Smart Antibiotic Education App, Inovasi Peneliti UNG untuk Tingkatkan Literasi Penggunaan Antibiotik

Mengonsumsi antibiotik tanpa aturan yang tepat dapat menimbulkan persoalan kesehatan yang lebih besar, salah satunya resistensi antibiotik, yaitu kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap obat yang sebelumnya dapat membunuh atau menghambat pertumbuhannya. Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan antibiotik yang benar, tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengembangkan media edukasi digital bernama Smart Antibiotic Education App.
Inovasi ini dirancang sebagai aplikasi edukasi berbasis telepon pintar yang membantu masyarakat memahami fungsi antibiotik, aturan penggunaannya, hingga risiko yang dapat muncul akibat penggunaan obat secara tidak tepat. Tidak hanya menyajikan informasi kesehatan, aplikasi ini juga dilengkapi fitur interaktif dan pengingat yang diharapkan dapat membantu pengguna menerapkan perilaku penggunaan antibiotik secara lebih bijak.
Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Fakultas Olahraga dan Kesehatan UNG yang terdiri atas Mohamad Reski Manno dan A. Mu'thi Andy Suryadi dari Jurusan Farmasi, serta Moh. Nisyar Sy. Abd. Azis dari Jurusan Keperawatan. Pengembangan aplikasi tersebut berangkat dari pentingnya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, terutama dalam menghadapi persoalan penggunaan antibiotik yang tidak rasional.
Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk menangani infeksi akibat bakteri. Namun, penggunaannya tidak boleh dilakukan sembarangan. Antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengobati infeksi virus seperti flu atau pilek, dan penggunaannya harus berdasarkan penilaian tenaga medis. Penggunaan yang tidak tepat, termasuk tanpa indikasi yang jelas atau tidak mengikuti petunjuk pengobatan, dapat berkontribusi terhadap meningkatnya resistensi antibiotik.
Resistensi antibiotik menjadi perhatian kesehatan global karena dapat menyebabkan infeksi lebih sulit ditangani dan membatasi pilihan pengobatan. Salah satu upaya untuk mengendalikan persoalan tersebut adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat agar mampu memahami kapan antibiotik diperlukan dan bagaimana menggunakannya secara benar.
Melihat kebutuhan tersebut, tim peneliti UNG menghadirkan Smart Antibiotic Education App sebagai alternatif media edukasi yang dapat diakses secara praktis. Aplikasi ini dirancang agar proses penyampaian informasi kesehatan tidak hanya berlangsung satu arah, tetapi juga melibatkan pengguna melalui berbagai fitur pembelajaran.
Di dalam aplikasi tersedia materi edukasi yang membahas pengertian antibiotik, indikasi penggunaannya, kemungkinan efek samping, serta risiko resistensi. Informasi tersebut dilengkapi video edukasi untuk membantu pengguna memahami materi melalui penyajian audiovisual yang lebih menarik dan mudah diikuti.
Untuk memperkuat pemahaman, aplikasi juga menyediakan kuis interaktif dengan empat tingkatan, mulai dari Level 1 hingga Level 4. Melalui fitur ini, pengguna dapat menguji pengetahuan setelah mempelajari materi yang tersedia. Selain itu, terdapat fitur pengingat obat berupa notifikasi harian yang dapat membantu pasien mengingat jadwal penggunaan antibiotik sesuai petunjuk pengobatan dari tenaga medis.
Efektivitas aplikasi kemudian diuji melalui penelitian kuasi-eksperimental dengan melibatkan 60 responden berusia 18 tahun ke atas di Gorontalo. Pengujian menggunakan rancangan one-group pretest-posttest, yaitu dengan mengukur pengetahuan dan perilaku responden sebelum dan setelah mendapatkan edukasi melalui aplikasi.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada kedua aspek yang diukur. Rata-rata skor pengetahuan responden meningkat dari 27,18 sebelum menggunakan aplikasi menjadi 34,67 setelah intervensi edukasi. Sementara itu, skor perilaku penggunaan antibiotik secara rasional juga mengalami peningkatan, dari rata-rata 27,63 menjadi 33,92.
Hasil analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa perubahan pada kedua aspek tersebut signifikan secara statistik, dengan nilai p < 0,001. Temuan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan perubahan skor perilaku responden setelah mengikuti edukasi melalui Smart Antibiotic Education App.
Hasil tersebut memberikan gambaran bahwa pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi kesehatan. Penyampaian materi melalui aplikasi yang dilengkapi video, kuis, dan pengingat memberikan pengalaman edukasi yang lebih interaktif dibandingkan penyampaian informasi secara konvensional.
Meski demikian, pengembangan aplikasi ini masih memerlukan pengujian lebih lanjut dengan cakupan responden yang lebih luas dan kelompok pembanding untuk mengetahui efektivitasnya dalam jangka panjang. Penggunaan fitur pengingat juga perlu ditempatkan sebagai alat bantu kepatuhan, bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan atau penentu perubahan jadwal pengobatan secara mandiri.
Melalui inovasi Smart Antibiotic Education App, tim peneliti UNG berharap dapat berkontribusi dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya mengenai penggunaan antibiotik yang bijak dan rasional. Pengembangan media edukasi digital semacam ini diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan resistensi antibiotik melalui peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat.
Inovasi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana pemanfaatan teknologi digital dapat diarahkan untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat. Dengan pendekatan edukasi yang lebih mudah diakses dan interaktif, hasil penelitian perguruan tinggi diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.





