Site Logo
Semua Berita
Semua Berita Siaran PersPenelitianPengumumanUNG BerdampakPengabdianSNPMBKemdikti SaintekMBKMSDGsPrestasi MahasiswaKerjasamaKemahasiswaanCampus LifeAkademikAkreditasiUmumJDIH
Dari Limbah Jadi Berkah, Inovasi BioNira Zero Waste UNG Buka Peluang Ekonomi di Dulamayo Selatan
14 Oct 2026
05:40 WITA

Dari Limbah Jadi Berkah, Inovasi BioNira Zero Waste UNG Buka Peluang Ekonomi di Dulamayo Selatan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Limbah pengolahan gula aren yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, kini dikembangkan menjadi produk bernilai tambah oleh tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui inovasi BioNira Zero Waste, limbah kolang-kaling dan kulitnya diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber serta pelet biomassa, yang berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Dulamayo Selatan, Kabupaten Gorontalo.Program bertajuk “BioNira Zero Waste: Inovasi Nano Fiber dan Pelet Biomassa Limbah Biji Nira Berbasis Pemberdayaan Karang Taruna Dulamayo Selatan” ini dilaksanakan oleh Rifka Anggraini Anggai, M.Farm., Dr. Dra. Ha. Sri Endang Saleh, M.Si., dan Angry Pratama Solihin, M.Sc. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat, yang memperoleh pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kemdiktisaintek Tahun 2026.Gagasan ini berangkat dari pengamatan tim terhadap aktivitas pengolahan gula aren di Desa Dulamayo Selatan, yang melibatkan banyak pengrajin dan pelaku usaha. Di balik aktivitas ekonomi tersebut, terdapat limbah yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Kondisi ini mendorong tim menghadirkan pendekatan zero waste dengan mengolah sisa bahan produksi, menjadi produk baru sekaligus melibatkan Karang Taruna sebagai mitra utama dalam pengembangan inovasi di tingkat desa.Ketua tim pengabdian, Rifka Anggraini Anggai, menjelaskan bahwa program ini memanfaatkan kolang-kaling dan kulit kolang-kaling untuk menghasilkan dua jenis produk berbeda. Kolang-kaling diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber, menggunakan peralatan yang diserahkan kepada pengurus Karang Taruna, sedangkan kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan baku pelet biomassa yang lebih ramah lingkungan.“Buah kolang-kaling kami olah dengan beberapa alat yang kami berikan kepada pengurus Karang Taruna untuk dijadikan serbuk serat Nano Fiber, sementara kulitnya dijadikan pelet biomassa yang ramah lingkungan,” jelas Rifka.Tidak berhenti pada penyediaan peralatan, tim UNG juga memberikan pendampingan agar mitra mampu menjalankan proses produksi secara lebih terarah. Pendampingan mencakup tahapan pengolahan bahan baku, hingga penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan serbuk serat Nano Fiber dan pelet biomassa. Langkah ini diharapkan menjadi fondasi bagi mitra, untuk menjaga konsistensi proses produksi dan mengembangkan kegiatan secara berkelanjutan.Penguatan kapasitas mitra juga diarahkan pada aspek pemasaran dan digital branding. Melalui pemanfaatan berbagai platform digital, produk yang dikembangkan diharapkan memiliki peluang untuk dikenal lebih luas. Dengan demikian, pemberdayaan tidak hanya berfokus pada keterampilan mengolah limbah, tetapi juga pada kemampuan mengelola produksi dan memperkenalkan produk kepada calon konsumen.Melalui BioNira Zero Waste, UNG mendorong perubahan cara pandang terhadap limbah hasil pengolahan aren, dari sisa produksi yang belum termanfaatkan menjadi sumber daya yang berpotensi menghasilkan nilai ekonomi. Keterlibatan Karang Taruna menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan masyarakat, untuk mengelola inovasi secara mandiri sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam pengembangan potensi desa.Program ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pemanfaatan limbah aren yang lebih produktif di Desa Dulamayo Selatan. Dengan dukungan teknologi tepat guna, pendampingan, dan penguatan pemasaran, inovasi BioNira Zero Waste mencerminkan upaya UNG dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus membuka peluang bagi tumbuhnya kegiatan ekonomi berbasis pemanfaatan sumber daya lokal.

UNG Siapkan Lulusan Go Global, Perkuat Kerja Sama Pelatihan Calon Pekerja Migran Indonesia
13 Oct 2026
08:01 WITA

UNG Siapkan Lulusan Go Global, Perkuat Kerja Sama Pelatihan Calon Pekerja Migran Indonesia

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Peluang berkarier di luar negeri kini semakin terbuka bagi lulusan Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui kerja sama dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) melalui Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Utara, UNG memperkuat langkah menyiapkan sumber daya manusia terdidik yang memiliki keterampilan, kemampuan bahasa asing, dan pemahaman tentang pelindungan pekerja migran.Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara UNG dan KemenP2MI/BP2MI melalui BP3MI Sulawesi Utara, Senin (12/10/2026). Penandatanganan dilakukan langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU, ASEAN Eng., dan Kepala BP3MI Sulawesi Utara, AKBP Hendrick Situmorang, S.H., S.I.K., M.Si.Kerja sama ini difokuskan pada penguatan kapasitas dan keterampilan calon pekerja migran terdidik asal Gorontalo. Melalui program prioritas SMK Go Global, UNG dipersiapkan menjadi pusat pelatihan intensif bahasa asing sekaligus pembekalan kompetensi kerja agar calon pekerja migran memiliki kesiapan yang lebih baik sebelum memasuki pasar kerja internasional.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT.,menegaskan bahwa peluang kerja global perlu ditangkap secara strategis, terutama di tengah bonus demografi Indonesia. Sejumlah negara, seperti Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, Australia, hingga negara-negara Eropa, menghadapi tantangan penuaan penduduk dan kebutuhan tenaga kerja produktif. Kondisi tersebut membuka peluang bagi tenaga kerja Indonesia yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan negara tujuan.“Perguruan tinggi memiliki peran penting untuk memastikan lulusan tidak hanya mengantongi ijazah, tetapi juga mempunyai keterampilan praktis, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing, serta kesiapan menghadapi lingkungan kerja yang berbeda,” ungkapnya.Untuk mendukung program tersebut, UNG akan mengoptimalkan fasilitas Unit Pelaksana Akademik (UPA) Bahasa sebagai sarana penguatan kemampuan bahasa asing. Selain itu, fasilitas Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa) UNG direncanakan dapat dimanfaatkan sebagai pusat pelatihan terpadu untuk mendukung pelaksanaan program.Melalui dukungan fasilitas dan kolaborasi antarlembaga, program ini diharapkan dapat membantu mempersiapkan calon pekerja migran yang profesional, kompetitif, dan memahami hak serta mekanisme pelindungan hukum selama bekerja di luar negeri. Aspek keselamatan, prosedur penempatan yang sesuai ketentuan, dan pemahaman terhadap negara tujuan menjadi bagian penting agar peluang kerja internasional dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab.“Kerja sama ini sekaligus memperluas peran UNG dalam menyiapkan lulusan menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin terbuka. Kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja global,” ujar Rektor.Melalui kemitraan tersebut, UNG berharap semakin banyak putra-putri Gorontalo yang mampu bersaing di tingkat internasional dengan bekal pendidikan, keterampilan, dan pemahaman pelindungan yang memadai. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen UNG untuk memperluas kesempatan lulusan, memperkuat daya saing sumber daya manusia, dan menghadirkan dampak pendidikan tinggi yang lebih luas bagi masyarakat.

Raih Prestasi Gold Medal dan Best Paper, Mahasiswa Fakultas Teknik UNG Bersinar di Idea Fest 6
12 Oct 2026
01:43 WITA

Raih Prestasi Gold Medal dan Best Paper, Mahasiswa Fakultas Teknik UNG Bersinar di Idea Fest 6

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Dua mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) membuktikan bahwa gagasan, yang dikembangkan melalui proses akademik mampu bersaing dan mendapat pengakuan di tingkat nasional. Adelia Syafarusi Sahadat dan Haida Arianti, mahasiswa Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik (FT) UNG, berhasil meraih Gold Medal sekaligus penghargaan Best Paper pada ajang Idea Fest 6 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 10–11 Oktober 2026, di Malang.Prestasi tersebut diraih pada subtema Pariwisata dan Budaya. Raihan dua penghargaan sekaligus menjadi pencapaian membanggakan karena tidak hanya menunjukkan keberhasilan tim dalam kompetisi, tetapi juga menegaskan pengakuan terhadap kualitas karya tulis ilmiah yang mereka hasilkan.Gold Medal menjadi apresiasi atas capaian dalam kompetisi, sementara penghargaan Best Paper menunjukkan bahwa karya yang diusung memiliki kualitas penulisan ilmiah yang mendapat pengakuan dari penyelenggara. Prestasi ini sekaligus memperlihatkan kemampuan mahasiswa Teknik Industri UNG dalam mengembangkan gagasan analitis dan inovatif pada isu yang melampaui bidang keilmuan mereka.Keberhasilan Adelia dan Haida tidak terlepas dari persiapan dan pendampingan akademik yang mereka jalani. Keduanya merupakan mahasiswa bimbingan Idham Halid Lahay, S.T., M.Sc., yang mendampingi proses pengembangan gagasan hingga persiapan mengikuti kompetisi.Pendampingan dosen menjadi bagian penting dalam mempertajam ide, memperkuat substansi karya, serta mempersiapkan mahasiswa menyampaikan gagasan secara ilmiah. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi dapat berkembang menjadi karya nyata yang memperoleh apresiasi di luar lingkungan kampus.Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNG, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menyampaikan apresiasi atas pencapaian kedua mahasiswa tersebut beserta peran dosen pembimbing. Menurutnya, prestasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya akademik yang mendorong mahasiswa untuk aktif berkarya, mengikuti kompetisi, dan mengembangkan kemampuan komunikasi ilmiah.Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya, agar semakin percaya diri membawa gagasan dan karya mereka ke berbagai forum kompetitif.“Penghargaan yang diraih melalui proses pembimbingan akademik juga menunjukkan pentingnya lingkungan kampus, dalam menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan kreativitas,” terangnya.Raihan Gold Medal dan Best Paper oleh Adelia Syafarusi Sahadat dan Haida Arianti menjadi kebanggaan bagi fakultas dan juga universitas. Prestasi ini diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya lebih banyak karya mahasiswa yang inovatif, berkualitas, dan mampu memberikan kontribusi melalui forum akademik di tingkat nasional maupun internasional. (**)

Perkuat Kelimuan Arsitektur dan Teknologi Bangunan, Dosen UNG Tempuh Doktor Double Degree di ITB dan Loughborough University
12 Oct 2026
00:48 WITA

Perkuat Kelimuan Arsitektur dan Teknologi Bangunan, Dosen UNG Tempuh Doktor Double Degree di ITB dan Loughborough University

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Kesempatan menimba ilmu di dua perguruan tinggi, Indonesia dan Inggris, menjadi langkah penting bagi Abdi Gunawan Djafar, dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dalam memperdalam keilmuan sekaligus memperluas pengalaman riset bertaraf internasional. Dosen Jurusan S1 Arsitektur dan Program Studi D-IV Arsitektur Bangunan Gedung tersebut kini tengah menempuh pendidikan doktor melalui program Double Degree hasil kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Loughborough University (LU), Inggris.Pendidikan doktoral Abdi didukung beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia (PDDI) skema Double Degree dari kementerian terkait, dengan pendanaan penuh. Program ini dirancang selama tiga tahun atau 36 bulan, dengan pembagian masa studi dan riset di kedua institusi untuk memberikan pengalaman akademik lintas lingkungan pendidikan dan penelitian.Memulai studi doktoral pada 2025, Abdi menjalani perkuliahan dan pendalaman teori selama 12 bulan di ITB. Tahap berikutnya adalah riset intensif selama 18 bulan di School of Architecture, Building and Civil Engineering, Loughborough University. Setelah itu, ia dijadwalkan kembali ke ITB selama enam bulan untuk menuntaskan tahap akhir penyusunan disertasi.Dalam pendidikan doktoralnya, Abdi memusatkan perhatian pada bidang Sains dan Teknologi Bangunan. Penelitian ini dibimbing oleh tim promotor dari ITB dan Loughborough University, sehingga membuka ruang untuk mengintegrasikan perspektif keilmuan, pendekatan penelitian, dan pengalaman akademik dari dua institusi.Bagi Abdi, kesempatan tersebut tidak sekadar menjadi pencapaian akademik pribadi. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama studi di Indonesia dan Inggris diharapkan dapat dibawa kembali ke kampus untuk memperkuat pembelajaran dan penelitian di Fakultas Teknik UNG, khususnya pada bidang arsitektur dan teknologi bangunan.Pengalaman belajar di dua lingkungan akademik juga menjadi peluang untuk memperluas jejaring riset dan mengenal pendekatan pengembangan ilmu pengetahuan dalam konteks internasional. Bekal tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan materi pembelajaran, peningkatan kualitas penelitian, serta terbukanya peluang kolaborasi akademik yang lebih luas bagi sivitas akademika UNG.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., mengapresiasi keikutsertaan Abdi dalam program doktoral Double Degree. Menurutnya, kesempatan menempuh pendidikan lanjut di perguruan tinggi terkemuka menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualifikasi dan kompetensi dosen, yang pada akhirnya harus bermuara pada penguatan mutu pendidikan dan pengembangan institusi.Eduart menekankan bahwa kompetensi yang diperoleh dosen melalui pendidikan doktoral diharapkan tidak berhenti pada individu, tetapi dapat ditransfer melalui kegiatan pembelajaran, penelitian, publikasi ilmiah, dan berbagai aktivitas akademik yang memberikan manfaat bagi mahasiswa serta pengembangan program studi.“Keikutsertaan Abdi Gunawan Djafar dalam program doktoral Double Degree menjadi salah satu langkah pengembangan sumber daya manusia UNG melalui pendidikan bertaraf internasional,” ujar Eduart.Dengan penguatan kompetensi dosen dan perluasan jejaring akademik, UNG terus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang inovatif, kolaboratif, dan kompetitif sebagai bagian dari upaya mewujudkan universitas yang unggul dan berdaya saing.

Ratri Rahmatya Hiola, Mahasiswa FEB UNG, Tampil di World Economic & Leadership Forum 2026
08 Oct 2026
03:41 WITA

Ratri Rahmatya Hiola, Mahasiswa FEB UNG, Tampil di World Economic & Leadership Forum 2026

Rachmad Hidayah

Denpasar — Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Ratri Rahmatya Hiola, menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia bagian timur yang tampil sebagai presenter sekaligus Impact Delegate pada World Economic & Leadership Forum (WELF) 2026.Forum internasional yang diselenggarakan oleh Sustainable Development League bekerja sama dengan Warmadewa University tersebut berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 di Denpasar, Bali. WELF 2026 mempertemukan generasi muda dari berbagai negara, di antaranya Rusia, Malaysia, Vietnam, Bangladesh, Uzbekistan, London, Papua Nugini, dan Indonesia, untuk membahas berbagai isu strategis terkait ekonomi global, teknologi, rekonstruksi, perubahan iklim, serta kepemimpinan generasi muda.Dalam forum tersebut, Ratri membawa nama Universitas Negeri Gorontalo dan berpartisipasi dalam berbagai rangkaian diskusi sebagai Impact Delegate. Kehadirannya menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa UNG dalam membawa perspektif akademik ke ruang diskusi internasional yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang dan negara.Tidak hanya mengikuti rangkaian forum, Ratri juga berkesempatan mempresentasikan proyek bertajuk “Youth Economic Policy Lab: Building Economic Resilience in an Uncertain Global Environment.” Gagasan tersebut merupakan inisiatif berbasis kepemudaan yang dirancang untuk menghubungkan economic research, policy dialogue, dan youth engagement dalam membangun pemahaman serta pemikiran kebijakan ekonomi yang lebih responsif terhadap ketidakpastian global.Melalui Youth Economic Policy Lab, mahasiswa dan generasi muda diarahkan untuk memahami berbagai persoalan ekonomi melalui pendekatan berbasis data. Gagasan tersebut juga membuka ruang bagi generasi muda untuk berdiskusi bersama akademisi dan praktisi, sekaligus menerjemahkan hasil kajian menjadi gagasan serta rekomendasi yang lebih mudah dipahami masyarakat.“Youth Economic Policy Lab saya gagas sebagai ruang yang menghubungkan penelitian ekonomi dengan diskusi kebijakan dan keterlibatan anak muda. Saya melihat bahwa generasi muda tidak hanya perlu memahami bagaimana kebijakan ekonomi memengaruhi kehidupan mereka, tetapi juga perlu memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan dan terlibat dalam pembahasan isu ekonomi,” ujar Ratri.Gagasan yang dibawa Ratri dalam forum tersebut turut berangkat dari pengalaman akademiknya dalam melakukan penelitian mengenai kebijakan fiskal dan Foreign Direct Investment (FDI) di negara-negara ASEAN+3 periode 2010–2023.Penelitian tersebut menjadi salah satu pijakan dalam melihat bagaimana data dan riset ekonomi dapat dimanfaatkan untuk memahami hubungan antara kebijakan fiskal, kondisi makroekonomi, dan investasi dalam menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi global.Melalui proyek tersebut, Ratri menekankan bahwa economic resilience tidak hanya berkaitan dengan kemampuan suatu negara menghadapi guncangan ekonomi. Menurutnya, ketahanan ekonomi juga membutuhkan kebijakan yang kredibel, kapasitas fiskal yang kuat, investasi produktif, serta keterlibatan masyarakat dan generasi muda dalam memahami berbagai persoalan ekonomi.“Pengalaman mengikuti WELF membuat saya melihat bahwa persoalan ekonomi tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kebijakan atau satu indikator. Ketahanan ekonomi membutuhkan kombinasi antara kebijakan yang baik, institusi yang kuat, investasi produktif, dan keterlibatan berbagai pihak. Di sinilah saya melihat ruang bagi generasi muda untuk berkontribusi melalui riset, dialog, dan aksi,” lanjut Ratri.Keikutsertaan dalam WELF 2026 diharapkan dapat menjadi ruang bagi Ratri untuk terus mengembangkan gagasan Youth Economic Policy Lab, khususnya sebagai wadah pembelajaran dan diskusi bagi mahasiswa dalam memahami isu ekonomi dan kebijakan publik secara lebih kritis serta berbasis bukti.Partisipasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa FEB UNG dalam memperluas jejaring akademik dan membawa perspektif Universitas Negeri Gorontalo ke dalam forum internasional. Kehadiran Ratri juga menunjukkan peran mahasiswa UNG dalam mengambil bagian pada diskusi mengenai ekonomi, pembangunan, dan tantangan global yang semakin kompleks.

Dari UNG untuk Indonesia, Mahasiswa dan Alumni FOK UNG Persembahkan Medali di Asian Games 2026
08 Oct 2026
02:25 WITA

Dari UNG untuk Indonesia, Mahasiswa dan Alumni FOK UNG Persembahkan Medali di Asian Games 2026

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas akademika Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di panggung olahraga internasional. Mahasiswa dan alumni Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) UNG turut berkontribusi, mempersembahkan medali bagi Indonesia pada ajang Asian Games 2026 melalui cabang olahraga sepak takraw.Tiga insan olahraga yang memiliki keterkaitan dengan FOK UNG, tampil membawa nama Indonesia di kompetisi olahraga terbesar di Asia tersebut. Mereka adalah mahasiswa UNG Jelki Ladada, serta dua alumni Gelvin Usman dan Rizki Yusuf Djaina.Jelki Ladada berhasil mencatatkan prestasi dengan menyumbangkan medali perak dan perunggu untuk kontingen Indonesia. Sementara itu, dua alumni FOK UNG, Gelvin Usman dan Rizki Yusuf Djaina, masing-masing turut mempersembahkan medali perunggu bagi Merah Putih.Raihan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi UNG, khususnya Fakultas Olahraga dan Kesehatan. Prestasi para atlet tidak hanya menunjukkan kemampuan mereka bersaing di tingkat Asia, tetapi juga menjadi gambaran kontribusi pendidikan dan pembinaan olahraga di lingkungan kampus.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi atas pencapaian mahasiswa dan alumni Jurusan Pendidikan Kepelatihan dan Olahraga FOK UNG tersebut. Menurutnya, keberhasilan membawa pulang medali dari Asian Games merupakan pencapaian luar biasa yang membanggakan seluruh sivitas akademika UNG.“Keberhasilan meraih medali perak dan perunggu pada cabang olahraga sepak takraw merupakan sebuah pencapaian luar biasa dan membanggakan, khususnya bagi sivitas akademika UNG,” ungkap Eduart.Menurut Rektor, prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan kualitas pembinaan olahraga yang terus dikembangkan FOK UNG. Cabang olahraga sepak takraw menjadi salah satu bidang, yang menunjukkan kontribusi nyata melalui kiprah mahasiswa dan alumni di tingkat internasional.“Capaian Jelki, Gelvin, dan Rizki menjadi bukti bahwa perjalanan seorang atlet tidak berhenti ketika meninggalkan ruang kelas. Dari kampus, mereka membawa bekal pendidikan, pembinaan, dan pengalaman untuk kemudian tampil di panggung Asia dengan membawa nama Indonesia,” terangnya.Prestasi tersebut diharapkan semakin memotivasi mahasiswa UNG untuk mengembangkan potensi, baik di bidang akademik maupun olahraga. Di sisi lain, capaian ketiga atlet tersebut menjadi bentuk komitmen UNG dalam membina atlet terbaik, khususnya dalam olahraga sepaktakraw untuk kemudian berkompetisi dan menghadirkan prestasi bagi Indonesia khususnya di tingkat internasional.

Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk Pengelolaan Cumi-Cumi di Teluk Tomini
08 Oct 2026
00:19 WITA

Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk Pengelolaan Cumi-Cumi di Teluk Tomini

Abdul Wahid Rauf

Teluk Tomini menyimpan potensi perikanan yang besar, termasuk sumber daya cumi-cumi (Loligo spp.) yang menjadi salah satu komoditas penting bagi masyarakat pesisir. Namun, di balik potensi tersebut, keberlanjutan sumber daya cumi-cumi menghadapi sejumlah tantangan. Penelitian Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan adanya kecenderungan penurunan hasil tangkapan yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan perikanan di kawasan Teluk Tomini.Penelitian bertajuk “Integration of ecosystem approach in Loligo spp. resource management in Tomini Bay” dilakukan oleh Yuniarti Koniyo, Abdul H. Olii, Wila R. Nento, dan Muhammad R. Gobel. Penelitian tersebut mengkaji status pengelolaan perikanan cumi-cumi dengan menggunakan pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) dan Flag Model. Pendekatan ini tidak hanya melihat kondisi sumber daya ikan, tetapi juga mempertimbangkan aspek habitat, teknologi penangkapan, sosial, ekonomi, serta kelembagaan.Salah satu temuan penting penelitian terlihat dari perubahan Catch Per Unit Effort (CPUE), yaitu jumlah hasil tangkapan yang diperoleh dalam setiap satuan upaya penangkapan. Data menunjukkan CPUE cumi-cumi di Teluk Tomini turun dari 21,78 kg per perjalanan pada 2019 menjadi 17,02 kg per perjalanan pada 2023. Pada periode yang sama, produksi cumi-cumi juga mengalami penurunan, dari sekitar 4,79 juta kilogram pada 2019 menjadi 3,72 juta kilogram pada 2023.Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap sumber daya cumi-cumi perlu diperhatikan. Penelitian mengindikasikan bahwa peningkatan aktivitas penangkapan belum selalu menghasilkan tangkapan yang lebih tinggi. Kondisi ini dapat berkaitan dengan meningkatnya tekanan penangkapan maupun perubahan lingkungan yang memengaruhi ketersediaan cumi-cumi di perairan.Dari sisi teknologi, nelayan di kawasan Teluk Tomini menggunakan sejumlah alat tangkap, dengan pancing cumi dan circle gill net menjadi alat yang dominan di beberapa wilayah. Penelitian menilai teknologi penangkapan yang digunakan relatif selektif, meskipun risiko tertangkapnya spesies non-target masih ada. Karena itu, peningkatan selektivitas alat tangkap tetap diperlukan agar pemanfaatan sumber daya dapat berlangsung lebih berkelanjutan.Tantangan pengelolaan juga berkaitan dengan kondisi habitat. Penelitian mencatat adanya kerusakan ekosistem terumbu karang akibat aktivitas manusia, termasuk praktik penangkapan yang merusak. Padahal, kondisi habitat memiliki hubungan penting dengan keberadaan dan keberlanjutan sumber daya perikanan. Perubahan lingkungan dan dampak perubahan iklim juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan Teluk Tomini.Persoalan keberlanjutan tidak berhenti pada aspek ekologi. Penelitian menemukan bahwa kondisi ekonomi rumah tangga nelayan cumi-cumi masih relatif rendah, dengan pendapatan yang dalam banyak kasus berada di bawah upah minimum provinsi. Kepemilikan aset produktif dan kemampuan menabung juga masih terbatas. Di sisi sosial, partisipasi berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan dinilai tinggi, tetapi konflik antara nelayan maupun antara nelayan dan pemerintah masih terjadi.Hasil penilaian enam domain EAFM menunjukkan nilai rata-rata pengelolaan sebesar 58 yang masuk kategori sedang. Domain teknologi penangkapan dan sosial memperoleh kategori baik, sementara sumber daya ikan dan aspek ekonomi masih berada pada kategori kurang. Aspek kelembagaan juga memerlukan penguatan, terutama karena belum adanya rencana pengelolaan perikanan Teluk Tomini yang secara khusus diterapkan sebagai dasar pengelolaan bersama.Temuan tersebut menegaskan bahwa menjaga keberlanjutan cumi-cumi di Teluk Tomini membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Peneliti merekomendasikan penggunaan alat tangkap yang semakin selektif, rehabilitasi ekosistem, peningkatan kesejahteraan nelayan, serta penguatan kerja sama antarlembaga dan keterlibatan para pemangku kepentingan.Dengan pendekatan berbasis ekosistem, pengelolaan cumi-cumi tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan hasil tangkapan, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan memastikan sumber daya tersebut tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir dalam jangka panjang.Artikel Penelitian Dipublikasikan Melalui Tautan Berikut

Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dan D3 Farmasi Raih Akreditasi Unggul, Tegaskan Komitmen Pendidikan Kesehatan Berkualitas
06 Oct 2026
05:07 WITA

Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dan D3 Farmasi Raih Akreditasi Unggul, Tegaskan Komitmen Pendidikan Kesehatan Berkualitas

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO - Komitmen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dalam menghadirkan pendidikan tinggi berkualitas membuahkan hasil membanggakan. Dua program studi (Prodi) di Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK), yakni Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat (Kesmas) dan Program Studi D3 Farmasi, berhasil meraih predikat Akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes).Capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi FOK UNG, sekaligus menegaskan konsistensi fakultas dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan di bidang kesehatan. Predikat Unggul menjadi pengakuan atas kualitas pendidikan dan pembelajaran yang dimiliki, tata kelola program studi, serta pengembangan kompetensi lulusan.Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, M.Pd., menyambut capaian tersebut dengan penuh apresiasi. Menurutnya, keberhasilan meraih Akreditasi Unggul merupakan hasil kerja bersama, seluruh sivitas akademika yang terus berkomitmen menjaga standar mutu pendidikan.“Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen seluruh sivitas akademika dalam menjaga mutu pendidikan, meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat tata kelola program studi, serta menghasilkan lulusan bidang ilmu kesehatan yang kompeten, profesional, dan siap berkontribusi bagi masyarakat,” ungkap Hartono.Ia menegaskan, predikat Unggul bukan menjadi titik akhir, melainkan momentum untuk semakin memperkuat budaya mutu dan mendorong inovasi di lingkungan kedua program studi. Capaian tersebut diharapkan menjadi energi baru, bagi Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dan Prodi D3 Farmasi untuk terus berkembang serta meningkatkan daya saing.Apresiasi juga disampaikan Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., kepada seluruh sivitas akademika FOK yang telah memberikan kontribusi terhadap pencapaian tersebut. Menurutnya, Akreditasi Unggul menunjukkan bahwa kualitas kedua program studi, telah memperoleh pengakuan dan mampu disejajarkan dengan perguruan tinggi terbaik di Indonesia.“Akreditasi Unggul merupakan pengakuan bahwa kualitas kedua prodi tersebut, telah sejajar dengan perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Capaian ini adalah buah dari dedikasi berbagai pihak, yang terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di UNG,” ujar Eduart.Eduart menambahkan, capaian akreditasi tersebut sekaligus memperkuat komitmen UNG untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas, adaptif, dan berdaya saing. Pengakuan ini diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan institusi, tetapi juga menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk menjaga konsistensi mutu, dan terus memberikan layanan pendidikan terbaik kepada masyarakat.Dengan diraihnya predikat Unggul oleh Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dan D3 Farmasi, FOK UNG kini memiliki modal penting untuk melangkah lebih jauh. Capaian tersebut menjadi pijakan untuk terus berinovasi, memperkuat kualitas lulusan, dan menghadirkan kontribusi nyata pendidikan kesehatan bagi masyarakat. (**)

Mahasiswa KKN UNG Kenalkan Pirolisis, Ubah Sampah Plastik Jadi Peluang Edukasi Energi di Desa Luhu
06 Oct 2026
01:42 WITA

Mahasiswa KKN UNG Kenalkan Pirolisis, Ubah Sampah Plastik Jadi Peluang Edukasi Energi di Desa Luhu

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Tumpukan sampah plastik yang selama ini dipandang sebagai persoalan lingkungan mulai dilihat dari sudut pandang berbeda oleh mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahun 2026. Melalui kegiatan edukasi dan demonstrasi di Desa Luhu, mahasiswa memperkenalkan teknologi pirolisis sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah plastik sekaligus mengajak masyarakat memperkuat kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya.Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal bagaimana plastik tertentu dapat diolah melalui proses pemanasan dalam kondisi oksigen terbatas. Dalam proses pirolisis, uap yang dihasilkan kemudian didinginkan hingga membentuk cairan yang dikenal sebagai minyak pirolisis.Mahasiswa KKN juga menjelaskan bahwa hasil pengolahan tidak hanya ditentukan oleh proses pemanasan, tetapi turut dipengaruhi oleh jenis plastik, kondisi proses, hingga penanganan produk dan residu yang dihasilkan. Karena itu, teknologi pirolisis diperkenalkan bukan sebagai solusi tunggal persoalan sampah, melainkan sebagai bagian dari edukasi dan penjajakan teknologi yang perlu dilakukan secara tepat dan aman.Koordinator Desa KKN, Haikal, mengatakan bahwa perubahan dalam pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana, terutama pemilahan. Teknologi pengolahan perlu dijalankan secara aman dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.Dalam edukasi tersebut, mahasiswa turut menekankan bahwa minyak pirolisis tidak dapat langsung dianggap setara dengan bahan bakar seperti bensin atau solar. Pemanfaatannya membutuhkan pengujian mutu, penilaian emisi, pengelolaan residu, serta perhatian terhadap aspek keselamatan.Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan kegiatan KKN sebagai ruang untuk membangun pemahaman masyarakat secara lebih utuh. Sebelum berbicara mengenai teknologi pengolahan, masyarakat diajak terlebih dahulu memahami pentingnya mengurangi penggunaan plastik dan memilah sampah agar jenis sampah yang terkumpul dapat dikelola sesuai karakteristiknya.Melalui KKN Tematik Infrastruktur 2026, mahasiswa berharap kegiatan ini dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas antara masyarakat dan pemerintah Desa Luhu mengenai sistem pengumpulan sampah plastik, pilihan teknologi yang sesuai, serta langkah tindak lanjut yang dapat dikelola secara berkelanjutan. (**)

Sirup Sorgum Manis, Dari Batang Tanaman Menjadi Pemanis Fungsional untuk Pangan Berkelanjutan
05 Oct 2026
01:13 WITA

Sirup Sorgum Manis, Dari Batang Tanaman Menjadi Pemanis Fungsional untuk Pangan Berkelanjutan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Batang sorgum manis ternyata menyimpan potensi lebih dari sekadar bagian tanaman. Melalui kajian ilmiah, peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama peneliti dari sejumlah institusi mengungkap peluang pemanfaatan batang sorgum menjadi sirup alami yang tidak hanya berfungsi sebagai pemanis, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai bahan fungsional dalam berbagai produk pangan.Potensi tersebut dibahas dalam artikel review berjudul Sweet sorghum (Sorghum bicolor var. saccharatum (L.) Mohlenbr.) syrup: sustainable food upcycling and functional enhancement in animal products yang diterbitkan dalam Discover Food Volume 5 Tahun 2025.Dalam kajian tersebut, Agus Bahar Rachman dan Eduart Wolok dari Universitas Negeri Gorontalo turut berkontribusi bersama peneliti dari sejumlah institusi lainnya. Artikel ini merangkum berbagai hasil penelitian mengenai sirup sorgum manis, mulai dari proses produksi, komposisi nutrisi dan senyawa fenolik, hingga pemanfaatannya dalam pengembangan produk pangan berbasis susu, daging, maupun bakery.Kajian ini sekaligus menempatkan pemanfaatan sirup sorgum dalam perspektif food upcycling, yaitu upaya meningkatkan nilai guna suatu sumber daya pangan melalui pengolahan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Dalam konteks sorgum manis, batang tanaman yang mengandung sari manis dapat diekstraksi, dijernihkan, kemudian melalui proses evaporasi untuk menghasilkan sirup.Pemanfaatan tersebut membuka peluang pengembangan produk pangan berbasis hasil pertanian sekaligus mendukung pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam pemanfaatan sumber daya.Tidak Hanya Menghasilkan Rasa ManisMenariknya, sirup sorgum tidak hanya memiliki kandungan gula yang memberikan rasa manis. Berdasarkan berbagai penelitian yang dirangkum dalam kajian, sirup sorgum mengandung karbohidrat, protein, mineral, serta sejumlah senyawa fenolik.Kandungan tersebut dapat berbeda bergantung pada varietas sorgum, kondisi lingkungan, dan proses pengolahan. Sirup sorgum juga mengandung glukosa, fruktosa, dan sukrosa, dengan tingkat kemanisan yang dilaporkan sekitar 66–88 persen dibandingkan sukrosa.Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah keberadaan senyawa fenolik, antara lain asam ferulat, asam kafeat, p-kumarat, dan sinapat. Berbagai senyawa tersebut menjadi bagian dari karakter sirup sorgum yang menarik untuk dikaji lebih lanjut karena berkaitan dengan potensi aktivitas antioksidan dan fungsi tambahan dalam produk pangan.Berpeluang Dikembangkan pada Beragam Produk PanganKajian yang dilakukan menunjukkan bahwa sirup sorgum telah diteliti dalam berbagai formulasi pangan. Pada produk berbasis daging, misalnya, penggunaan sirup sorgum pada sosis dilaporkan dapat membantu memperlambat oksidasi lipid selama penyimpanan. Komponen sirup juga berpotensi berinteraksi dengan protein dan memengaruhi sifat gel serta tekstur produk.Sementara itu, pada produk berbasis susu, sirup sorgum telah dikaji dalam pengembangan soft ice cream. Hasil penelitian yang dirangkum menunjukkan bahwa produk hasil reaksi Maillard dapat memengaruhi karakter fisik dan kimia es krim, termasuk tekstur dan kapasitas antioksidannya.Potensi serupa juga terlihat pada produk bakery. Salah satu penelitian yang dirangkum menunjukkan bahwa penggunaan hingga 20 persen sirup sorgum sebagai pengganti gula dalam pembuatan kue masih mampu mempertahankan tinggi, volume, dan tekstur produk. Hasil pengujian sensori juga tidak menunjukkan perbedaan rasa yang signifikan dibandingkan kue berbahan gula biasa.Selain itu, sirup sorgum telah dikaji dalam berbagai produk lain, seperti kukis, biskuit, roti manis, permen, dan toffee. Temuan tersebut memperlihatkan luasnya peluang pengembangan sirup sorgum dalam inovasi formulasi pangan.Pentingnya Pengendalian Proses PengolahanMeskipun menawarkan berbagai peluang, kajian tersebut juga menekankan pentingnya pengendalian selama proses pengolahan, terutama terkait reaksi Maillard.Reaksi antara gula dan protein selama pemanasan berperan dalam pembentukan warna, aroma, dan cita rasa makanan. Dalam kondisi yang terkendali, reaksi tersebut dapat memberikan karakter yang diinginkan pada produk. Namun, pemanasan yang berlebihan berpotensi menghasilkan senyawa yang tidak diinginkan.Karena itu, pengaturan suhu dan waktu pemrosesan menjadi aspek penting dalam pengembangan produk pangan berbasis sirup sorgum.Memperkuat Pemanfaatan Sumber Daya PertanianKontribusi Agus Bahar Rachman dan Eduart Wolok bersama peneliti lainnya dalam kajian tersebut memperkaya pembahasan mengenai peluang pemanfaatan sorgum manis sebagai bahan pangan bernilai tambah.Kajian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sorgum dapat diarahkan tidak hanya pada hasil bijinya, tetapi juga pada bagian batang melalui pengolahan menjadi sirup. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya mengoptimalkan sumber daya pertanian sekaligus mendorong inovasi produk pangan yang lebih berkelanjutan.Bagi pengembangan pangan berbasis bahan lokal, sirup sorgum memiliki peluang untuk terus dikaji, terutama dalam menentukan formulasi, kondisi pengolahan, serta karakteristik produk yang paling sesuai.Melalui kajian tersebut, sorgum manis menunjukkan potensi sebagai salah satu sumber bahan pangan alternatif yang dapat dikembangkan lebih jauh. Dari batang tanaman yang sederhana, terbuka peluang menghadirkan produk pemanis sekaligus bahan fungsional yang dapat digunakan dalam berbagai inovasi pangan.Kontribusi peneliti UNG dalam kajian tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan hasil penelitian untuk mendukung inovasi pangan, peningkatan nilai tambah sumber daya pertanian, serta pengembangan pangan yang lebih berkelanjutan.Artikel Penelitian Dipublikaskan Melalui Laman Berikut

Buah Mangrove Jadi Pengawet Alami, Inovasi UNG untuk Menjaga Mutu Ikan Cakalang
05 Oct 2026
00:32 WITA

Buah Mangrove Jadi Pengawet Alami, Inovasi UNG untuk Menjaga Mutu Ikan Cakalang

Abdul Wahid Rauf

Mangrove selama ini dikenal sebagai benteng alami yang melindungi kawasan pesisir dari abrasi sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut. Namun, di balik fungsi ekologisnya, tanaman mangrove ternyata menyimpan potensi lain yang menarik untuk dikembangkan, khususnya dalam pengolahan hasil perikanan.Potensi tersebut terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh Risky S. Maulanan, Lukman Mile, dan Fernandy M. Djailani dari Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian mereka mengkaji pemanfaatan buah mangrove Rhizophora mucronata sebagai bahan pengawet alami untuk menjaga kualitas fillet ikan cakalang (Katsuwonus pelamis).Penelitian yang diterbitkan dalam Applied Environmental Science Vol. 2 No. 2 Tahun 2025 tersebut berjudul “Effectiveness of Water Extract of Mangrove Fruit Flour (Rhizophora mucronata) as a Natural Preservative in Skipjack Fish Fillets (Katsuwonus pelamis)”.Dari Hutan Mangrove ke Teknologi Pengawetan IkanGagasan penelitian ini berangkat dari dua potensi yang dimiliki Gorontalo, yakni kekayaan ekosistem mangrove dan besarnya potensi perikanan tangkap, terutama ikan cakalang.Ikan cakalang merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomi, tetapi seperti produk ikan segar lainnya, kualitasnya relatif mudah mengalami penurunan. Aktivitas mikroorganisme menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat kerusakan ikan sehingga diperlukan teknologi penanganan pascapanen yang mampu mempertahankan mutu produk.Di sisi lain, buah Rhizophora mucronata diketahui mengandung sejumlah senyawa bioaktif. Para peneliti kemudian mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatannya sebagai sumber bahan pengawet alami.Dalam penelitian tersebut, buah mangrove dikeringkan dan diolah menjadi tepung. Tepung kemudian diekstraksi menggunakan air melalui proses pemanasan pada suhu 70°C selama 30 menit. Ekstrak yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk merendam fillet ikan cakalang.Peneliti menguji beberapa lama waktu perendaman, yakni 10, 12, dan 14 jam. Kualitas ikan kemudian diamati melalui sejumlah parameter, antara lain penilaian organoleptik, pH, serta Total Plate Count (TPC) untuk mengetahui jumlah mikroorganisme yang terdapat pada ikan setelah perlakuan.Senyawa Alami yang Menahan Pertumbuhan BakteriHasil uji fitokimia memberikan petunjuk penting. Ekstrak tepung buah Rhizophora mucronata diketahui mengandung alkaloid dan triterpenoid.Kedua kelompok senyawa tersebut dikaitkan dengan aktivitas antibakteri sehingga berpotensi membantu menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk pada bahan pangan. Temuan inilah yang menjadi salah satu dasar pemanfaatan ekstrak buah mangrove sebagai bahan pengawet alami pada fillet ikan cakalang.Salah satu indikator yang menarik terlihat dari hasil pengujian TPC. Pada ikan yang tidak mendapatkan perlakuan perendaman, nilai TPC tercatat sekitar 27,09 × 10³. Setelah direndam selama 10 jam, nilainya turun menjadi 15,39 × 10³.Penurunan lebih lanjut terlihat pada perendaman selama 12 jam, dengan nilai TPC mencapai 8,38 × 10³. Sementara itu, pada perendaman selama 14 jam, nilai TPC tercatat 10,82 × 10³.Data tersebut menunjukkan adanya kemampuan ekstrak buah mangrove dalam menahan pertumbuhan bakteri. Nilai TPC terendah dalam penelitian justru ditemukan pada perlakuan perendaman selama 12 jam.Tidak Hanya Bakteri, Mutu Ikan Juga DiamatiPengawetan bahan pangan tentu tidak hanya berbicara mengenai jumlah bakteri. Karakteristik yang dapat dilihat dan dirasakan konsumen juga menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas produk. Karena itu, penelitian turut mengamati penampakan, aroma, dan tekstur fillet ikan.Pada parameter aroma, ikan yang mendapat perlakuan perendaman masih menunjukkan karakteristik aroma yang relatif segar. Peneliti mengaitkan kondisi tersebut dengan keberadaan senyawa antibakteri dalam ekstrak mangrove yang dapat membantu menghambat aktivitas mikroorganisme penyebab penurunan mutu.Namun, lama perendaman tetap perlu diperhatikan. Pada parameter tekstur, terjadi perubahan antara ikan tanpa perlakuan dan ikan yang direndam selama 10, 12, maupun 14 jam. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak alami sebagai bahan pengawet tetap membutuhkan pengaturan waktu yang tepat agar efektivitas pengawetan tidak mengorbankan karakteristik fisik produk.Sementara itu, hasil pengukuran pH berada pada kisaran 5,46–6,04 dan menunjukkan kecenderungan menurun seiring bertambahnya lama perendaman. Dalam penelitian tersebut, seluruh perlakuan berada pada kondisi asam.Menjaga Ikan, Memanfaatkan Potensi LokalTemuan penelitian ini menarik bukan semata-mata karena buah mangrove dapat digunakan untuk membantu menghambat pertumbuhan bakteri. Lebih jauh, penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana sumber daya lokal dapat dihubungkan dengan kebutuhan teknologi pengolahan hasil perikanan.Gorontalo memiliki kawasan mangrove sekaligus potensi perikanan tangkap yang besar. Menghubungkan kedua sumber daya tersebut melalui penelitian membuka peluang lahirnya inovasi yang berbasis pada kekayaan lokal.Pemanfaatan bahan alami juga dapat menjadi salah satu arah pengembangan teknologi pengawetan yang lebih berkelanjutan. Namun, penerapannya tentu tetap membutuhkan kajian lanjutan untuk menentukan formulasi, konsentrasi, waktu perendaman, keamanan pangan, serta karakteristik produk yang paling sesuai.Dalam artikel penelitian tersebut, perendaman selama 10 jam disebut sebagai waktu optimal berdasarkan indikator kualitas organoleptik, aroma, dan tekstur. Sementara hasil pengujian TPC menunjukkan bahwa ekstrak tetap memiliki kemampuan menahan pertumbuhan bakteri hingga periode perendaman yang lebih panjang.Pada bagian kesimpulan, penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak buah Rhizophora mucronata dapat memberikan daya tahan hingga 14 jam berdasarkan parameter aroma. Namun, perubahan penampakan dan tekstur tetap perlu diperhatikan karena berkaitan dengan proses oksidasi kimia.Dari Konservasi ke InovasiPenelitian yang dilakukan para akademisi FKTP UNG ini memberikan gambaran bahwa mangrove tidak hanya penting untuk dipertahankan karena fungsi ekologisnya. Potensi sumber daya yang terkandung di dalamnya juga dapat menjadi objek penelitian untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.Pemanfaatan buah mangrove sebagai bahan pengawet alami mempertemukan dua kepentingan sekaligus: menjaga kualitas hasil perikanan dan mengeksplorasi potensi sumber daya lokal secara lebih bijaksana.Bagi Gorontalo, pendekatan semacam ini membuka ruang pengembangan teknologi pascapanen yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga pada pemanfaatan kekayaan hayati daerah.Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari bahan atau teknologi yang jauh dari lingkungan sekitar. Di kawasan pesisir Gorontalo, salah satu jawabannya mungkin justru tumbuh di antara akar-akar mangrove—menunggu untuk diteliti, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.Artikel Penelitian Dipublikasikan Melalui Tautan Berikut

UNG Laksanakan Uji Publik Pedoman Akademik, Serap Masukan untuk Perkuat Tata Kelola Akademik
29 Sep 2026
09:34 WITA

UNG Laksanakan Uji Publik Pedoman Akademik, Serap Masukan untuk Perkuat Tata Kelola Akademik

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat tata kelola akademik melalui penyempurnaan pedoman, yang menjadi acuan penyelenggaraan kegiatan akademik di lingkungan kampus. Langkah tersebut dilakukan melalui uji publik Draf Pedoman Akademik 2026 yang dilaksanakan secara daring dan luring, Selasa (29/9).Uji publik yang dipimpin langsung Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, M.Si., tersebut melibatkan berbagai unsur civitas akademika, mulai dari pimpinan jurusan, program studi, penjamin mutu fakultas, hingga Gugus Penjamin Mutu Program Studi. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi ruang untuk memastikan, pedoman yang disusun dapat mengakomodasi kebutuhan akademik secara lebih komprehensif.Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, M.Si., menjelaskan, penyusunan Draf Pedoman Akademik 2026 merupakan bagian dari upaya UNG, untuk menyempurnakan sekaligus memperkuat tata kelola kegiatan akademik di lingkungan kampus kerakyatan UNG.“Pedoman tersebut nantinya diharapkan dapat memberikan acuan yang lebih jelas, terarah, dan terukur bagi pelaksanaan berbagai aktivitas akademik,” ujar Hafidz.Menurutnya, uji publik memiliki posisi penting dalam proses penyusunan pedoman karena menjadi ruang untuk menghimpun berbagai masukan, kritik, maupun saran konstruktif dari pihak-pihak yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan akademik. Berbagai perspektif tersebut diperlukan agar aturan yang disusun tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga relevan dengan kebutuhan pelaksanaan akademik di lapangan.“Sebelum ditetapkan dan disahkan secara resmi, substansi dalam pedoman akademik perlu melalui proses penyempurnaan secara menyeluruh. Karena itu, berbagai masukan menjadi bagian penting, untuk mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu diperbaiki maupun diperjelas dalam draf pedoman,” terangnya.Melalui proses uji publik ini, UNG menunjukkan komitmennya untuk membangun tata kelola akademik secara partisipatif. Pedoman Akademik 2026 diharapkan nantinya tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi menjadi instrumen yang mampu memberikan arah yang seragam, menyempurnakan mekanisme penyelenggaraan akademik, serta mendukung peningkatan mutu pendidikan di seluruh lingkungan UNG. (**)

Alat Deteksi Kualitas Air dan Objek Dipasang di Laut Botubarani, Dukung Keselamatan Wisatawan dan Prediksi Kemunculan Hiu Paus
26 Sep 2026
01:13 WITA

Alat Deteksi Kualitas Air dan Objek Dipasang di Laut Botubarani, Dukung Keselamatan Wisatawan dan Prediksi Kemunculan Hiu Paus

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO - Alat deteksi kualitas air dan alat deteksi objek mulai dipasang di kawasan perairan Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, pada hari Rabu 23 September 2026, sebagai bagian dari kegiatan riset yang didanai melalui skema RIIM BRIN-LPDP (multiyears) dengan melibatkan mitra Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Bone Bolango.Pemasangan kedua perangkat tersebut ditujukan untuk menghasilkan data kondisi perairan secara berkelanjutan selama satu tahun. Data yang dikumpulkan dalam bentuk time series diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kondisi lingkungan laut sekaligus mendukung pengelolaan aktivitas wisata bahari di kawasan Botubarani, khususnya wisata interaksi dengan hiu paus.Salah satu manfaat utama riset ini adalah membantu wisatawan maupun pengelola wisata dalam mengambil keputusan terkait aktivitas snorkeling dan diving bersama hiu paus. Informasi mengenai kondisi kualitas air dan keberadaan objek di perairan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan sebelum wisatawan melakukan aktivitas di laut.Selain untuk mendukung aktivitas wisata, data yang dihasilkan perangkat tersebut memiliki potensi pemanfaatan yang lebih luas. Rekaman kondisi perairan selama satu tahun dapat digunakan untuk mempelajari pola kemunculan hiu paus serta berbagai organisme laut lainnya.Data tersebut juga diharapkan dapat membantu mengidentifikasi pola kemunculan ubur-ubur yang pada kondisi tertentu dapat mengganggu kenyamanan wisatawan karena menyebabkan rasa gatal pada kulit. Kemunculan organisme laut tersebut berkaitan dengan kondisi lingkungan perairan yang mendukung siklus hidupnya. Dengan tersedianya data kualitas air secara berkala, pola hubungan antara kondisi perairan dan kemunculan organisme tersebut dapat dipelajari lebih lanjut.Tidak hanya aspek biota laut, sistem deteksi ini juga berpotensi menghasilkan informasi mengenai aktivitas manusia di kawasan perairan Botubarani. Data yang terkumpul dapat digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan atau tingkat kemunculan sampah plastik, material yang berasal dari aktivitas pertanian, kepadatan perahu wisatawan, aktivitas pengunjung, serta kemunculan berbagai hewan laut lainnya.Tim peneliti UNG, Dr. Mohamad Hidayat Koniyo, ST.MT., mengungkapkan teknologi deteksi objek memungkinkan berbagai objek dan aktivitas yang terlihat di perairan, untuk direkam dan diolah menjadi dataset.“Berdasarkan deteksi objek, seperti warna air laut, binatang yang bergerak dan terlihat, aktivitas wisatawan, dan lainnya, akan menghasilkan dataset yang bisa dikembangkan untuk penelitian klasifikasi hingga prediksi,” ujar Hidayat.Ia menjelaskan, dataset yang dikumpulkan secara terus-menerus menjadi bagian penting dalam pengembangan penelitian berbasis data. Dengan tersedianya rekaman selama satu tahun, peneliti dapat menganalisis pola perubahan kondisi perairan dan objek yang terdeteksi dari waktu ke waktu."Melalui pengembangan lebih lanjut, data tersebut dapat diarahkan untuk membangun model klasifikasi maupun prediksi, termasuk mempelajari hubungan antara kondisi lingkungan laut dengan kemunculan hiu paus, ubur-ubur, maupun objek dan aktivitas lain di kawasan perairan Botubarani," terangnya.Riset ini sekaligus diharapkan dapat memberikan basis data bagi pengelolaan wisata bahari yang lebih informatif. Data yang dihasilkan tidak hanya berguna untuk kepentingan penelitian, tetapi juga berpotensi menjadi bahan pendukung bagi pengelola dan pemangku kepentingan dalam memantau kondisi perairan serta aktivitas wisata di Botubarani.

Akademisi UNG Ambil Peran di Forum Nasional, Perkuat Arah Pendidikan Vokasi Teknik Elektro
25 Sep 2026
09:48 WITA

Akademisi UNG Ambil Peran di Forum Nasional, Perkuat Arah Pendidikan Vokasi Teknik Elektro

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) turut mengambil bagian, dalam penguatan pendidikan vokasi rumpun Teknik Elektro di tingkat nasional. Keterlibatan tersebut diwujudkan melalui keikutsertaan akademisi UNG, Ervan Hasan Harun, S.T., M.T., yang juga Pengurus FORTEI Nasional sekaligus Anggota Divisi Forkom Vokasi – Direktorat Pengembangan Society, Forkom PTS dan Forkom Vokasi.Keterlibatan ini dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) FORTEI dan FORTEI-ICEE (International Conference on Electrical Engineering) 2026 di Universitas Hasanuddin, Makassar, 24–26 September 2026.Tidak sekadar menghadiri forum nasional, Ervan juga terlibat sebagai kontributor dalam penyusunan dan pembahasan sejumlah panduan pengembangan pendidikan Sarjana Terapan pada rumpun Teknik Elektro. Kontribusi tersebut menjadi bagian dari upaya FORTEI memperkuat penyelenggaraan pendidikan vokasi, agar semakin selaras dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha, dan dunia industri (DUDI).Tiga dokumen panduan yang menjadi bagian dari kontribusi tersebut meliputi Panduan Kurikulum Vokasi (Sarjana Terapan) Rumpun Teknik Elektro, Panduan Magang di Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) bagi Mahasiswa Sarjana Terapan, serta Panduan Capstone Project. Ketiga panduan tersebut menjadi bagian penting, dalam mendorong pengembangan pembelajaran vokasi yang lebih dekat dengan kebutuhan kompetensi di lapangan.Menurut Ervan, salah satu agenda penting dalam forum tersebut adalah pemaparan Panduan Kurikulum Vokasi Rumpun Teknik Elektro. Dalam kesempatan tersebut, Ia turut mempresentasikan substansi panduan sebagai bagian dari pembahasan, sekaligus penguatan rekomendasi FORTEI terkait pengembangan pendidikan Sarjana Terapan bidang Teknik Elektro.“Panduan kurikulum tersebut diarahkan untuk menjadi rujukan bersama, bagi program studi Sarjana Terapan dalam mengembangkan kurikulum yang memiliki karakteristik pendidikan vokasi,” ujarnya.Selain memperkuat keterkaitan pembelajaran dengan kebutuhan DUDI, pengembangan kurikulum juga diarahkan agar tetap responsif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan kompetensi tenaga kerja di bidang Teknik Elektro.Bagi Ervan, keterlibatan akademisi UNG dalam forum tersebut memiliki relevansi strategis, terhadap pengembangan pendidikan vokasi di lingkungan Sekolah Vokasi, khususnya Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan (TRET).“Forum nasional ini menjadi ruang bagi UNG untuk memperoleh perspektif, sekaligus memperkuat jejaring akademik dan profesional dengan perguruan tinggi serta program studi Teknik Elektro di Indonesia,” terangnya.Melalui keterlibatan ini, UNG kata Ervan tidak hanya memperluas jejaring kelembagaan, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan arah pendidikan vokasi pada tingkat nasional. Partisipasi tersebut memperkuat komitmen UNG dalam menghadirkan pendidikan vokasi yang berorientasi pada kompetensi, kebutuhan dunia kerja, keterhubungan dengan industri, serta perkembangan teknologi.Kegiatan Munas FORTEI dan FORTEI-ICEE Tahun 2026 berlangsung di Universitas Hasanuddin, Makassar, pada 24–26 September 2026, dan menjadi salah satu forum nasional bagi pengembangan serta penguatan jejaring pendidikan tinggi Teknik Elektro di Indonesia.

Dzikir dan Doa Berkumandang di Lingkungan Kampus Melalui Kegiatan UNG Bersholawat
25 Sep 2026
04:27 WITA

Dzikir dan Doa Berkumandang di Lingkungan Kampus Melalui Kegiatan UNG Bersholawat

Abdul Wahid Rauf

Suasana penuh khidmat dan syahdu mewarnai lapangan Rektorat Universitas Negeri Gorontalo (UNG) saat ribuan jemaah memadati area kampus, untuk mengikuti kegiatan UNG Bersholawat dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan bulan lahir UNG, Rabu (23/9).Kegiatan ini menjadi momentum istimewa bagi civitas akademika UNG dan masyarakat Gorontalo, untuk bersama-sama melantunkan dzikir dan sholawat sebagai ungkapan cinta kepada Rasulullah.Pembacaan dzikir dan sholawat dipandu langsung oleh jemaah Majelis Arbain dengan menghadirkan empat penceramah sekaligus yakni, Dr. H. Abd. Rahman Abubakar Bahmid, Lc ,MH., Moh Fadly Aljufri, Lc., S.H., M.H., Dr. Husni Idrus, Lc., M.Si., dan KH. Yahya Salilama, S.Ag,. Lantunan sholawat yang menggema dari ribuan jemaah menciptakan suasana religius dan menambah kekhusyukan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW di lingkungan kampus.Antusiasme tampak begitu besar, di mana dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga masyarakat sekitar turut hadir dan larut dalam kebersamaan. Lapangan Rektorat UNG menjadi saksi bagaimana ribuan jemaah menyatu dalam lantunan doa dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, mencerminkan kecintaan yang mendalam kepada junjungan umat Islam.Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., mengungkapkan kegiatan UNG Bersholawat merupakan wujud syukur sekaligus upaya mempererat ukhuwah islamiyah di tengah civitas akademika dan masyarakat. Melalui momentum UNG bersholawat ini, diharapkan jemaah yang hadir dapat meneladani akhlak mulia Rasulullah sekaligus memperkuat nilai spiritualitas dalam kehidupan akademik maupun sosial.“Selain untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW, UNG bersholawat juga menjadi wadah untuk memperkuat interaksi sosial antara civitas akademika dengan seluruh lapisan masyarakat di Gorontalo,” ujarnya.Rektor menyampaikan harapannya kepada ribuan jemaah yang hadir dalam kegiatan UNG Bersholawat, agar senantiasa mendoakan kebaikan dan kemajuan kampus. Menurutnya, doa dari seluruh civitas akademika dan masyarakat memiliki peran penting dalam memperkuat ikhtiar universitas, untuk terus tumbuh dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah maupun bangsa.“Dukungan spiritual melalui doa diharapkan semakin mengokohkan upaya UNG untuk terus bergerak maju, serta terus melahirkan karya dan inovasi yang bermanfaat. Terlebih UNG saat ini tengah bergerak maju berkembang, yang ditandai dengan berbagai capaian dan prestasi,” pungkas Rektor. (**)

Rektor Melantik Pejabat Fungsional di Lingkungan UNG, Tekankan Integritas dan Kontribusi untuk Kampus
24 Sep 2026
06:24 WITA

Rektor Melantik Pejabat Fungsional di Lingkungan UNG, Tekankan Integritas dan Kontribusi untuk Kampus

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Jabatan dan pangkat bukan sekadar capaian administratif, tetapi merupakan bentuk pengakuan atas kontribusi nyata bagi institusi dan masyarakat. Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., saat memimpin upacara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan fungsional di lingkungan UNG, Selasa (22/9).Dalam suasana khidmat, Rektor secara resmi mengukuhkan sejumlah pejabat fungsional dosen dan tenaga kependidikan. Pelantikan tersebut mencakup sejumlah jabatan fungsional tenaga kependidikan, di antaranya Analis Pengelolaan Keuangan APBN Ahli Muda, Pranata Keuangan APBN Penyelia, Arsiparis Ahli Pertama, Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) Ahli Pertama, dan PLP Terampil. Sementara pada jabatan fungsional dosen, pengangkatan dilakukan untuk jenjang Lektor dan Asisten Ahli.Dalam arahannya, Prof. Eduart menyampaikan ucapan selamat kepada para pejabat yang baru dilantik sekaligus mengingatkan bahwa jabatan fungsional dan kepangkatan harus dimaknai lebih dari sekadar pencapaian karier.Menurutnya, jabatan yang diberikan merupakan bentuk kepercayaan sekaligus pengakuan terhadap kontribusi yang telah diberikan kepada institusi. Karena itu, setiap pejabat fungsional dituntut untuk menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan etika.“Bekerjalah dengan baik, jujur, dan menjunjung tinggi etika. Ketika dosen dan tendik memberikan kontribusi yang terbaik dengan cara yang benar, maka pangkat dan jenjang karier akan mengikuti dengan sendirinya,” pesan Rektor.Ia menegaskan, ukuran keberhasilan seorang ASN tidak semata-mata dilihat dari gelar maupun pangkat yang melekat, tetapi dari manfaat yang mampu diberikan melalui pekerjaan dan kontribusinya terhadap kemajuan lembaga.“Bukan gelar atau pangkat yang dinilai orang, melainkan apa manfaat dan kontribusi yang kita berikan bagi kemajuan lembaga,” tegasnya.Lebih lanjut, Rektor mengajak seluruh jajaran ASN UNG untuk terus menumbuhkan empati dalam bekerja, menjaga integritas, serta menghindari orientasi kerja yang hanya berfokus pada tuntutan terhadap fasilitas. Menurutnya, kemajuan universitas merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kerja kolaboratif dari seluruh sivitas akademika.Melalui pelantikan tersebut, UNG tidak hanya menegaskan pengembangan karier dosen dan tenaga kependidikan, tetapi juga memperkuat komitmen terhadap profesionalisme dan tata kelola sumber daya manusia. Para pejabat fungsional yang dilantik diharapkan mampu menjadikan jabatan sebagai ruang untuk memberikan kontribusi nyata sekaligus memperkuat ekosistem UNG yang semakin maju dan berdampak.

Menuju Kemitraan Strategis, UNG dan KemenP2MI Matangkan Rencana Kerja Sama
22 Sep 2026
07:25 WITA

Menuju Kemitraan Strategis, UNG dan KemenP2MI Matangkan Rencana Kerja Sama

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperluas jejaring kemitraan dengan lembaga pemerintah untuk mendukung penguatan peran perguruan tinggi. Komitmen tersebut ditandai dengan kunjungan delegasi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) di Gedung Rektorat UNG, Senin (21/9).Kunjungan tersebut menjadi langkah awal dalam mematangkan rencana kemitraan resmi antara UNG dengan KemenP2MI. Pertemuan difokuskan pada pembahasan substansi draf Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU), sekaligus mempersiapkan berbagai aspek teknis menuju agenda penandatanganan kerja sama.Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi UNG, Dr. Harto S. Malik, M.Hum., menjelaskan bahwa koordinasi tatap muka tersebut, menjadi bagian penting dalam menyelaraskan poin-poin kesepahaman sebelum dokumen kerja sama difinalisasi.“Pertemuan ini menjadi bagian dari proses untuk mematangkan draf MoU, sekaligus mempersiapkan teknis penandatanganan kerja sama antara UNG dengan KemenP2MI,” ujar Harto.Menurutnya, penyelarasan substansi menjadi penting agar kerja sama yang dibangun nantinya memiliki arah dan ruang lingkup yang jelas, serta dapat diimplementasikan secara optimal oleh kedua belah pihak. Karena itu, pembahasan dilakukan secara bersama dengan memperhatikan kebutuhan dan kepentingan masing-masing institusi.“Kehadiran delegasi KemenP2MI dan BP2MI di UNG juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi antarlembaga sekaligus membuka ruang pengembangan kolaborasi yang lebih luas,” terangnya.Bagi UNG, kemitraan dengan kementerian dan lembaga pemerintah merupakan bagian dari upaya memperluas kontribusi perguruan tinggi melalui pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, serta kerja sama kelembagaan.Pertemuan ini sekaligus menjadi pijakan awal bagi terbangunnya kemitraan yang lebih konkret antara UNG dan KemenP2MI. Melalui kerja sama tersebut, kedua pihak diharapkan dapat mengembangkan kolaborasi yang memberikan manfaat bagi penguatan kapasitas sumber daya manusia dan mendukung kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan pembangunan nasional.

Dari Hasil Laut ke Produk Bernilai, KKN UNG Dorong UMKM Pesisir Huangobotu Naik Kelas
22 Sep 2026
07:17 WITA

Dari Hasil Laut ke Produk Bernilai, KKN UNG Dorong UMKM Pesisir Huangobotu Naik Kelas

Abdul Wahid Rauf

Potensi hasil perikanan di Desa Huangobotu, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan keluarga. Jika diolah dan dipasarkan dengan baik, hasil perikanan juga memiliki peluang untuk berkembang menjadi produk usaha yang bernilai ekonomi.Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN Tematik Tahap II Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggelar sosialisasi pengembangan UMKM pesisir di Kantor Desa Huangobotu. Kegiatan ini menjadi bagian dari program KKN Tematik Tahap II UNG yang bertajuk “Penguatan Pangan Keluarga Melalui Peningkatan Daya Saing Produk Hasil Perikanan Berbasis Branding, Kemasan, dan Kemitraan Pemasaran.”Kegiatan ini diikuti pemerintah desa, Karang Taruna, pelaku UMKM, serta masyarakat setempat. Sosialisasi menghadirkan akademisi UNG yakni Wila Rumina Nento, S.Pi., M.Si., dan Sri Fitriani Monoarfa, S.Pi., M.Si., sebagai narasumber.Dalam materinya, Wila Rumina Nento, S.Pi., M.Si., mengangkat topik “Penguatan Pangan Keluarga melalui Peningkatan Daya Saing Produk Hasil Perikanan Berbasis Branding dan Kemasan.” Ia mengaitkan pemanfaatan ikan dengan ketahanan pangan keluarga sekaligus peluang pengembangan produk olahan skala rumah tangga.Peserta juga diperkenalkan pada berbagai aspek yang dapat meningkatkan daya saing produk, mulai dari pemilihan nama atau merek, desain dan jenis kemasan yang sesuai dengan karakteristik produk, hingga penyusunan label. Aspek legalitas dan jaminan mutu turut menjadi bagian penting agar produk yang dikembangkan tidak hanya menarik secara tampilan, tetapi juga memiliki dasar yang mendukung kepercayaan konsumen.Selanjutnya, Sri Fitriani Monoarfa, S.Pi., M.Si., membahas strategi pemasaran produk olahan hasil perikanan. Materi diarahkan pada hal-hal yang dekat dengan kebutuhan pelaku usaha, seperti mengenali pasar, menghitung harga pokok produksi (HPP) secara tepat, menentukan saluran penjualan, membangun kemitraan pemasaran, serta memilih strategi promosi yang sesuai.Pencatatan penjualan juga menjadi bagian yang ditekankan agar pelaku UMKM dapat mengetahui perkembangan usahanya secara lebih terukur. Dengan demikian, pengembangan produk tidak berhenti pada proses produksi, tetapi berlanjut hingga bagaimana produk tersebut dapat diterima pasar dan memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga.Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Tematik II UNG Desa Huangobotu, Sitty Ainsyah Habibie, S.Pi., M.Sc., mengatakan bahwa potensi hasil perikanan di wilayah pesisir, perlu diikuti dengan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan produk dan memasarkannya. Menurutnya hasil perikanan memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan, menjadi produk pangan keluarga sekaligus produk usaha.“Peningkatan daya saing tidak cukup hanya dengan menghasilkan produk, tetapi juga perlu memperhatikan branding, kemasan, dan strategi pemasaran agar produk lebih mudah dikenali dan memiliki nilai jual,” ujarnya. Dengan adanya program ini,  Sitty berharap masyarakat Desa Huangobotu diharapkan semakin melihat hasil perikanan sebagai potensi yang dapat dikembangkan dari hulu hingga hilir. Produk yang berasal dari sumber daya lokal tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga memiliki peluang untuk menjadi bagian dari pengembangan usaha masyarakat pesisir. (**)

Belajar Dari Unhas, UNG Dalami Tata Kelola Perguruan Tinggi Negeri – Badan Hukum
19 Sep 2026
06:35 WITA

Belajar Dari Unhas, UNG Dalami Tata Kelola Perguruan Tinggi Negeri – Badan Hukum

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berupaya mempersiapkan diri, dalam menyambut transformasi menuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Salah satu langkah strategis tersebut dilakukan melalui kegiatan penguatan pemahaman tata kelola PTN-BH yang menghadirkan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., bersama jajaran pimpinan Majelis Wali Amanat (MWA) Unhas, Jumat (19/9).Kegiatan yang melibatkan jajaran pimpinan universitas, fakultas dan lembaga di lingkungan UNG, menjadi ruang untuk menyelaraskan pemahaman mengenai tata kelola PTN-BH sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia sebagai salah satu faktor penting dalam menopang kinerja institusi.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menuturkan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar UNG, dalam mempersiapkan seluruh elemen universitas menghadapi transformasi menuju PTN-BH. Kehadiran Rektor dan jajaran MWA Unhas diharapkan dapat memberikan perspektif sekaligus pengalaman praktis dalam menjalankan tata kelola perguruan tinggi berbadan hukum.“Penguatan pemahaman ini menjadi bagian dari ikhtiar UNG dalam mempersiapkan diri menuju PTN-BH. Dengan hadirnya Rektor dan Pimpinan Majelis Wali Amanat Unhas, kami berharap pemahaman civitas akademika mengenai tata kelola universitas sebagai PTN-BH semakin kuat,” ujar Eduart.Sementara itu, Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menyebut pertemuan tersebut tidak hanya menjadi sesi berbagi pengalaman mengenai tata kelola PTN-BH, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat dan komitmen bersama antara Unhas dan UNG sebagai perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia.“Semangatnya kami bawa adalah bagaimana Unhas dan UNG bisa tumbuh bersama sebagai perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia,” ujarnya.Menurutnya, salah satu kunci dalam menjaga tata kelola PTN-BH di Unhas adalah membangun hubungan yang harmonis antara Majelis Wali Amanat, Senat Akademik Universitas, dan Pimpinan Universitas. Ketiga unsur tersebut, kata Jamaluddin, perlu terus menjaga komunikasi dan saling mendukung agar tata kelola perguruan tinggi dapat berjalan secara efektif.Melalui kegiatan tersebut, UNG tidak hanya memperkuat pemahaman mengenai konsep dan mekanisme tata kelola PTN-BH, tetapi juga membuka ruang pembelajaran dari pengalaman Unhas yang telah menjalankan status sebagai PTN-BH. Penguatan kapasitas SDM dan pemahaman tata kelola diharapkan menjadi modal penting bagi UNG dalam membangun tata kelola universitas yang semakin adaptif, mandiri, dan berorientasi pada peningkatan kualitas institusi. (**)

Wisuda ke-63 UNG Mengukuhkan 700 Lulusan Terbaik Dari Berbagai Bidang Keilmuan
18 Sep 2026
06:45 WITA

Wisuda ke-63 UNG Mengukuhkan 700 Lulusan Terbaik Dari Berbagai Bidang Keilmuan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Suasana penuh suka cita menyelimuti Auditorium Universitas Negeri Gorontalo (UNG) pada Kamis, (17/9). Sebanyak 700 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan mulai dari Diploma, Sarjana, Magister, hingga Doktor resmi menyelesaikan pendidikan yang dikukuhkan dalam prosesi Wisuda ke-59 UNG.Ratusan lulusan terbaik UNG tersebut dikukuhkan melalui sidang senat terbuka wisuda ke-63 oleh Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT., IPU., ASEAN.Eng., didampingi Ketua Senat Prof. Dr. Femy Mahmud Sahami, M.Si., serta seluruh anggota senat. Momen ini menjadi puncak perjalanan akademik para wisudawan yang telah menempa diri di Kampus Kerakyatan selama beberapa tahun terakhir.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT., IPU., ASEAN.Eng., dalam sambutannya menyampaikan bahwa keberhasilan para wisudawan, merupakan pencapaian yang membahagiakan bagi seluruh keluarga besar universitas. Menurutnya, keberhasilan meraih gelar akadmeik ini bukan hanya milik individu mahasiswa semata.“Ini bukan hanya tanda keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan studi, tetapi juga bukti dedikasi para dosen yang telah mendidik, membimbing, dan mengantarkan kalian hingga merengkuh gelar akademik hari ini. Keberhasilan ini patut kita syukuri bersama,” ujar Prof. Eduart.Momentum prosesi wisuda yang diikuti para lulusan UNG ini tidak hanya menjadi perayaan akademik, namun menjadi simbol dari komitmen UNG dalam mencetak generasi yang unggul dan berdaya saing. Dengan bekal ilmu pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai karakter yang telah ditempa selama berada di lingkungan Kampus, para lulusan diharapkan dapat menjawab tantangan zaman dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.“Dengan bekal penting yang diperoleh selama menempuh pendidikan, para lulusan diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa inovasi dan solusi di tengah tantangan dunia modern,” harap Prof. Eduart. (**)