Site Logo
Semua Berita
Semua Berita Siaran PersPenelitianPengumumanUNG BerdampakPengabdianSNPMBKemdikti SaintekMBKMSDGsPrestasi MahasiswaKerjasamaKemahasiswaanCampus LifeAkademikAkreditasiUmumJDIH
Untuk Lindungi Laut, Mahasiswa KKN Infrastruktur UNG Desain Pengelolaan Air Limbah dan Persampahan Pesisir Leato Selatan
14 Sep 2026
06:29 WITA

Untuk Lindungi Laut, Mahasiswa KKN Infrastruktur UNG Desain Pengelolaan Air Limbah dan Persampahan Pesisir Leato Selatan

Rachmad Hidayah

Gorontalo — Mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di Kelurahan Leato Selatan, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, mengangkat tema “Kemitraan Multipihak untuk Pengelolaan Sanitasi dan Persampahan Berkelanjutan”.Melalui tema tersebut, mahasiswa mendesain pengelolaan air limbah domestik melalui biofilter dan cubluk kembar, serta merancang sistem pengelolaan sampah pesisir berbasis ekonomi sirkular.Rancangan mahasiswa KKN yang dibimbing oleh Dr. Raghel Yunginger, Mulyani Z. Paramata, M.T., dan Dr. Boby R. Payu tersebut berangkat dari hasil survei lapangan dan pendataan Identifikasi Masalah dan Analisis Potensi (IMAP). Hasil pendataan tersebut telah dipaparkan mahasiswa pada FGD pertama kepada OPD terkait, Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Gorontalo, pemerintah kecamatan dan kelurahan, SDGs Center UNG, masyarakat, serta pemerhati lingkungan Rosyid A. Adzhar.Pada FGD kedua yang dilaksanakan pada 12 September 2026, mahasiswa memaparkan dua desain pengolahan air limbah rumah tangga, yaitu sistem biofilter untuk greywater dan cubluk kembar untuk blackwater. Kedua sistem tersebut dirancang untuk menurunkan beban pencemar antropogenik sebelum air limbah masuk ke lingkungan perairan.Di samping itu, untuk pengelolaan persampahan pesisir, mahasiswa mendata profil sampah dan volumenya untuk mendesain sistem pengelolaan terpadu mulai dari pemilahan, pengangkutan, hingga daur ulang berbasis ekonomi sirkular.Pengelolaan sampah organik diarahkan menjadi pupuk kompos dan pellet pakan. Sementara itu, sampah anorganik difokuskan pada pengepakan sampah sesuai dengan profil sampah anorganik yang bernilai jual.Dengan demikian, material yang masih bernilai dapat diolah secara terpadu di TPS3R Leato Selatan, sekaligus mengurangi sumber pencemaran antropogenik yang dapat mencemari kawasan permukiman dan perairan laut.Integrasi desain tersebut diarahkan untuk memutus jalur utama pencemaran dari daratan, yaitu air limbah domestik dan sampah yang berpotensi terbawa hingga ke kawasan pantai dan laut.Camat Dumbo Raya, Heriyanto M. Abas, S.E., menyampaikan apresiasi terhadap desain inovatif mahasiswa yang disusun berbasis data dan kondisi nyata di lapangan.Menurutnya, solusi yang ditawarkan sangat inovatif, ilmiah, dan dapat menjadi masukan penting bagi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan, khususnya terkait sanitasi, persampahan, dan perlindungan lingkungan pesisir.Inovasi ini penting karena Leato Selatan merupakan kawasan pesisir yang terhubung langsung dengan perairan Teluk Tomini, salah satu kekayaan alam Gorontalo yang memiliki fungsi ekologis, ekonomi, sosial, dan pariwisata.Melalui KKN Tematik Infrastruktur, kerja sama LP2M-UNG dengan Kementerian PUPR, mahasiswa menghadirkan desain ilmiah dan aksi nyata pengelolaan air limbah dan persampahan yang diharapkan dapat mendukung arah kebijakan pemerintah dalam pencapaian pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan 11 (kota dan permukiman berkelanjutan), 13 (penanganan perubahan iklim), dan 14 (ekosistem lautan).Melalui desain tersebut, mahasiswa KKN menunjukkan bahwa perlindungan laut dapat dimulai dari pembenahan sanitasi dan persampahan di tingkat rumah tangga yang didukung dengan tata kelola berbasis kemitraan multipihak secara berkelanjutan, yang selaras dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Perkenalkan Teknologi Eco-Cooler untuk Masyarakat, Peneliti UNG Hadirkan Solusi Rumah Sejuk Tanpa Listrik Dari Limbah Tongkol Jagung
07 Sep 2026
05:17 WITA

Perkenalkan Teknologi Eco-Cooler untuk Masyarakat, Peneliti UNG Hadirkan Solusi Rumah Sejuk Tanpa Listrik Dari Limbah Tongkol Jagung

Abdul Wahid Rauf

Tongkol jagung yang selama ini lebih banyak berakhir sebagai sisa hasil panen, mulai mendapat kehidupan baru di tangan dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG).Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, tim dosen UNG memperkenalkan eco-cooler, sebuah inovasi modul ventilasi alami berbahan limbah tongkol jagung kepada masyarakat Desa Bongopini, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango,.Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya hilirisasi hasil penelitian UNG, dengan membawa inovasi yang sebelumnya dikembangkan melalui riset untuk diperkenalkan dan diterapkan secara langsung di tengah masyarakat.Eco-cooler dikembangkan menggunakan campuran semen, pasir, dan limbah tongkol jagung. Modul ini dibuat dalam ukuran 20×20 cm dan 30×30 cm, atau setara dengan ukuran roster yang umum digunakan pada bangunan.Dengan bentuk tersebut, eco-cooler dirancang agar relatif mudah diaplikasikan sebagai bagian dari bangunan. Menariknya, modul ini tidak membutuhkan listrik ataupun perangkat mekanis untuk menjalankan fungsinya.Prinsip kerjanya memanfaatkan aliran udara alami yang melewati modul ventilasi untuk membantu menciptakan kondisi ruang yang lebih sejuk. Berdasarkan hasil pengujian tim peneliti, penggunaan eco-cooler mampu menurunkan suhu ruang dari sekitar 29°C menjadi kisaran 26,6–27,1°C.Temuan tersebut kemudian menjadi pijakan bagi tim untuk membawa inovasi dari ruang penelitian menuju ruang pengabdian, sehingga manfaat riset tidak berhenti pada hasil pengujian, tetapi dapat dipelajari dan dikembangkan bersama masyarakat.Ketua Tim Pengabdian, Dr. Ir. Ernawati, S.T., M.T., bersama lima dosen Arsitektur FT UNG, yakni Rahmat Firdaus Bouty, S.Ars., M.Ars.; Niniek Pratiwi, S.T., M.T.; Nurnaningsih N. Abdul, S.T., M.T.; Syafriani, S.T., M.Ars.; serta Nur Mutmainnah, S.T., M.Ars., memandu langsung proses sosialisasi.Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada konsep dan manfaat eco-cooler, tetapi juga diajak melihat potensi lain dari limbah pertanian yang tersedia di lingkungan sekitar.Tongkol jagung yang selama ini dipandang sebagai sisa produksi pertanian diperkenalkan sebagai salah satu material yang dapat diolah menjadi bagian dari elemen bangunan. Pendekatan ini mempertemukan dua kebutuhan sekaligus, yakni mengurangi potensi limbah pertanian dan menghadirkan alternatif pendekatan pasif untuk mendukung kenyamanan termal bangunan.Tidak berhenti pada sosialisasi, mahasiswa yang tergabung dalam tim pelaksana turut mendemonstrasikan proses pembuatan modul eco-cooler kepada masyarakat.Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan kesempatan untuk menerjemahkan pengetahuan mengenai arsitektur dan material bangunan yang diperoleh di bangku kuliah menjadi solusi yang dapat dijelaskan, dipraktikkan, dan dikembangkan bersama masyarakat.Sebagai persiapan menuju tahapan pelatihan berikutnya, masyarakat Desa Bongopini juga diajak mulai mengumpulkan, menyisihkan, dan mengeringkan tongkol jagung sisa panen. Bahan tersebut nantinya akan digunakan dalam praktik pembuatan eco-cooler.Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi dipersiapkan untuk memiliki pengalaman langsung dalam mengolah material yang tersedia di lingkungan mereka.Bagi tim UNG, pemanfaatan tongkol jagung dalam eco-cooler menunjukkan bahwa material sederhana yang berada di sekitar masyarakat, dapat memiliki nilai guna baru ketika dipadukan dengan pengetahuan dan inovasi.Lebih dari sekadar menghasilkan sebuah produk, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana riset arsitektur dapat bergerak dari laboratorium menuju masyarakat. Pengetahuan mengenai material, ventilasi alami, dan desain bangunan diterjemahkan menjadi inovasi yang dekat dengan kebutuhan dan potensi lokal.Hilirisasi eco-cooler pun menjadi bagian dari upaya UNG untuk memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi solusi yang memberi manfaat bagi masyarakat.

UNG Mengajar Batch 10 Terjunkan 1.108 Mahasiswa, Hadirkan Dampak Nyata di Sekolah
07 Sep 2026
02:50 WITA

UNG Mengajar Batch 10 Terjunkan 1.108 Mahasiswa, Hadirkan Dampak Nyata di Sekolah

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Sebagai komitmen mendukung penuatan kualitas pembelajaran di sekolah, Universitas Negeri Gorontalo kembali melaksanakan program UNG Mengajar  Batch 10 untuk tiga wilayah di Provinsi Gorontalo. Dalam program UNG Mengajar ini, kampus kerakyatan UNG akan menerjunkan sebanyak 1.108 mahasiswa yang berasal dari 18 program studi kependidikan di lingkungan UNG.Ketiga wilayah tersebut meliputi Kabupaten Gorontalo, Kota Gorontalo, dan Kabupaten Bone Bolango. Selama kurang lebih empat bulan, para mahasiswa akan terlibat langsung dalam aktivitas pendidikan dan pembelajaran di sekolah mitra, sekaligus membawa semangat pengabdian untuk memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan.Ketua Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) UNG, Prof. Dr. Elya Nusantari, M.Pd., menjelaskan bahwa pelaksanaan UNG Mengajar terus mengalami perkembangan, seiring dengan perubahan kebijakan dan arah pengembangan program pendidikan tinggi.Menurutnya, UNG Mengajar yang sebelumnya menjadi bagian dari kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), kini diarahkan menjadi bagian dari semangat Kampus Berdampak.“Artinya, kehadiran mahasiswa bukan hanya untuk belajar di lapangan, tetapi harus benar-benar memberikan dampak nyata bagi sekolah dan masyarakat,” jelas Prof. Elya.Melalui program ini, mahasiswa mendapatkan ruang untuk mengaplikasikan pengetahuan dan kompetensi yang diperoleh selama perkuliahan secara langsung di lingkungan sekolah. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperkuat berbagai aspek pembelajaran, terutama dalam pengembangan literasi, numerasi, serta karakter peserta didik.Lebih dari sekadar pengalaman mengajar, UNG Mengajar menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung dinamika pendidikan di lapangan. Mereka dituntut mampu membaca kebutuhan sekolah, beradaptasi dengan lingkungan, serta menghadirkan gagasan dan pendekatan pembelajaran yang relevan.Rektor UNG melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program UNG Mengajar, merupakan salah satu bentuk nyata kontribusi UNG terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Gorontalo.Ia berharap para mahasiswa tidak hanya hadir untuk membantu menjalankan aktivitas pembelajaran yang sudah berlangsung di sekolah, tetapi mampu memberikan nilai tambah melalui inovasi dan gagasan baru.“Kehadiran mahasiswa bukan hanya untuk menggantikan peran guru yang ada di sekolah. Mahasiswa harus hadir membawa inovasi, sistem, serta pendekatan baru yang kalian miliki untuk memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran,” tegas Amir.Pesan tersebut menjadi penekanan penting dalam pelaksanaan UNG Mengajar Batch 10. Sebagai mahasiswa dari berbagai program studi kependidikan, para peserta diharapkan mampu menjadikan sekolah sebagai ruang belajar sekaligus ruang pengabdian. (**)

Mahasiswa KKN-PK UNG Olah Jeruk Nipis Jadi Aromaterapi untuk Bantu Redakan Kecemasan Ibu Hamil
04 Sep 2026
05:37 WITA

Mahasiswa KKN-PK UNG Olah Jeruk Nipis Jadi Aromaterapi untuk Bantu Redakan Kecemasan Ibu Hamil

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menghadirkan inovasi berbasis potensi lokal, melalui pemanfaatan jeruk nipis menjadi aromaterapi roll-on. Inovasi tersebut dikembangkan sebagai salah satu pendekatan nonfarmakologis, untuk membantu menciptakan rasa rileks dan mengurangi kecemasan ibu hamil menjelang persalinan.Program pemberdayaan masyarakat ini dilaksanakan di Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, dengan mengusung tema “Pemberdayaan Ibu Hamil Melalui Pembuatan Aromaterapi Jeruk sebagai Terapi Nonfarmakologis untuk Mengurangi Kecemasan Menjelang Persalinan.”Melalui program tersebut, mahasiswa KKN-PK tidak hanya memberikan edukasi mengenai pemanfaatan bahan alam, tetapi juga mendampingi masyarakat secara langsung dalam mengolah kulit jeruk nipis, menjadi minyak atsiri yang kemudian diformulasikan sebagai produk aromaterapi roll-on.Minyak atsiri jeruk nipis diketahui memiliki kandungan senyawa aromatik, termasuk limonene, yang berpotensi memberikan efek relaksasi. Aroma segar yang dihasilkan diharapkan dapat membantu, menciptakan suasana nyaman bagi ibu hamil dalam menghadapi masa menjelang persalinan.Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-PK UNG, Dr. Mohamad Adam Mustapa, M.Sc., mengatakan program tersebut merupakan bentuk nyata upaya mahasiswa, mentransformasikan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar menerapkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan produk tepat guna dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang tersedia di masyarakat,” ujarnya.Menurutnya pemanfaatan jeruk nipis sebagai bahan baku aromaterapi, juga membuka peluang pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan keterampilan baru. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, produk berbasis bahan lokal tersebut berpotensi dikembangkan menjadi produk usaha mikro masyarakat.Kepala Desa Tolotio bersama pengurus PKK menyambut positif inovasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN-PK UNG. Selain memberikan alternatif pemanfaatan bahan alam, keterampilan tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kegiatan produktif masyarakat.Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memberikan pendampingan mulai dari proses persiapan bahan baku hingga pengemasan produk. Kulit jeruk nipis segar terlebih dahulu dipilah dan dicuci bersih, kemudian dipotong kecil atau diparut tipis untuk membantu melepaskan kandungan minyak atsiri.Bahan selanjutnya diproses melalui distilasi uap. Uap air panas dialirkan melewati bahan untuk melepaskan molekul minyak atsiri. Campuran uap minyak dan air kemudian dialirkan menuju kondensor hingga mengalami proses pengembunan.Hasil kondensasi selanjutnya ditampung dan dipisahkan untuk memperoleh minyak atsiri. Minyak yang diperoleh kemudian diformulasikan menggunakan minyak pembawa seperti virgin coconut oil dengan memperhatikan formulasi yang sesuai untuk penggunaan pada kulit.Setelah proses formulasi selesai, produk dimasukkan ke dalam botol roll-on berukuran 10 ml sehingga lebih praktis, higienis, dan mudah digunakan.Melalui program ini, mahasiswa KKN-PK UNG berupaya menghadirkan model pengabdian yang menghubungkan ilmu pengetahuan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pemanfaatan potensi lokal seperti jeruk nipis diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan selama masa KKN, tetapi dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Desa Tolotio. (**)

KKN UNG Dorong Tata Kelola Partisipatif untuk Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga di Desa Tualango
03 Sep 2026
01:57 WITA

KKN UNG Dorong Tata Kelola Partisipatif untuk Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga di Desa Tualango

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Tahap II (KKN-T II) UNG berupaya menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat, melalui program pengabdian berbasis kebutuhan desa. Kali ini, mahasiswa menggagas pembentukan Forum Sentra Pangan Desa, yang rumuskan melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Inovasi Tata Kelola Partisipatif dalam Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga Berbasis Regulasi dan Kelembagaan di Desa Tualango”.Kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi mahasiswa dan pemangku kepentingan di Desa Tualango untuk merumuskan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pendekatan tata kelola yang partisipatif, terstruktur, dan berbasis potensi lokal.FGD melibatkan berbagai unsur penting di tingkat desa, mulai dari Penjabat Kepala Desa Tualango, jajaran aparatur pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Abdul Hamid Tome, S.H., M.H., menjelaskan bahwa pelaksanaan FGD, merupakan bagian dari program kerja kolaboratif mahasiswa KKN-T II UNG. Pendekatan lintas disiplin ilmu yang diterapkan diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi, yang tidak hanya relevan dengan kebutuhan masyarakat, tetapi juga memiliki landasan regulasi dan kelembagaan yang kuat.“Pendampingan ini dilakukan untuk memastikan setiap rekomendasi yang dihasilkan memiliki dasar regulasi desa yang kuat serta dapat diterapkan secara nyata,” ungkapnya.Dalam FGD tersebut, mahasiswa turut memaparkan hasil survei empiris yang dilakukan terhadap 27 kepala keluarga dengan total 106 jiwa di Desa Tualango. Hasil survei menunjukkan bahwa ketidakstabilan ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor utama kerentanan pangan masyarakat dengan persentase mencapai 48,1 persen.Selain itu, tingkat keterjangkauan program bantuan sosial tercatat masih mencapai 33,3 persen. Dari jumlah keluarga yang menjadi responden, sebanyak 15 keluarga memiliki anggota kelompok rentan, seperti balita dan lansia, yang membutuhkan perhatian serta intervensi yang lebih terarah.Melihat potensi lokal di sektor pertanian, perikanan, UMKM, dan pekarangan produktif yang belum terintegrasi, tim mahasiswa merekomendasikan pembentukan Forum Sentra Pangan Desa. Rekomendasi ini menekankan perlunya payung tata kelola dan kelembagaan partisipatif agar pemanfaatan potensi desa berjalan berkesinambungan.Gagasan pembentukan wadah koordinasi tersebut disepakati secara aklamasi oleh seluruh unsur pemerintahan dan lembaga desa. Komitmen bersama ini ditandai dengan penandatanganan dokumen kesepakatan oleh PJ Kepala Desa Tualango, Ketua BPD, Direktur BUMDes, serta Kordes KKN-T II Desa Tualango.Komitmen bersama tersebut kemudian ditandai dengan penandatanganan dokumen kesepakatan oleh Penjabat Kepala Desa Tualango, Ketua BPD, Direktur BUMDes, serta Koordinator Desa KKN-T II UNG Desa Tualango.Penjabat Kepala Desa Tualango, Wiwin Kabaderan, memberikan apresiasi terhadap pendekatan ilmiah dan legal-formal yang ditawarkan mahasiswa KKN-T II UNG dalam merespons persoalan ketahanan pangan masyarakat. Menurutnya, gagasan yang lahir dari kegiatan tersebut perlu terus dikawal agar dapat berkembang menjadi kebijakan dan program nyata di tingkat desa.“Kami berharap gagasan yang telah dirumuskan bersama tidak hanya berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi kebijakan dan program nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.Inisiatif ini sekaligus menjadi wujud peran mahasiswa UNG dalam mendorong pembangunan desa berbasis data, potensi lokal, regulasi, serta partisipasi masyarakat, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga secara berkelanjutan. (**)

Mahasiswa KKN UNG Perkuat Kesadaran Hukum Warga Desa Molombulahe
02 Sep 2026
01:11 WITA

Mahasiswa KKN UNG Perkuat Kesadaran Hukum Warga Desa Molombulahe

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan sosialisasi hukum, bertajuk “Penguatan Kesadaran Hukum Masyarakat Desa Molombulahe dalam Menghadapi Dinamika Regulasi Narkotika Pasca KUHP Nasional Terbaru”.Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Molombulahe tersebut, dihadiri jajaran pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat. Sosialisasi ini menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, untuk memperkuat pemahaman mengenai dinamika regulasi serta aspek pencegahan tindak pidana narkotika.Pelaksanaan kegiatan turut mendapat pendampingan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Fakultas Hukum UNG, yakni Dr. Suwitno Yutye Imran, S.H., M.H., Dr. Erman I. Rahim, S.Pd., S.H., M.H., serta Irlan Puluhulawa, S.H., M.H.DPL Dr. Suwitno Yutye Imran, S.H., M.H., menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari pengabdian nyata sivitas akademika UNG, dalam merespons perkembangan dan pembaruan hukum pidana nasional, khususnya terkait regulasi dan penegakan hukum di bidang narkotika.Menurutnya, edukasi hukum menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap aturan yang berlaku, sekaligus memperkuat upaya pencegahan terhadap penyalahgunaan narkotika.“Melalui kegiatan ini, mahasiswa hadir untuk memberikan edukasi hukum yang komprehensif kepada masyarakat. Kami berharap masyarakat semakin memahami dinamika regulasi, serta pentingnya langkah-langkah preventif dalam menghadapi persoalan narkotika,” ujarnya.Kegiatan tersebut melibatkan kolaborasi mahasiswa Fakultas Hukum UNG, bersama mahasiswa dari berbagai fakultas lainnya. Kolaborasi lintas disiplin ilmu tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk menghadirkan program pengabdian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.Sementara itu Pemerintah Desa Molombulahe turut memberikan apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa KKN UNG. Program sosialisasi tersebut dinilai relevan dalam meningkatkan pemahaman hukum masyarakat, khususnya terkait ketentuan terbaru mengenai tindak pidana narkotika dalam perkembangan hukum pidana nasional.Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai aspek hukum, tetapi juga semakin memiliki kesadaran terhadap pentingnya pencegahan penyalahgunaan narkotika sejak dini. (**)

UNG Kawal Program Pengabdian Smart Aquaponic untuk Pangan Bergizi di Desa Ombulo Kabupaten Gorontalo
31 Aug 2026
01:53 WITA

UNG Kawal Program Pengabdian Smart Aquaponic untuk Pangan Bergizi di Desa Ombulo Kabupaten Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Lahirnya inovasi dari para peneliti, terus berupaya dikawal Universitas negeri Gorontalo sehingga mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat.  Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), UNG melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Ombulo.Kegiatan tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan pelaksanaan program sekaligus memastikan inovasi yang dikembangkan oleh tim pengabdi mampu memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.Program pengabdian yang dimonitor mengangkat judul “Pemberdayaan Masyarakat Desa Ombulo melalui Integrated Smart Aquaponic Berbasis Green Technology untuk Mendukung Program Makan Bergizi Gratis Berkelanjutan.” Program ini dilaksanakan oleh tim pengabdi UNG yang terdiri atas Faramita Hiola, S.Farm., M.Sc., Dr. Yoyanda Bait, M.DSi., dan Dr. Djuna Lamondo, M.Si.Program tersebut memperoleh dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026.Melalui program ini, tim pengabdi memperkenalkan penerapan Integrated Smart Aquaponic, sebuah inovasi yang mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem dengan pendekatan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung ketersediaan sumber pangan bergizi bagi masyarakat. Selain menghasilkan komoditas perikanan, sistem aquaponic juga memungkinkan masyarakat melakukan budidaya tanaman secara terintegrasi sehingga pemanfaatan sumber daya dapat dilakukan dengan lebih efektif.Dalam kegiatan monev, tim LPPM UNG meninjau langsung perkembangan pelaksanaan program, capaian kegiatan, serta penerapan teknologi Integrated Smart Aquaponic berbasis green technology yang dikembangkan bersama masyarakat Desa Ombulo.Evaluasi juga dilakukan untuk melihat sejauh mana inovasi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, serta peluang keberlanjutan program setelah periode pelaksanaan pengabdian berakhir.Ketua LPPM UNG, Prof. Lanto Ningrayati Amali, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat melalui penerapan hasil penelitian dan inovasi.“Melalui monev ini, kami ingin memastikan program yang dilaksanakan tidak hanya berjalan sesuai rencana, tetapi juga memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Inovasi yang dikembangkan diharapkan dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat Desa Ombulo,” ujarnya.Menurutnya, kegiatan pengabdian kepada masyarakat perlu terus diarahkan pada upaya pemecahan berbagai persoalan, melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki nilai manfaat serta keberlanjutan.Melalui pengembangan Integrated Smart Aquaponic, UNG berharap masyarakat Desa Ombulo dapat memperoleh alternatif teknologi dalam mendukung pengembangan sumber pangan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.Program ini sekaligus menjadi wujud komitmen UNG dalam memperkuat peran perguruan tinggi melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada inovasi, pemberdayaan, serta penyelesaian persoalan di tengah masyarakat.Dengan semangat menghadirkan kampus yang berdampak, UNG terus berupaya memastikan setiap inovasi yang lahir dari lingkungan akademik dapat melampaui ruang laboratorium dan kampus, untuk kemudian tumbuh bersama masyarakat serta memberikan manfaat nyata bagi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan.

Perkuat Kolaborasi, Polda Gorontalo Gandeng UNG Bentuk Pusat Studi Kepolisian
21 Aug 2026
05:14 WITA

Perkuat Kolaborasi, Polda Gorontalo Gandeng UNG Bentuk Pusat Studi Kepolisian

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Pengembangan Pusat Studi Kepolisian menjadi langkah kolaborasi strategis, yang digagas Kepolisian Daerah Gorontalo (Polda Gorontalo) dengan menggandeng Universitas Negeri Gorontalo. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara UNG dan Polda Gorontalo di Ruang Rapat Rektorat UNG, Jumat (21/8).Pembentukan pusat studi ini menjadi langkah strategis untuk mempertemukan kekuatan akademik perguruan tinggi dengan pengalaman dan kebutuhan institusi kepolisian. Melalui kolaborasi tersebut, UNG dan Polda Gorontalo membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan penelitian, kajian ilmiah, pendidikan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.Rektor UNG yang diwakili Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Dr. Harto Malik, M.Hum., menyambut baik terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, kehadiran Pusat Studi Kepolisian di UNG dapat menjadi wadah untuk menghasilkan kajian akademik yang relevan dengan berbagai persoalan keamanan, hukum, dan pelayanan publik.“Ini menjadi sebuah langkah strategis antara dunia akademik dan institusi kepolisian untuk berkolaborasi dalam mengembangkan penelitian, kajian ilmiah, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia,” ujarnya.Melalui kolaborasi ini perguruan tinggi memiliki peran penting, dalam memberikan perspektif berbasis ilmu pengetahuan terhadap berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat. Karena itu, sinergi dengan institusi kepolisian diharapkan mampu menghasilkan penelitian dan rekomendasi yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga dapat memberikan manfaat dalam mendukung pelaksanaan tugas kepolisian.Pusat Studi Kepolisian UNG nantinya diarahkan menjadi ruang pengembangan kajian berbasis pengetahuan dan riset yang dapat mendukung kebutuhan institusi kepolisian maupun masyarakat. Berbagai isu strategis terkait keamanan, hukum, ketertiban, hingga pelayanan publik dapat dikaji melalui pendekatan multidisipliner dengan melibatkan dosen, peneliti, mahasiswa, serta unsur kepolisian.Dengan ini, UNG menegaskan komitmennya untuk mendukung keberadaan Pusat Studi Kepolisian, dengan menyiapkan sumber daya manusia terbaik yang dimiliki universitas. Para dosen dan peneliti akan didorong untuk terlibat aktif dalam berbagai program yang dikembangkan melalui pusat studi tersebut.“Kolaborasi UNG dan Polda Gorontalo sekaligus menjadi bagian dari upaya universitas mengimplementasikan konsep kampus berdampak melalui penguatan tiga pilar tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” pungkas Harto. (**)

BUSA-BALI BUMIL, Inovasi Mahasiswa KKN-PK Perkuat Peran Keluarga Deteksi Risiko Kehamilan
20 Aug 2026
06:04 WITA

BUSA-BALI BUMIL, Inovasi Mahasiswa KKN-PK Perkuat Peran Keluarga Deteksi Risiko Kehamilan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Upaya menekan angka kematian ibu dan anak tidak hanya membutuhkan layanan kesehatan yang kuat, tetapi juga keterlibatan keluarga dalam mengenali risiko kehamilan sejak dini. Semangat inilah yang mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menghadirkan inovasi edukasi BUSA-BALI BUMIL di Desa Pentadio Timur.Program bertajuk “BUSA-BALI BUMIL (Buku Saku dan Lembar Balik) Deteksi Dini Risiko Tinggi Kehamilan: Penguatan Peran Keluarga dalam Pendampingan Ibu Hamil” tersebut dilaksanakan di Kantor Puskesmas Pembantu Desa Pentadio Timur.Program ini dirancang sebagai media edukasi praktis untuk membantu ibu hamil, keluarga, kader kesehatan, dan masyarakat memahami berbagai risiko selama kehamilan. Lebih dari sekadar menyampaikan informasi, BUSA-BALI BUMIL mendorong keluarga menjadi bagian aktif dalam sistem deteksi dini dan pendampingan ibu hamil.Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-PK UNG, Ns. Indra, S.Kep., M.Kep., menjelaskan bahwa media edukasi yang dikembangkan mahasiswa, memuat informasi yang mudah dipahami dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.“Melalui media edukasi berupa Buku Saku dan Lembar Balik, ibu hamil, kader kesehatan, serta masyarakat memperoleh informasi praktis mengenai tanda bahaya kehamilan, faktor risiko, hingga langkah yang perlu dilakukan apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan pertolongan,” ungkapnya.Buku Saku BUSA-BALI BUMIL dirancang sebagai panduan praktis, terutama bagi suami dan anggota keluarga dalam mendampingi ibu hamil. Sementara itu, Lembar Balik dapat dimanfaatkan bidan desa dan kader kesehatan sebagai media pendukung ketika memberikan edukasi kepada masyarakat.Koordinator Desa (Kordes) KKN-PK UNG, Ahmad Syarief Bin Zein Suweleh, mengatakan program tersebut menempatkan keluarga sebagai bagian penting, dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kegawatdaruratan kehamilan.“Melalui BUSA-BALI BUMIL, edukasi kesehatan tidak hanya ditujukan kepada ibu hamil, tetapi juga kepada keluarga sebagai pendamping terdekat dan garda terdepan dalam mendeteksi risiko kehamilan,” terangnya.Menurutnya, keluarga memiliki posisi strategis karena menjadi pihak yang paling dekat dengan ibu hamil. Pengetahuan mengenai tanda bahaya dan faktor risiko diharapkan dapat membantu keluarga mengambil keputusan secara lebih cepat ketika menghadapi kondisi yang membutuhkan penanganan tenaga kesehatan.Kepala Desa Pentadio Timur, Rahman Adam, S.H., menyambut baik kehadiran program BUSA-BALI BUMIL. Menurutnya, media edukasi tersebut memiliki potensi untuk terus dimanfaatkan masyarakat bahkan setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian.“Program ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini kehamilan risiko tinggi serta memperkuat peran keluarga dalam mendampingi ibu hamil,” ujarnya.Melalui program tersebut, mahasiswa KKN-PK UNG tidak hanya menghadirkan edukasi kesehatan, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya kesiapsiagaan keluarga dalam menghadapi risiko kehamilan. Dengan semakin cepat risiko dikenali dan semakin tepat tindakan dilakukan, semakin besar pula peluang ibu dan bayi memperoleh pertolongan yang dibutuhkan.

UNG Resmikan Unit Layanan Disabilitas, Tegaskan Komitmen Wujudkan Kampus yang Setara dan Inklusif
18 Aug 2026
09:19 WITA

UNG Resmikan Unit Layanan Disabilitas, Tegaskan Komitmen Wujudkan Kampus yang Setara dan Inklusif

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat komitmennya, dalam menghadirkan layanan pendidikan tinggi yang inklusif dan dapat diakses oleh semua. Komitmen tersebut diwujudkan melalui peresmian Unit Layanan Disabilitas (ULD) oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., Selasa (18/8).Dalam penyampaiannya Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyebut peresmian ULD menjadi langkah strategis UNG, dalam membangun lingkungan kampus yang semakin aksesibel, setara, dan responsif terhadap keberagaman kebutuhan mahasiswa, khususnya penyandang disabilitas.“Layana disabilitas ini diharapkan tidak sekadar menjadi unit layanan administratif, tetapi berkembang sebagai pusat dukungan yang mampu memastikan mahasiswa penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang sama dalam menjalani proses pendidikan di lingkungan UNG,” ungkap Rektor.Ia menegaskan bahwa keberadaan ULD merupakan bagian dari komitmen institusi, untuk memastikan seluruh mahasiswa mendapatkan hak dan kesempatan yang setara dalam mengakses pendidikan tinggi. ULD diharapkan menjadi pusat layanan yang menyediakan dukungan akademik, pendampingan, serta berbagai bentuk fasilitasi aksesibilitas bagi mahasiswa penyandang disabilitas.“Pendidikan tinggi tidak hanya berbicara mengenai penyelenggaraan pembelajaran, tetapi juga bagaimana perguruan tinggi mampu menciptakan lingkungan yang memberikan ruang bagi setiap individu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki,” tegasnya.Karena itu, keberadaan ULD menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem pendidikan yang menghargai keberagaman, sekaligus memastikan tidak ada mahasiswa yang menghadapi hambatan untuk belajar dan berpartisipasi dalam kehidupan kampus.Menariknya kehadiran unit ini nantinya tidak hanya diperuntukkan untuk memberikan layanan bagi civitas akademika UNG semata, tetapi terbuka bagi masyarakat di Provinsi Gorontalo yang membutuhkan informasi, konsultasi, dan dukungan terkait layanan disabilitas.“Keterbukaan tersebut mempertegas peran UNG sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga hadir memberikan manfaat bagi masyarakat luas dengan turut menghadirkan layanan untuk masyarakat penyandang disabilitas,” pungkasnya. (**)

Ajak Masyarakat Hidup Sehat, Mahasiswa UNG Gencar Edukasi Masyarakat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
18 Aug 2026
01:35 WITA

Ajak Masyarakat Hidup Sehat, Mahasiswa UNG Gencar Edukasi Masyarakat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Upaya menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak usia dini terus dilakukan mahasiswa, melalui kegiatan edukasi kesehatan di lingkungan sekolah. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan, mahasiswa menggelar edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi siswa di Desa Lauwonu, Gorontalo.Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa KKN Profesi Kesehatan, dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan. Selain itu juga mendorong terbentuknya kebiasaan hidup bersih dan sehat, pada anak-anak melalui pendekatan edukatif, interaktif, dan mudah dipahami.Materi PHBS disampaikan oleh Anissa O.R. Pakaya. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga kebersihan diri, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga kebersihan lingkungan, serta menerapkan pola hidup sehat sebagai bagian dari upaya mencegah berbagai penyakit.“Para siswa diajak memahami bahwa perilaku hidup bersih dan sehat bukan sekadar materi pembelajaran, melainkan kebiasaan sederhana yang perlu dilakukan secara konsisten, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah,” ujarnya.Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa sederhana dan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Para siswa tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan dan berbagi pengalaman mengenai kebiasaan menjaga kebersihan diri maupun lingkungan. Keterlibatan guru wali kelas dan guru pendamping juga menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan pesan kesehatan yang disampaikan.“Guru diharapkan dapat terus mendampingi siswa dalam menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat sehingga edukasi yang diberikan tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan, tetapi dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari,” terangnya.Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka aktif merespons pertanyaan yang diberikan oleh moderator maupun pemateri serta terlibat dalam diskusi mengenai kebiasaan hidup bersih dan sehat. Interaksi tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dengan metode yang komunikatif dan menyenangkan dapat menjadi salah satu pendekatan efektif untuk memperkenalkan pentingnya PHBS kepada anak-anak. (**)

Perkuat Kesehatan Ibu Hamil, Mahasiswa KKN-PK Latih Kader Masyarakat Dalam Pemantauan Kehamilan Berbasis Teknologi
18 Aug 2026
01:18 WITA

Perkuat Kesehatan Ibu Hamil, Mahasiswa KKN-PK Latih Kader Masyarakat Dalam Pemantauan Kehamilan Berbasis Teknologi

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Upaya memperkuat kesehatan ibu dan bayi terus dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Salah satunya melalui Pelatihan dan Penguatan Kapasitas Kader yang digelar di Aula Kantor Desa Isimu Utara, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Senin (10/8/2026).Mengusung tema “Meningkatkan Kompetensi Kader dalam Pendampingan Ibu Hamil melalui Kalender ANC dan Website Monitoring”, kegiatan ini tidak hanya memberikan penguatan pengetahuan kepada kader, tetapi juga memperkenalkan pemanfaatan teknologi untuk membantu memantau kesehatan ibu hamil secara lebih terstruktur.Pelatihan diikuti oleh kader kesehatan dan sejumlah unsur masyarakat, serta dihadiri Kepala Desa Isimu Utara Wawan Pipii bersama jajaran pemerintah desa, Karang Taruna, dan pendamping sosial. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sistem pendampingan kesehatan ibu yang melibatkan masyarakat sejak tingkat desa.Kepala Desa, Wawan Pipii, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan yang diberikan mahasiswa KKN-PK dapat menjadi bekal bagi kader dalam menjalankan tugas pendampingan ibu hamil di Desa Isimu Utara.“Diharapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan secara optimal sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat,” harapnya.Koordinator Desa KKN-PK UNG Desa Isimu Utara, Moh. Saputra Ali, menjelaskan bahwa pelatihan merupakan bagian dari program pengabdian mahasiswa, untuk meningkatkan kapasitas kader dalam melakukan pendampingan ibu hamil.“Melalui pelatihan ini, mendorong kader dapat lebih memahami perannya dalam mendampingi ibu hamil dan mampu memanfaatkan Kalender ANC serta website monitoring sebagai media pendukung pemantauan kehamilan,” ujarnya.Dalam kegiatan pelatihan, kader terlebih dahulu mendapatkan materi mengenai peran dan fungsi mereka dalam pendampingan ibu hamil. Materi mencakup pentingnya pemantauan kondisi ibu, pengingat jadwal pemeriksaan kehamilan, hingga pemberian dukungan dan informasi kepada ibu hamil beserta keluarganya.Mahasiswa kemudian memperkenalkan Kalender ANC sebagai media sederhana untuk membantu kader mencatat dan memantau jadwal pemeriksaan antenatal care (ANC). Kader diberikan pemahaman mengenai cara pencatatan jadwal pemeriksaan serta pemantauan kunjungan ibu hamil.Tidak berhenti pada pencatatan manual, mahasiswa KKN-PK juga memperkenalkan website monitoring yang dikembangkan sebagai media pendukung pemantauan ibu hamil di Desa Isimu Utara.Melalui platform tersebut, kader dikenalkan pada sistem pemantauan data dan informasi ibu hamil. Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat membantu kader mengelola informasi secara lebih terstruktur sehingga pendampingan dapat dilakukan secara lebih terarah.Bagi mahasiswa KKN-PK UNG, penguatan kapasitas kader menjadi langkah penting karena kader merupakan salah satu unsur yang paling dekat dengan masyarakat. Dengan pengetahuan yang memadai dan dukungan sistem pemantauan, kader diharapkan mampu membantu memastikan ibu hamil memperoleh perhatian dan pendampingan yang dibutuhkan.Pemanfaatan Kalender ANC dan website monitoring juga menjadi contoh bagaimana teknologi sederhana dapat dipadukan dengan peran masyarakat untuk memperkuat layanan kesehatan berbasis komunitas. (**)

Eco-Repel Spray: Inovasi Peneliti UNG Ubah Limbah Jagung Dan Daun Pepaya Jadi Penangkal Nyamuk Malaria Ramah Lingkungan
14 Aug 2026
01:22 WITA

Eco-Repel Spray: Inovasi Peneliti UNG Ubah Limbah Jagung Dan Daun Pepaya Jadi Penangkal Nyamuk Malaria Ramah Lingkungan

Abdul Wahid Rauf

Malaria masih menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang belum tuntas, termasuk di Indonesia. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina ini masih bersanding dengan tuberkulosis dan HIV/AIDS sebagai prioritas penanganan kesehatan nasional. Wilayah beriklim tropis dengan suhu hangat dan kelembapan tinggi, seperti sebagian besar wilayah Indonesia, menjadi habitat ideal bagi nyamuk ini untuk berkembang biak dengan cepat.Selama ini, masyarakat umumnya mengandalkan produk repelan komersial sebagai langkah pencegahan. Sayangnya, mayoritas produk yang beredar di pasaran mengandung bahan kimia sintetis bernama DEET (N,N-Diethyl-meta-toluamide). Meski efektif, penggunaan DEET dalam jangka panjang atau konsentrasi tinggi berisiko memicu iritasi kulit, reaksi alergi, efek neurotoksik, hingga gangguan sistem saraf. Lebih jauh, residunya berpotensi mencemari ekosistem tanah dan perairan.Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) — La Ode Aman, Dizky Ramadani Putri Papeo, dan Yuniarty Antu — menginisiasi sebuah inovasi ramah lingkungan bernama Eco-Repel Spray. Yang menarik, bahan utamanya bukan sesuatu yang jauh atau mahal: melainkan rambut jagung (Zea mays L.) dan daun pepaya (Carica papaya L.) — dua bahan lokal yang melimpah dan selama ini kerap dianggap sebagai limbah pertanian.Melalui pendekatan Community-Based Participatory Approach (CBPA), inovasi ini telah disosialisasikan dan diterapkan secara langsung kepada masyarakat di Desa Botumoito, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.Sinergi Dua Tanaman, Perlindungan BerlipatSecara ilmiah, kombinasi kedua ekstrak tanaman ini terbukti menghasilkan efek sinergis yang memperpanjang durasi perlindungan dari gigitan nyamuk.Rambut jagung kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, tanin, dan minyak atsiri. Minyak atsiri mengandung senyawa volatil yang mudah menguap dan mengeluarkan aroma khas yang mampu mengacaukan reseptor penciuman nyamuk dewasa, sehingga menurunkan kemampuannya mendeteksi manusia sebagai inang. Selain itu, rambut jagung juga mengandung senyawa norbergenin yang terbukti efektif menghambat pertumbuhan parasit malaria.Sementara itu, daun pepaya yang telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional mengandung alkaloid papain, saponin, flavonoid, dan fenolik. Senyawa alkaloid bekerja mengganggu proses metabolisme parasit di dalam sel darah merah, sementara kandungan flavonoidnya memberikan efek repelan yang signifikan terhadap nyamuk.Mudah Dibuat, Aman untuk Seluruh KeluargaSalah satu keunggulan Eco-Repel Spray adalah proses pembuatannya yang sederhana, murah, dan dapat dipraktikkan langsung dalam skala rumah tangga. Berikut tahapannya:Persiapan bahan — Cuci bersih 50–100 gram rambut jagung dan 10–15 helai daun pepaya segar.Perebusan — Rebus kedua bahan dalam 1.000 ml air bersih selama 20–30 menit, saring menggunakan kain kasa, lalu dinginkan hingga suhu ruang.Pencampuran pelarut dan aroma — Di wadah terpisah, campurkan 100 ml etanol 70% dengan 1 ml minyak sereh (citronella oil). Minyak sereh ditambahkan karena mengandung senyawa geraniol dan citronellal yang juga dikenal tidak disukai nyamuk.Finalisasi — Masukkan air rebusan ekstrak tanaman secara bertahap ke dalam campuran alkohol dan minyak sereh sambil diaduk hingga menyatu. Tuangkan ke dalam botol semprot steril, dan produk siap digunakan.Formulasi yang bebas dari bahan kimia sintetik menjadikan produk ini relatif aman digunakan oleh seluruh kelompok usia, termasuk anak-anak dan ibu hamil.Lebih dari Sekadar Repelan: Wujud Nyata Pembangunan BerkelanjutanInovasi Eco-Repel Spray tidak hanya menjadi langkah maju di sektor kesehatan masyarakat, tetapi juga merupakan wujud nyata dari konsep pembangunan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan limbah organik, inovasi ini mengintegrasikan tiga pilar sekaligus: kesehatan manusia, kelestarian lingkungan melalui prinsip zero waste, serta penguatan ekonomi lokal.Inisiatif berbasis komunitas ini juga sejalan dengan pencapaian target global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan ke-3 mengenai Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan, serta Tujuan ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.Ke depannya, produk berbasis bahan alam lokal ini berpotensi besar dikembangkan menjadi komoditas usaha mikro atau ekonomi kreatif desa, guna meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Sebuah bukti bahwa inovasi besar tidak selalu bermula dari laboratorium canggih — kadang, ia lahir dari halaman rumah sendiri.

1.518 Mahasiswa UNG Turun ke 102 Desa, Bawa Misi Generasi Emas Lewat KKN Tematik
09 Aug 2026
11:11 WITA

1.518 Mahasiswa UNG Turun ke 102 Desa, Bawa Misi Generasi Emas Lewat KKN Tematik

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Sebanyak 1.518 mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali diterjunkan ke tengah masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap II Tahun 2026. Mengusung tema “KKN Tematik Generasi Emas: Pencegahan Narkoba, Stunting, dan Penguatan Pangan Keluarga”, program ini diarahkan untuk menghadirkan kontribusi nyata mahasiswa dalam menjawab berbagai persoalan strategis di masyarakat.Sebelum diterjunkan ke lokasi pengabdian, para mahasiswa terlebih dahulu mengikuti coaching dan pelepasan sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan KKN. Pembekalan ini menjadi momentum bagi mahasiswa untuk memahami tema, menyusun program kerja, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dinamika kehidupan masyarakat di desa.Kepala Pusat KKN UNG, Dr. Rosbin Pakaya, M.Pd., menjelaskan bahwa KKN Tematik Tahap II tahun ini melibatkan 220 Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Para mahasiswa akan disebar ke 102 desa yang berada di Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo, dan Kabupaten Bone Bolango.Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam tiga isu utama, yakni pencegahan narkoba, penanganan stunting, dan penguatan pangan keluarga, diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah.“Melalui tema yang diangkat, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di masing-masing desa. Pendampingan dari DPL juga menjadi bagian penting agar seluruh kegiatan dapat berjalan secara terarah dan memberikan manfaat,” jelas Rosbin.Sementara itu, Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan KKN sekadar kewajiban akademik, tetapi sebagai kesempatan untuk belajar sekaligus memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.Rektor meminta mahasiswa terlebih dahulu memahami karakteristik, potensi, dan kebutuhan masyarakat di lokasi masing-masing sebelum menjalankan program.“Manfaatkan masa KKN ini dengan sebaik-baiknya untuk memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat. Pahami tema dan program kerja, kemudian sesuaikan dengan potensi serta kebutuhan masyarakat di masing-masing desa,” pesan Eduart.Menurutnya, keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari terlaksananya program kerja, tetapi juga dari sejauh mana mahasiswa mampu membangun hubungan yang baik dan meninggalkan manfaat, yang dapat dilanjutkan masyarakat setelah masa pengabdian berakhir.“Jangan menyikapi KKN sebagai formalitas belaka agar tidak terasa memberatkan. Jalani dengan gembira, penuh semangat, dan rasa tanggung jawab. KKN adalah momentum untuk belajar langsung dari dinamika masyarakat, menimba pengalaman, sekaligus memberikan solusi terhadap persoalan yang ada,” tegasnya.Dengan waktu pengabdian selama 45 hari, ribuan mahasiswa UNG diharapkan mampu menghadirkan berbagai program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kolaborasi mahasiswa, DPL, pemerintah desa, dan masyarakat, KKN Tematik Tahap II 2026 diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama membangun masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan tangguh menuju terwujudnya Generasi Emas Indonesia.

Mahasiswa UNG Berikan Edukasi Pencegahan Bullying bagi Siswa Sekolah Dasar
30 Jul 2026
11:59 WITA

Mahasiswa UNG Berikan Edukasi Pencegahan Bullying bagi Siswa Sekolah Dasar

Abdul Wahid Rauf

Upaya membangun lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari perundungan terus dilakukan melalui berbagai kegiatan edukatif. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggelar edukasi dan simulasi pencegahan bullying bagi siswa SDN 8 Tabongo, Kabupaten Gorontalo, sebagai bagian dari program pengabdian kepada masyarakat di Desa Ilomangga, Kecamatan Tabongo.Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu (29/7/2026) tersebut diikuti oleh siswa kelas IV, V, dan VI dengan tujuan meningkatkan pemahaman mengenai bullying, dampaknya terhadap kesehatan mental dan proses belajar, serta menumbuhkan budaya saling menghormati dan menghargai di lingkungan sekolah sejak usia dini.Kepala SDN 8 Tabongo, Arifin Muhammad Eyato, S.Pd., mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN Profesi Kesehatan UNG yang menghadirkan edukasi tentang pencegahan bullying di sekolahnya. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan bekal pengetahuan yang penting bagi para siswa agar mampu mengenali bentuk-bentuk perundungan sekaligus mencegah terjadinya tindakan bullying di lingkungan sekolah."Kami berharap materi yang disampaikan dapat meningkatkan kesadaran siswa sehingga tercipta suasana belajar yang aman, nyaman, dan saling menghargai," ujarnya.Koordinator Desa KKN Profesi Kesehatan UNG Desa Ilomangga, Raihan Pratama Trifandi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi seluruh mahasiswa KKN dalam menjawab kebutuhan edukasi kesehatan sosial di lingkungan sekolah. Ia berharap program tersebut tidak hanya menambah wawasan siswa, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam membangun budaya sekolah yang ramah anak dan bebas dari perundungan.Materi edukasi disampaikan oleh Clarystie Viola Goma, yang menjelaskan bahwa bullying merupakan tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikologis. Dalam pemaparannya, siswa diperkenalkan pada berbagai bentuk bullying, meliputi bullying fisik, verbal, dan mental atau psikologis, beserta penyebab, dampak, dan langkah-langkah pencegahannya.Selain memahami karakteristik bullying, para siswa juga diberikan pengetahuan mengenai dampak yang dapat ditimbulkan, baik bagi korban maupun pelaku. Korban bullying berisiko mengalami penurunan rasa percaya diri, ketakutan, gangguan emosional, hingga kesulitan dalam proses belajar. Sementara itu, pelaku juga dapat menerima konsekuensi berupa sanksi sekolah, kehilangan kepercayaan dari lingkungan sekitar, hingga berpotensi mengulangi perilaku negatif apabila tidak mendapatkan pembinaan yang tepat.Mahasiswa KKN juga menekankan pentingnya peran saksi atau bystander dalam mencegah terjadinya bullying. Siswa diajak untuk tidak bersikap pasif ketika menyaksikan tindakan perundungan, melainkan berani melaporkan kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya serta memberikan dukungan kepada teman yang menjadi korban.Untuk meningkatkan pemahaman peserta, edukasi dilanjutkan dengan simulasi (role play) yang diperankan oleh Disya Fatima Azzahra Gobel bersama sejumlah siswa. Melalui simulasi tersebut diperagakan berbagai situasi yang sering terjadi di lingkungan sekolah, sekaligus cara merespons tindakan bullying secara tepat, seperti menolak perilaku perundungan, meminta bantuan kepada guru atau orang tua, serta memberikan dukungan kepada korban.Metode pembelajaran yang interaktif membuat suasana kegiatan berlangsung aktif dan komunikatif. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap sesi, mulai dari penyampaian materi, diskusi, hingga simulasi. Mereka juga aktif menjawab pertanyaan dan menyampaikan pendapat mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang saling menghargai.Melalui kegiatan ini, Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo berharap edukasi mengenai pencegahan bullying dapat menumbuhkan keberanian siswa untuk menolak dan melaporkan tindakan perundungan, sekaligus memperkuat budaya saling menghormati, peduli, dan menjaga sesama. Program tersebut menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam mendukung terciptanya sekolah yang aman, inklusif, dan kondusif bagi tumbuh kembang anak.

Targetkan Pelajar, Mahasiswa KKN-PK Pesona PHBS untuk Edukasi Hidup Bersih dan Sehat
30 Jul 2026
11:48 WITA

Targetkan Pelajar, Mahasiswa KKN-PK Pesona PHBS untuk Edukasi Hidup Bersih dan Sehat

Abdul Wahid Rauf

Mahasiswa KKN-PK Desa Pentadio Timur Universitas Negeri Gorontalo melaksanakan kegiatan sosialisasi “Pesona PHBS (Pendidikan Sehat Melalui Optimalisasi Nilai PHBS)” di SDN 14 Telaga Biru dan SMP Negeri Widya Krama pada 28–29 Juli 2026.Kegiatan ini menjadi salah satu program edukasi kesehatan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai pentingnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.Kegiatan diawali dengan sambutan dari Koordinator Desa KKN-PK Desa Pentadio Timur sekaligus perkenalan mahasiswa kepada pihak sekolah dan siswa. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari kepala sekolah sekaligus pembukaan kegiatan secara resmi.Dalam pelaksanaan sosialisasi, mahasiswa menyampaikan materi mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri, mencuci tangan dengan benar, menjaga kebersihan lingkungan sekolah, serta penerapan pola hidup sehat sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit. Materi disampaikan dengan pendekatan yang interaktif agar mudah dipahami dan diterapkan oleh siswa.Koordinator Desa KKN-PK Desa Pentadio Timur menyampaikan bahwa kegiatan Pesona PHBS, merupakan bentuk kontribusi mahasiswa dalam membangun kesadaran kesehatan sejak usia sekolah.“Melalui kegiatan Pesona PHBS ini, mahasiswa ingin menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat kepada siswa sejak dini. Sekolah merupakan tempat yang strategis untuk membentuk perilaku kesehatan karena kebiasaan yang baik sejak kecil akan menjadi dasar bagi kualitas hidup di masa depan,” ujar Koordinator Desa.Ia edukasi ini tidak hanya berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat diterapkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Siswa juga diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mengajak teman dan keluarga untuk menerapkan pola hidup sehat.Sementara itu, pihak sekolah menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa KKN-PK Desa Pentadio Timur. Edukasi PHBS dinilai penting untuk mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang sehat, bersih, dan nyaman bagi seluruh warga sekolah.

Kolaborasi Lintas Sektor, Tracking TBC Terintegrasi CKG Perkuat Deteksi Dini Penyakit di Gorontalo
30 Jul 2026
10:16 WITA

Kolaborasi Lintas Sektor, Tracking TBC Terintegrasi CKG Perkuat Deteksi Dini Penyakit di Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

Upaya percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC) terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo bersama Puskesmas Tibawa, Pemerintah Desa Datahu, dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menyelenggarakan kegiatan Tracking Tuberkulosis (TBC) Terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Puskesmas Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Rabu (30/7). Kegiatan tersebut diikuti oleh lebih dari 90 peserta yang merupakan masyarakat Desa Datahu.Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperluas deteksi dini kasus TBC sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala. Melalui integrasi layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan skrining tuberkulosis, masyarakat memperoleh akses pemeriksaan kesehatan secara komprehensif dan tanpa biaya.Kepala Puskesmas Tibawa, dr. Sofyawati Hamzah, menegaskan bahwa deteksi dini merupakan langkah penting dalam memutus rantai penularan TBC. Menurutnya, semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula pengobatan dapat diberikan sehingga peluang kesembuhan pasien menjadi lebih besar.Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak ragu memanfaatkan layanan pemeriksaan gratis di puskesmas, terutama bagi warga yang mengalami batuk selama lebih dari dua minggu atau memiliki gejala yang mengarah pada tuberkulosis. Partisipasi aktif masyarakat, menurutnya, menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengendalian penyakit tersebut.Senada dengan itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Noneng Nasibu, S.K.M., menyampaikan bahwa kegiatan Tracking TBC Terintegrasi CKG merupakan salah satu strategi pemerintah untuk menemukan kasus TBC sedini mungkin sekaligus memberikan layanan pemeriksaan kesehatan gratis kepada masyarakat.Ia menjelaskan bahwa TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan dapat menyebar melalui percikan dahak saat penderita batuk, bersin, maupun berbicara. Oleh karena itu, masyarakat yang mengalami batuk selama dua minggu atau lebih diimbau segera memeriksakan diri ke puskesmas karena pemeriksaan dan pengobatan TBC disediakan secara gratis oleh pemerintah.Pemerintah Desa Datahu turut mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Sekretaris Desa Datahu, Andiar Napu, A.Md., yang mewakili Kepala Desa, menyampaikan bahwa program ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat karena mempermudah akses pemeriksaan kesehatan sekaligus meningkatkan kesadaran untuk melakukan deteksi dini sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius.Usai pembukaan, peserta mengikuti rangkaian pemeriksaan kesehatan dasar dalam layanan CKG yang meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan tekanan darah, gula darah sewaktu, kadar kolesterol, serta asam urat. Setelah itu, peserta menjalani skrining TBC melalui anamnesis yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk mengidentifikasi riwayat kesehatan, gejala, dan faktor risiko tuberkulosis sebagai dasar penentuan tindak lanjut pemeriksaan.Kegiatan ini juga menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah desa, dan perguruan tinggi. Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo berperan aktif membantu proses registrasi peserta, pelaksanaan pemeriksaan kesehatan, hingga skrining TBC. Keterlibatan mahasiswa tidak hanya mendukung kelancaran pelayanan, tetapi juga menjadi implementasi pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan kompetensi yang diperoleh selama pendidikan.Antusiasme masyarakat terlihat dari tingginya partisipasi peserta yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai. Selain memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan gratis, masyarakat juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya deteksi dini tuberkulosis dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat upaya percepatan eliminasi TBC, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit, serta mendukung terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik di Kabupaten Gorontalo.

Mahasiswa Dorong Peran Ayah dalam Kesiapsiagaan Kehamilan melalui Gerakan Ayah Siaga
30 Jul 2026
08:03 WITA

Mahasiswa Dorong Peran Ayah dalam Kesiapsiagaan Kehamilan melalui Gerakan Ayah Siaga

Abdul Wahid Rauf

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mendorong peningkatan keterlibatan suami dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi melalui program “Gerakan Ayah Siaga” di Desa Lauwonu, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo. Program yang mencapai puncaknya pada Rabu (29/7) tersebut dirancang sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat yang mendorong perubahan peran suami, bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendamping ibu, pengambil keputusan, serta bagian penting dalam kesiapsiagaan keluarga menghadapi kehamilan hingga persalinan.Kegiatan puncak Gerakan Ayah Siaga dihadiri oleh ibu hamil, para ayah, kader kesehatan dan kader Posyandu, Kepala Desa Lauwonu, Camat Tilango, Kepala Puskesmas, serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-PK UNG. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan adanya dukungan lintas sektor dalam memperkuat peran keluarga sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan ibu dan bayi.Kepala Desa Lauwonu dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Gerakan Ayah Siaga. Menurutnya, keterlibatan keluarga, khususnya suami, menjadi hal penting dalam mendampingi ibu sejak masa kehamilan hingga persalinan.Dukungan pemerintah desa juga diharapkan dapat menjaga keberlanjutan program sehingga Gerakan Ayah Siaga tidak berhenti setelah mahasiswa KKN-PK UNG menyelesaikan masa pengabdiannya. Koordinator Desa KKN-PK UNG Desa Lauwonu, Akmal Zulfan Mobonggi, mengatakan Gerakan Ayah Siaga lahir dari pentingnya keterlibatan suami dalam setiap tahapan kehamilan.Menurutnya, kesiapan menghadapi kehamilan dan persalinan tidak semestinya hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh anggota keluarga. “Gerakan Ayah Siaga kami arahkan agar suami tidak hanya hadir ketika terjadi kondisi darurat, tetapi sudah terlibat sejak masa kehamilan. Mulai dari mendukung pemeriksaan ANC, memahami tanda bahaya, membantu persiapan persalinan, sampai mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi kegawatdaruratan,” ujar Akmal.Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengenali risiko kehamilan, mendukung pemeriksaan antenatal care (ANC), mempersiapkan persalinan, serta mengambil tindakan secara cepat ketika terjadi kondisi kegawatdaruratan.Gerakan Ayah Siaga dilaksanakan melalui sejumlah rangkaian kegiatan yang melibatkan mahasiswa lintas profesi, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, ibu hamil, serta para suami. Rangkaian kegiatan diawali dengan deklarasi dan komitmen lintas sektor.Selanjutnya, mahasiswa melaksanakan Kelas Ayah Siaga yang membahas berbagai materi, mulai dari kehamilan sehat, pemeriksaan ANC, tanda bahaya kehamilan, peran suami, pemenuhan nutrisi, hingga penggunaan obat dan suplemen.Pendampingan juga dilakukan melalui kegiatan home visit. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa membantu keluarga menyusun Rencana Ayah Siaga yang mencakup sejumlah aspek penting, seperti tempat persalinan, transportasi, pendamping persalinan, pembiayaan, calon pendonor darah, hingga rencana rujukan apabila terjadi kondisi kegawatdaruratan.Kesiapsiagaan keluarga kemudian diperkuat melalui simulasi kegawatdaruratan obstetri. Simulasi tersebut bertujuan melatih keluarga agar mampu memberikan respons yang cepat dan tepat ketika menghadapi kondisi darurat yang dapat mengancam keselamatan ibu maupun bayi. Seluruh rangkaian kegiatan mendapatkan pendampingan dari DPL KKN-PK UNG, yakni Dr. dr. Sri A. Ibrahim, M.Kes., dr. St. Rahma, M.Kes., Sp.PK., serta Mihrawati S. Antu, S.Kep., Ns., M.Kep.Tidak hanya berfokus pada kegiatan edukasi selama pelaksanaan KKN, mahasiswa KKN-PK UNG juga mendorong keberlanjutan program melalui pembentukan Kelompok Ayah Siaga. Selain itu, disusun pula SOP Gerakan Ayah Siaga Desa serta grup komunikasi yang melibatkan keluarga, kader, pemerintah desa, dan tenaga kesehatan. Pembentukan perangkat tersebut diharapkan menjadi mekanisme koordinasi yang dapat terus berjalan setelah mahasiswa KKN-PK meninggalkan Desa Lauwonu.Melalui Gerakan Ayah Siaga, mahasiswa KKN-PK UNG berupaya mendorong perubahan paradigma mengenai peran suami dalam kesehatan ibu dan anak. Suami diharapkan tidak lagi hanya berperan sebagai pendamping ketika persalinan atau kondisi darurat terjadi, tetapi menjadi bagian aktif dalam kesiapsiagaan keluarga sejak masa kehamilan.Kolaborasi antara keluarga, kader kesehatan, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan perguruan tinggi diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan risiko kehamilan serta membangun keluarga yang lebih siap menghadapi kehamilan, persalinan, dan kemungkinan kegawatdaruratan ibu maupun bayi.

Peneliti UNG Ungkap Tepung Ikan Cakalang Berpotensi Tingkatkan Produktivitas Ayam Lokal
30 Jul 2026
02:33 WITA

Peneliti UNG Ungkap Tepung Ikan Cakalang Berpotensi Tingkatkan Produktivitas Ayam Lokal

Abdul Wahid Rauf

Kebutuhan bahan baku pakan unggas terus meningkat, sementara harga tepung ikan sebagai salah satu sumber protein utama dalam pakan cenderung semakin mahal dan sebagian masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Kondisi tersebut mendorong para peneliti mencari bahan baku alternatif yang lebih ekonomis, mudah diperoleh, sekaligus mampu mendukung produktivitas ternak. Salah satu sumber yang dinilai menjanjikan adalah limbah pengolahan ikan cakalang yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.Potensi tersebut menjadi fokus penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh Srisukmawati Zainudin, Hartutik, Edhy Sudjarwo, dan Osfar Sjofjan melalui penelitian berjudul The Effects of Replacing Fish Meal with Skipjack Tuna Offal Meal on the Growth Performance and Carcase Quality of Local Chickens. Penelitian ini mengevaluasi tingkat penggunaan tepung limbah ikan cakalang kukus (steamed skipjack tuna offal meal/SSFO) sebagai pengganti tepung ikan dalam pakan ayam lokal untuk memperoleh tingkat penggunaan yang paling optimal dalam meningkatkan performa pertumbuhan dan kualitas karkas ayam.Penelitian ini memiliki relevansi yang tinggi bagi Indonesia, khususnya Gorontalo, yang merupakan salah satu daerah penghasil ikan cakalang. Data yang dikutip dalam penelitian menunjukkan bahwa produksi cakalang di Gorontalo mencapai lebih dari 13 ribu ton pada tahun 2020. Selama ini, bagian sisa pengolahan seperti usus, lambung, hati, jantung, paru-paru, dan telur ikan masih belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal memiliki kandungan nutrisi yang berpotensi menjadi bahan baku pakan ternak.Untuk menguji potensinya, para peneliti mengganti tepung ikan dalam ransum dengan tepung limbah ikan cakalang kukus pada beberapa tingkat penggunaan. Selama pemeliharaan, berbagai parameter diamati, mulai dari konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, rasio konversi pakan (feed conversion ratio/FCR), nilai income over feed cost (IOFC), bobot karkas, persentase karkas, hingga kandungan protein dan lemak daging ayam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 5% tepung limbah ikan cakalang kukus memberikan performa terbaik. Pada tingkat ini, ayam lokal menghasilkan bobot badan akhir dan bobot karkas yang lebih tinggi, disertai nilai FCR yang lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya. Artinya, ayam mampu memanfaatkan pakan secara lebih efisien untuk menghasilkan pertambahan bobot badan. Selain itu, nilai IOFC juga menjadi yang tertinggi, menunjukkan bahwa penggunaan bahan pakan tersebut berpotensi meningkatkan keuntungan usaha peternakan.Dari sisi kualitas daging, penelitian menemukan bahwa penggantian tepung ikan dengan tepung limbah ikan cakalang kukus tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan protein daging, sehingga kualitas protein tetap terjaga. Sementara itu, kandungan lemak daging mengalami perubahan, namun masih berada dalam kisaran normal untuk daging ayam. Peneliti juga melaporkan bahwa persentase karkas dada tidak berbeda nyata antarperlakuan, meskipun bobot karkas meningkat pada tingkat penggunaan tertentu.Temuan ini menunjukkan bahwa limbah ikan cakalang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan alternatif. Selain membantu mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan, pemanfaatan hasil samping industri perikanan juga dapat mengurangi limbah organik sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.Bagi peternak, hasil penelitian ini membuka peluang untuk memanfaatkan bahan baku lokal yang lebih mudah diperoleh tanpa mengorbankan performa produksi ayam. Di daerah penghasil cakalang seperti Gorontalo, inovasi ini berpotensi menekan biaya pakan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah hasil perikanan.Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa tepung limbah ikan cakalang kukus dapat digunakan sebagai pengganti tepung ikan hingga tingkat 5% dalam pakan ayam lokal. Penggunaan pada tingkat tersebut terbukti mampu meningkatkan performa pertumbuhan, memperbaiki efisiensi penggunaan pakan, meningkatkan bobot karkas, serta berpotensi meningkatkan keuntungan peternak. Temuan ini menjadi salah satu alternatif inovasi pakan yang tidak hanya lebih ekonomis, tetapi juga mendukung pemanfaatan sumber daya lokal dan pengembangan peternakan yang lebih berkelanjutan. (Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

Tanamkan Gaya Hidup Sehat Sejak Dini, Mahasiswa KKN-PK UNG Edukasi PHBS untuk Siswa Sekolah Dasar
28 Jul 2026
03:01 WITA

Tanamkan Gaya Hidup Sehat Sejak Dini, Mahasiswa KKN-PK UNG Edukasi PHBS untuk Siswa Sekolah Dasar

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Membangun generasi yang sehat tidak hanya dimulai dari layanan kesehatan, tetapi juga dari kebiasaan baik yang ditanamkan sejak usia dini. Semangat inilah yang diwujudkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) UNG Desa Balahu, melalui kegiatan Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi siswa SDN 4 Tibawa, Senin (27/7).Kegiatan tersebut menjadi salah satu program unggulan mahasiswa KKN-PK, dalam mendukung peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat melalui pendidikan kesehatan di lingkungan sekolah. Dengan sasaran anak-anak usia sekolah dasar, mahasiswa berupaya menanamkan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat sebagai kebiasaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.Dalam suasana yang penuh semangat, para mahasiswa menyampaikan materi mengenai berbagai praktik PHBS yang sederhana, namun memiliki manfaat besar bagi kesehatan. Edukasi mencakup pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan diri, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan jamban sehat, mengonsumsi makanan bergizi, serta menjaga kebersihan lingkungan sekolah.Agar penyampaian materi lebih mudah dipahami, mahasiswa mengemas kegiatan secara interaktif. Siswa diajak berdiskusi, menjawab berbagai pertanyaan, hingga mempraktikkan langsung kebiasaan hidup bersih dan sehat yang telah dipelajari. Pendekatan tersebut membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan, sekaligus mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi.Antusiasme para siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian dan semangat, terutama saat praktik mencuci tangan yang benar serta permainan edukatif yang mengajak mereka mengenali kebiasaan sehat dalam kehidupan sehari-hari.Koordinator Desa KKN-PK Desa Balahu menuturkan bahwa pendidikan mengenai PHBS di sekolah dasar memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kebiasaan hidup sehat sejak dini. Terlebih anak-anak merupakan kelompok usia yang sangat tepat, untuk diberikan edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat.“Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga kebersihan lingkungan dapat menjadi bekal penting untuk mencegah berbagai penyakit sekaligus membentuk pola hidup sehat hingga dewasa," ujarnya.Ia menambahkan bahwa melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya ingin meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga mendorong mereka menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga maupun masyarakat."Kami berharap siswa dapat menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat setiap hari, baik di sekolah maupun di rumah. Bahkan mereka dapat menjadi contoh bagi teman dan keluarganya dalam membangun budaya hidup sehat," tambahnya.Melalui program edukasi PHBS ini, mahasiswa KKN-PK UNG kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan sejak usia dini, sehingga tercipta lingkungan sekolah yang sehat serta generasi muda yang lebih peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungannya.