, kandungan alami dalam tanaman tidak serta-merta menjamin bahwa bahan tersebut aman bagi tubuh. Terlebih, penggunaan dua jenis tanaman dalam satu formulasi memerlukan kajian tersendiri untuk mengetahui kemungkinan efek yang muncul ketika keduanya dikombinasikan.Untuk menjawab hal tersebut, tim peneliti menggunakan metode OECD 425, yaitu pedoman pengujian toksisitas akut melalui pemberian bahan secara oral kepada hewan uji. Metode ini digunakan untuk mengamati respons tubuh setelah menerima dosis tertentu, sekaligus memperkirakan tingkat toksisitas bahan yang diuji.Sebelum pengujian dilakukan, daun galing-galing dan daun insulin terlebih dahulu dikumpulkan dan diolah menjadi simplisia atau bahan tanaman kering yang digunakan sebagai bahan awal pembuatan sediaan herbal. Dari proses pengolahan tersebut, sebanyak 3.500 gram daun galing-galing segar menghasilkan 675 gram simplisia, sedangkan 1.500 gram daun insulin segar menghasilkan 340 gram simplisia.Kedua bahan kemudian diolah menjadi infusa, yaitu sediaan yang diperoleh melalui proses penyarian kandungan tanaman menggunakan air. Hasil pemeriksaan fitokimia menunjukkan bahwa infusa tersebut mengandung sejumlah kelompok senyawa alami, yaitu alkaloid, fenol, flavonoid, saponin, dan tanin. Temuan ini memberikan gambaran mengenai kandungan kimia dalam sampel yang diteliti, meskipun keberadaan senyawa tersebut belum dengan sendirinya membuktikan efektivitas maupun keamanan penggunaannya.Pengujian toksisitas akut dilakukan pada tikus betina dengan dosis uji batas sebesar 2.000 miligram per kilogram berat badan. Selama 14 hari, peneliti mengamati kondisi hewan uji untuk mengetahui kemungkinan munculnya tanda-tanda gangguan, seperti perubahan kondisi kulit, bulu, dan mata, serta gejala lesu, tremor, kejang, maupun diare.Hasil pengamatan menunjukkan tidak ditemukan kematian pada hewan uji selama periode penelitian. Tim juga tidak melaporkan munculnya gejala abnormal sebagaimana yang diamati dalam pengujian. Berdasarkan hasil tersebut, estimasi nilai LD50 kombinasi infusa berada di atas 2.000 mg/kg berat badan.LD50 merupakan ukuran dalam ilmu toksikologi untuk memperkirakan dosis suatu bahan yang dapat menyebabkan kematian pada 50 persen hewan uji dalam kondisi pengujian tertentu. Dalam penelitian ini, tidak ditemukannya kematian pada dosis uji batas menunjukkan bahwa tingkat toksisitas akut kombinasi infusa belum mencapai batas yang dapat ditentukan melalui pengujian tersebut. Hasil ini menjadi informasi awal yang penting untuk melanjutkan evaluasi keamanan bahan herbal.Selain mengamati kondisi fisik, peneliti juga memantau perubahan berat badan hewan uji selama 14 hari. Pada kelompok perlakuan, rata-rata berat badan meningkat dari 158,64 gram pada awal pengamatan menjadi 171,6 gram pada akhir pengamatan. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol negatif.Pengamatan juga dilakukan terhadap organ hati, limpa, dan ginjal. Ketiga organ tersebut menjadi perhatian karena memiliki fungsi penting dalam metabolisme, pertahanan tubuh, dan pengeluaran zat sisa. Hasil analisis menunjukkan bahwa indeks ketiga organ tersebut tidak memperlihatkan perbedaan bermakna secara statistik dibandingkan kelompok kontrol negatif.Secara keseluruhan, hasil pengujian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi infusa daun galing-galing dan daun insulin pada dosis yang digunakan tidak menimbulkan kematian maupun gejala toksisitas akut yang teramati selama masa pengamatan. Hasil ini memberikan gambaran awal mengenai respons tubuh terhadap kombinasi kedua tanaman tersebut, sekaligus menjadi dasar untuk penelitian keamanan pada tahap berikutnya.Meski demikian, temuan tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyatakan kombinasi herbal ini aman digunakan oleh manusia atau efektif menurunkan kadar gula darah. Pengujian toksisitas akut hanya memberikan informasi mengenai respons tubuh dalam kondisi dan periode pengamatan tertentu. Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan, termasuk pengujian toksisitas subkronis, untuk mengetahui kemungkinan dampak penggunaan berulang dalam jangka waktu lebih panjang.Melalui skema RAPN 2026, tim peneliti menargetkan publikasi hasil penelitian pada jurnal nasional terakreditasi Sinta 2. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya referensi ilmiah mengenai potensi dan keamanan tanaman herbal lokal, sekaligus mendukung pengembangan penelitian di bidang kesehatan dan obat.Penelitian tersebut menjadi salah satu upaya UNG dalam mendorong pemanfaatan kekayaan hayati lokal melalui pendekatan ilmiah. Dengan pengujian yang bertahap dan berbasis bukti, tanaman herbal tidak hanya dikaji dari sisi potensi manfaatnya, tetapi juga dari aspek keamanan yang menjadi dasar penting dalam pengembangan calon bahan obat.

Teluk Tomini menyimpan potensi perikanan yang besar, termasuk sumber daya cumi-cumi (Loligo spp.) yang menjadi salah satu komoditas penting bagi masyarakat pesisir. Namun, di balik potensi tersebut, keberlanjutan sumber daya cumi-cumi menghadapi sejumlah tantangan. Penelitian Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan adanya kecenderungan penurunan hasil tangkapan yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan perikanan di kawasan Teluk Tomini.Penelitian bertajuk “Integration of ecosystem approach in Loligo spp. resource management in Tomini Bay” dilakukan oleh Yuniarti Koniyo, Abdul H. Olii, Wila R. Nento, dan Muhammad R. Gobel. Penelitian tersebut mengkaji status pengelolaan perikanan cumi-cumi dengan menggunakan pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) dan Flag Model. Pendekatan ini tidak hanya melihat kondisi sumber daya ikan, tetapi juga mempertimbangkan aspek habitat, teknologi penangkapan, sosial, ekonomi, serta kelembagaan.Salah satu temuan penting penelitian terlihat dari perubahan Catch Per Unit Effort (CPUE), yaitu jumlah hasil tangkapan yang diperoleh dalam setiap satuan upaya penangkapan. Data menunjukkan CPUE cumi-cumi di Teluk Tomini turun dari 21,78 kg per perjalanan pada 2019 menjadi 17,02 kg per perjalanan pada 2023. Pada periode yang sama, produksi cumi-cumi juga mengalami penurunan, dari sekitar 4,79 juta kilogram pada 2019 menjadi 3,72 juta kilogram pada 2023.Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap sumber daya cumi-cumi perlu diperhatikan. Penelitian mengindikasikan bahwa peningkatan aktivitas penangkapan belum selalu menghasilkan tangkapan yang lebih tinggi. Kondisi ini dapat berkaitan dengan meningkatnya tekanan penangkapan maupun perubahan lingkungan yang memengaruhi ketersediaan cumi-cumi di perairan.Dari sisi teknologi, nelayan di kawasan Teluk Tomini menggunakan sejumlah alat tangkap, dengan pancing cumi dan circle gill net menjadi alat yang dominan di beberapa wilayah. Penelitian menilai teknologi penangkapan yang digunakan relatif selektif, meskipun risiko tertangkapnya spesies non-target masih ada. Karena itu, peningkatan selektivitas alat tangkap tetap diperlukan agar pemanfaatan sumber daya dapat berlangsung lebih berkelanjutan.Tantangan pengelolaan juga berkaitan dengan kondisi habitat. Penelitian mencatat adanya kerusakan ekosistem terumbu karang akibat aktivitas manusia, termasuk praktik penangkapan yang merusak. Padahal, kondisi habitat memiliki hubungan penting dengan keberadaan dan keberlanjutan sumber daya perikanan. Perubahan lingkungan dan dampak perubahan iklim juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan Teluk Tomini.Persoalan keberlanjutan tidak berhenti pada aspek ekologi. Penelitian menemukan bahwa kondisi ekonomi rumah tangga nelayan cumi-cumi masih relatif rendah, dengan pendapatan yang dalam banyak kasus berada di bawah upah minimum provinsi. Kepemilikan aset produktif dan kemampuan menabung juga masih terbatas. Di sisi sosial, partisipasi berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan dinilai tinggi, tetapi konflik antara nelayan maupun antara nelayan dan pemerintah masih terjadi.Hasil penilaian enam domain EAFM menunjukkan nilai rata-rata pengelolaan sebesar 58 yang masuk kategori sedang. Domain teknologi penangkapan dan sosial memperoleh kategori baik, sementara sumber daya ikan dan aspek ekonomi masih berada pada kategori kurang. Aspek kelembagaan juga memerlukan penguatan, terutama karena belum adanya rencana pengelolaan perikanan Teluk Tomini yang secara khusus diterapkan sebagai dasar pengelolaan bersama.Temuan tersebut menegaskan bahwa menjaga keberlanjutan cumi-cumi di Teluk Tomini membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Peneliti merekomendasikan penggunaan alat tangkap yang semakin selektif, rehabilitasi ekosistem, peningkatan kesejahteraan nelayan, serta penguatan kerja sama antarlembaga dan keterlibatan para pemangku kepentingan.Dengan pendekatan berbasis ekosistem, pengelolaan cumi-cumi tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan hasil tangkapan, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan memastikan sumber daya tersebut tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir dalam jangka panjang.Artikel Penelitian Dipublikasikan Melalui Tautan Berikut

GORONTALO — Tumpukan sampah plastik yang selama ini dipandang sebagai persoalan lingkungan mulai dilihat dari sudut pandang berbeda oleh mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahun 2026. Melalui kegiatan edukasi dan demonstrasi di Desa Luhu, mahasiswa memperkenalkan teknologi pirolisis sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah plastik sekaligus mengajak masyarakat memperkuat kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya.Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal bagaimana plastik tertentu dapat diolah melalui proses pemanasan dalam kondisi oksigen terbatas. Dalam proses pirolisis, uap yang dihasilkan kemudian didinginkan hingga membentuk cairan yang dikenal sebagai minyak pirolisis.Mahasiswa KKN juga menjelaskan bahwa hasil pengolahan tidak hanya ditentukan oleh proses pemanasan, tetapi turut dipengaruhi oleh jenis plastik, kondisi proses, hingga penanganan produk dan residu yang dihasilkan. Karena itu, teknologi pirolisis diperkenalkan bukan sebagai solusi tunggal persoalan sampah, melainkan sebagai bagian dari edukasi dan penjajakan teknologi yang perlu dilakukan secara tepat dan aman.Koordinator Desa KKN, Haikal, mengatakan bahwa perubahan dalam pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana, terutama pemilahan. Teknologi pengolahan perlu dijalankan secara aman dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.Dalam edukasi tersebut, mahasiswa turut menekankan bahwa minyak pirolisis tidak dapat langsung dianggap setara dengan bahan bakar seperti bensin atau solar. Pemanfaatannya membutuhkan pengujian mutu, penilaian emisi, pengelolaan residu, serta perhatian terhadap aspek keselamatan.Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan kegiatan KKN sebagai ruang untuk membangun pemahaman masyarakat secara lebih utuh. Sebelum berbicara mengenai teknologi pengolahan, masyarakat diajak terlebih dahulu memahami pentingnya mengurangi penggunaan plastik dan memilah sampah agar jenis sampah yang terkumpul dapat dikelola sesuai karakteristiknya.Melalui KKN Tematik Infrastruktur 2026, mahasiswa berharap kegiatan ini dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas antara masyarakat dan pemerintah Desa Luhu mengenai sistem pengumpulan sampah plastik, pilihan teknologi yang sesuai, serta langkah tindak lanjut yang dapat dikelola secara berkelanjutan. (**)

Mengonsumsi antibiotik tanpa aturan yang tepat dapat menimbulkan persoalan kesehatan yang lebih besar, salah satunya resistensi antibiotik, yaitu kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap obat yang sebelumnya dapat membunuh atau menghambat pertumbuhannya. Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan antibiotik yang benar, tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengembangkan media edukasi digital bernama Smart Antibiotic Education App.Inovasi ini dirancang sebagai aplikasi edukasi berbasis telepon pintar yang membantu masyarakat memahami fungsi antibiotik, aturan penggunaannya, hingga risiko yang dapat muncul akibat penggunaan obat secara tidak tepat. Tidak hanya menyajikan informasi kesehatan, aplikasi ini juga dilengkapi fitur interaktif dan pengingat yang diharapkan dapat membantu pengguna menerapkan perilaku penggunaan antibiotik secara lebih bijak.Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Fakultas Olahraga dan Kesehatan UNG yang terdiri atas Mohamad Reski Manno dan A. Mu'thi Andy Suryadi dari Jurusan Farmasi, serta Moh. Nisyar Sy. Abd. Azis dari Jurusan Keperawatan. Pengembangan aplikasi tersebut berangkat dari pentingnya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, terutama dalam menghadapi persoalan penggunaan antibiotik yang tidak rasional.Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk menangani infeksi akibat bakteri. Namun, penggunaannya tidak boleh dilakukan sembarangan. Antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengobati infeksi virus seperti flu atau pilek, dan penggunaannya harus berdasarkan penilaian tenaga medis. Penggunaan yang tidak tepat, termasuk tanpa indikasi yang jelas atau tidak mengikuti petunjuk pengobatan, dapat berkontribusi terhadap meningkatnya resistensi antibiotik.Resistensi antibiotik menjadi perhatian kesehatan global karena dapat menyebabkan infeksi lebih sulit ditangani dan membatasi pilihan pengobatan. Salah satu upaya untuk mengendalikan persoalan tersebut adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat agar mampu memahami kapan antibiotik diperlukan dan bagaimana menggunakannya secara benar.Melihat kebutuhan tersebut, tim peneliti UNG menghadirkan Smart Antibiotic Education App sebagai alternatif media edukasi yang dapat diakses secara praktis. Aplikasi ini dirancang agar proses penyampaian informasi kesehatan tidak hanya berlangsung satu arah, tetapi juga melibatkan pengguna melalui berbagai fitur pembelajaran.Di dalam aplikasi tersedia materi edukasi yang membahas pengertian antibiotik, indikasi penggunaannya, kemungkinan efek samping, serta risiko resistensi. Informasi tersebut dilengkapi video edukasi untuk membantu pengguna memahami materi melalui penyajian audiovisual yang lebih menarik dan mudah diikuti.Untuk memperkuat pemahaman, aplikasi juga menyediakan kuis interaktif dengan empat tingkatan, mulai dari Level 1 hingga Level 4. Melalui fitur ini, pengguna dapat menguji pengetahuan setelah mempelajari materi yang tersedia. Selain itu, terdapat fitur pengingat obat berupa notifikasi harian yang dapat membantu pasien mengingat jadwal penggunaan antibiotik sesuai petunjuk pengobatan dari tenaga medis.Efektivitas aplikasi kemudian diuji melalui penelitian kuasi-eksperimental dengan melibatkan 60 responden berusia 18 tahun ke atas di Gorontalo. Pengujian menggunakan rancangan one-group pretest-posttest, yaitu dengan mengukur pengetahuan dan perilaku responden sebelum dan setelah mendapatkan edukasi melalui aplikasi.Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada kedua aspek yang diukur. Rata-rata skor pengetahuan responden meningkat dari 27,18 sebelum menggunakan aplikasi menjadi 34,67 setelah intervensi edukasi. Sementara itu, skor perilaku penggunaan antibiotik secara rasional juga mengalami peningkatan, dari rata-rata 27,63 menjadi 33,92.Hasil analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa perubahan pada kedua aspek tersebut signifikan secara statistik, dengan nilai p < 0,001. Temuan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan perubahan skor perilaku responden setelah mengikuti edukasi melalui Smart Antibiotic Education App.Hasil tersebut memberikan gambaran bahwa pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi kesehatan. Penyampaian materi melalui aplikasi yang dilengkapi video, kuis, dan pengingat memberikan pengalaman edukasi yang lebih interaktif dibandingkan penyampaian informasi secara konvensional.Meski demikian, pengembangan aplikasi ini masih memerlukan pengujian lebih lanjut dengan cakupan responden yang lebih luas dan kelompok pembanding untuk mengetahui efektivitasnya dalam jangka panjang. Penggunaan fitur pengingat juga perlu ditempatkan sebagai alat bantu kepatuhan, bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan atau penentu perubahan jadwal pengobatan secara mandiri.Melalui inovasi Smart Antibiotic Education App, tim peneliti UNG berharap dapat berkontribusi dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya mengenai penggunaan antibiotik yang bijak dan rasional. Pengembangan media edukasi digital semacam ini diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan resistensi antibiotik melalui peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat.Inovasi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana pemanfaatan teknologi digital dapat diarahkan untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat. Dengan pendekatan edukasi yang lebih mudah diakses dan interaktif, hasil penelitian perguruan tinggi diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

GORONTALO – Batang sorgum manis ternyata menyimpan potensi lebih dari sekadar bagian tanaman. Melalui kajian ilmiah, peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama peneliti dari sejumlah institusi mengungkap peluang pemanfaatan batang sorgum menjadi sirup alami yang tidak hanya berfungsi sebagai pemanis, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai bahan fungsional dalam berbagai produk pangan.Potensi tersebut dibahas dalam artikel review berjudul Sweet sorghum (Sorghum bicolor var. saccharatum (L.) Mohlenbr.) syrup: sustainable food upcycling and functional enhancement in animal products yang diterbitkan dalam Discover Food Volume 5 Tahun 2025.Dalam kajian tersebut, Agus Bahar Rachman dan Eduart Wolok dari Universitas Negeri Gorontalo turut berkontribusi bersama peneliti dari sejumlah institusi lainnya. Artikel ini merangkum berbagai hasil penelitian mengenai sirup sorgum manis, mulai dari proses produksi, komposisi nutrisi dan senyawa fenolik, hingga pemanfaatannya dalam pengembangan produk pangan berbasis susu, daging, maupun bakery.Kajian ini sekaligus menempatkan pemanfaatan sirup sorgum dalam perspektif food upcycling, yaitu upaya meningkatkan nilai guna suatu sumber daya pangan melalui pengolahan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Dalam konteks sorgum manis, batang tanaman yang mengandung sari manis dapat diekstraksi, dijernihkan, kemudian melalui proses evaporasi untuk menghasilkan sirup.Pemanfaatan tersebut membuka peluang pengembangan produk pangan berbasis hasil pertanian sekaligus mendukung pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam pemanfaatan sumber daya.Tidak Hanya Menghasilkan Rasa ManisMenariknya, sirup sorgum tidak hanya memiliki kandungan gula yang memberikan rasa manis. Berdasarkan berbagai penelitian yang dirangkum dalam kajian, sirup sorgum mengandung karbohidrat, protein, mineral, serta sejumlah senyawa fenolik.Kandungan tersebut dapat berbeda bergantung pada varietas sorgum, kondisi lingkungan, dan proses pengolahan. Sirup sorgum juga mengandung glukosa, fruktosa, dan sukrosa, dengan tingkat kemanisan yang dilaporkan sekitar 66–88 persen dibandingkan sukrosa.Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah keberadaan senyawa fenolik, antara lain asam ferulat, asam kafeat, p-kumarat, dan sinapat. Berbagai senyawa tersebut menjadi bagian dari karakter sirup sorgum yang menarik untuk dikaji lebih lanjut karena berkaitan dengan potensi aktivitas antioksidan dan fungsi tambahan dalam produk pangan.Berpeluang Dikembangkan pada Beragam Produk PanganKajian yang dilakukan menunjukkan bahwa sirup sorgum telah diteliti dalam berbagai formulasi pangan. Pada produk berbasis daging, misalnya, penggunaan sirup sorgum pada sosis dilaporkan dapat membantu memperlambat oksidasi lipid selama penyimpanan. Komponen sirup juga berpotensi berinteraksi dengan protein dan memengaruhi sifat gel serta tekstur produk.Sementara itu, pada produk berbasis susu, sirup sorgum telah dikaji dalam pengembangan soft ice cream. Hasil penelitian yang dirangkum menunjukkan bahwa produk hasil reaksi Maillard dapat memengaruhi karakter fisik dan kimia es krim, termasuk tekstur dan kapasitas antioksidannya.Potensi serupa juga terlihat pada produk bakery. Salah satu penelitian yang dirangkum menunjukkan bahwa penggunaan hingga 20 persen sirup sorgum sebagai pengganti gula dalam pembuatan kue masih mampu mempertahankan tinggi, volume, dan tekstur produk. Hasil pengujian sensori juga tidak menunjukkan perbedaan rasa yang signifikan dibandingkan kue berbahan gula biasa.Selain itu, sirup sorgum telah dikaji dalam berbagai produk lain, seperti kukis, biskuit, roti manis, permen, dan toffee. Temuan tersebut memperlihatkan luasnya peluang pengembangan sirup sorgum dalam inovasi formulasi pangan.Pentingnya Pengendalian Proses PengolahanMeskipun menawarkan berbagai peluang, kajian tersebut juga menekankan pentingnya pengendalian selama proses pengolahan, terutama terkait reaksi Maillard.Reaksi antara gula dan protein selama pemanasan berperan dalam pembentukan warna, aroma, dan cita rasa makanan. Dalam kondisi yang terkendali, reaksi tersebut dapat memberikan karakter yang diinginkan pada produk. Namun, pemanasan yang berlebihan berpotensi menghasilkan senyawa yang tidak diinginkan.Karena itu, pengaturan suhu dan waktu pemrosesan menjadi aspek penting dalam pengembangan produk pangan berbasis sirup sorgum.Memperkuat Pemanfaatan Sumber Daya PertanianKontribusi Agus Bahar Rachman dan Eduart Wolok bersama peneliti lainnya dalam kajian tersebut memperkaya pembahasan mengenai peluang pemanfaatan sorgum manis sebagai bahan pangan bernilai tambah.Kajian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sorgum dapat diarahkan tidak hanya pada hasil bijinya, tetapi juga pada bagian batang melalui pengolahan menjadi sirup. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya mengoptimalkan sumber daya pertanian sekaligus mendorong inovasi produk pangan yang lebih berkelanjutan.Bagi pengembangan pangan berbasis bahan lokal, sirup sorgum memiliki peluang untuk terus dikaji, terutama dalam menentukan formulasi, kondisi pengolahan, serta karakteristik produk yang paling sesuai.Melalui kajian tersebut, sorgum manis menunjukkan potensi sebagai salah satu sumber bahan pangan alternatif yang dapat dikembangkan lebih jauh. Dari batang tanaman yang sederhana, terbuka peluang menghadirkan produk pemanis sekaligus bahan fungsional yang dapat digunakan dalam berbagai inovasi pangan.Kontribusi peneliti UNG dalam kajian tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan hasil penelitian untuk mendukung inovasi pangan, peningkatan nilai tambah sumber daya pertanian, serta pengembangan pangan yang lebih berkelanjutan.Artikel Penelitian Dipublikaskan Melalui Laman Berikut

Mangrove selama ini dikenal sebagai benteng alami yang melindungi kawasan pesisir dari abrasi sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut. Namun, di balik fungsi ekologisnya, tanaman mangrove ternyata menyimpan potensi lain yang menarik untuk dikembangkan, khususnya dalam pengolahan hasil perikanan.Potensi tersebut terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh Risky S. Maulanan, Lukman Mile, dan Fernandy M. Djailani dari Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian mereka mengkaji pemanfaatan buah mangrove Rhizophora mucronata sebagai bahan pengawet alami untuk menjaga kualitas fillet ikan cakalang (Katsuwonus pelamis).Penelitian yang diterbitkan dalam Applied Environmental Science Vol. 2 No. 2 Tahun 2025 tersebut berjudul “Effectiveness of Water Extract of Mangrove Fruit Flour (Rhizophora mucronata) as a Natural Preservative in Skipjack Fish Fillets (Katsuwonus pelamis)”.Dari Hutan Mangrove ke Teknologi Pengawetan IkanGagasan penelitian ini berangkat dari dua potensi yang dimiliki Gorontalo, yakni kekayaan ekosistem mangrove dan besarnya potensi perikanan tangkap, terutama ikan cakalang.Ikan cakalang merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomi, tetapi seperti produk ikan segar lainnya, kualitasnya relatif mudah mengalami penurunan. Aktivitas mikroorganisme menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat kerusakan ikan sehingga diperlukan teknologi penanganan pascapanen yang mampu mempertahankan mutu produk.Di sisi lain, buah Rhizophora mucronata diketahui mengandung sejumlah senyawa bioaktif. Para peneliti kemudian mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatannya sebagai sumber bahan pengawet alami.Dalam penelitian tersebut, buah mangrove dikeringkan dan diolah menjadi tepung. Tepung kemudian diekstraksi menggunakan air melalui proses pemanasan pada suhu 70°C selama 30 menit. Ekstrak yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk merendam fillet ikan cakalang.Peneliti menguji beberapa lama waktu perendaman, yakni 10, 12, dan 14 jam. Kualitas ikan kemudian diamati melalui sejumlah parameter, antara lain penilaian organoleptik, pH, serta Total Plate Count (TPC) untuk mengetahui jumlah mikroorganisme yang terdapat pada ikan setelah perlakuan.Senyawa Alami yang Menahan Pertumbuhan BakteriHasil uji fitokimia memberikan petunjuk penting. Ekstrak tepung buah Rhizophora mucronata diketahui mengandung alkaloid dan triterpenoid.Kedua kelompok senyawa tersebut dikaitkan dengan aktivitas antibakteri sehingga berpotensi membantu menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk pada bahan pangan. Temuan inilah yang menjadi salah satu dasar pemanfaatan ekstrak buah mangrove sebagai bahan pengawet alami pada fillet ikan cakalang.Salah satu indikator yang menarik terlihat dari hasil pengujian TPC. Pada ikan yang tidak mendapatkan perlakuan perendaman, nilai TPC tercatat sekitar 27,09 × 10³. Setelah direndam selama 10 jam, nilainya turun menjadi 15,39 × 10³.Penurunan lebih lanjut terlihat pada perendaman selama 12 jam, dengan nilai TPC mencapai 8,38 × 10³. Sementara itu, pada perendaman selama 14 jam, nilai TPC tercatat 10,82 × 10³.Data tersebut menunjukkan adanya kemampuan ekstrak buah mangrove dalam menahan pertumbuhan bakteri. Nilai TPC terendah dalam penelitian justru ditemukan pada perlakuan perendaman selama 12 jam.Tidak Hanya Bakteri, Mutu Ikan Juga DiamatiPengawetan bahan pangan tentu tidak hanya berbicara mengenai jumlah bakteri. Karakteristik yang dapat dilihat dan dirasakan konsumen juga menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas produk. Karena itu, penelitian turut mengamati penampakan, aroma, dan tekstur fillet ikan.Pada parameter aroma, ikan yang mendapat perlakuan perendaman masih menunjukkan karakteristik aroma yang relatif segar. Peneliti mengaitkan kondisi tersebut dengan keberadaan senyawa antibakteri dalam ekstrak mangrove yang dapat membantu menghambat aktivitas mikroorganisme penyebab penurunan mutu.Namun, lama perendaman tetap perlu diperhatikan. Pada parameter tekstur, terjadi perubahan antara ikan tanpa perlakuan dan ikan yang direndam selama 10, 12, maupun 14 jam. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak alami sebagai bahan pengawet tetap membutuhkan pengaturan waktu yang tepat agar efektivitas pengawetan tidak mengorbankan karakteristik fisik produk.Sementara itu, hasil pengukuran pH berada pada kisaran 5,46–6,04 dan menunjukkan kecenderungan menurun seiring bertambahnya lama perendaman. Dalam penelitian tersebut, seluruh perlakuan berada pada kondisi asam.Menjaga Ikan, Memanfaatkan Potensi LokalTemuan penelitian ini menarik bukan semata-mata karena buah mangrove dapat digunakan untuk membantu menghambat pertumbuhan bakteri. Lebih jauh, penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana sumber daya lokal dapat dihubungkan dengan kebutuhan teknologi pengolahan hasil perikanan.Gorontalo memiliki kawasan mangrove sekaligus potensi perikanan tangkap yang besar. Menghubungkan kedua sumber daya tersebut melalui penelitian membuka peluang lahirnya inovasi yang berbasis pada kekayaan lokal.Pemanfaatan bahan alami juga dapat menjadi salah satu arah pengembangan teknologi pengawetan yang lebih berkelanjutan. Namun, penerapannya tentu tetap membutuhkan kajian lanjutan untuk menentukan formulasi, konsentrasi, waktu perendaman, keamanan pangan, serta karakteristik produk yang paling sesuai.Dalam artikel penelitian tersebut, perendaman selama 10 jam disebut sebagai waktu optimal berdasarkan indikator kualitas organoleptik, aroma, dan tekstur. Sementara hasil pengujian TPC menunjukkan bahwa ekstrak tetap memiliki kemampuan menahan pertumbuhan bakteri hingga periode perendaman yang lebih panjang.Pada bagian kesimpulan, penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak buah Rhizophora mucronata dapat memberikan daya tahan hingga 14 jam berdasarkan parameter aroma. Namun, perubahan penampakan dan tekstur tetap perlu diperhatikan karena berkaitan dengan proses oksidasi kimia.Dari Konservasi ke InovasiPenelitian yang dilakukan para akademisi FKTP UNG ini memberikan gambaran bahwa mangrove tidak hanya penting untuk dipertahankan karena fungsi ekologisnya. Potensi sumber daya yang terkandung di dalamnya juga dapat menjadi objek penelitian untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.Pemanfaatan buah mangrove sebagai bahan pengawet alami mempertemukan dua kepentingan sekaligus: menjaga kualitas hasil perikanan dan mengeksplorasi potensi sumber daya lokal secara lebih bijaksana.Bagi Gorontalo, pendekatan semacam ini membuka ruang pengembangan teknologi pascapanen yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga pada pemanfaatan kekayaan hayati daerah.Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari bahan atau teknologi yang jauh dari lingkungan sekitar. Di kawasan pesisir Gorontalo, salah satu jawabannya mungkin justru tumbuh di antara akar-akar mangrove—menunggu untuk diteliti, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.Artikel Penelitian Dipublikasikan Melalui Tautan Berikut