Site Logo

Peneliti UNG Uji Keamanan Kombinasi Dua Daun Herbal yang Berpotensi untuk Antidiabetes

PenelitianSiaran PersUNG Berdampak
Abdul Wahid Rauf
08 Oct 2026
10:18 WITA
11 dilihat
Peneliti UNG Uji Keamanan Kombinasi Dua Daun Herbal yang Berpotensi untuk Antidiabetes

Pemanfaatan tanaman herbal sebagai bahan pengembangan obat tidak cukup hanya didasarkan pada potensi manfaatnya. Keamanan juga menjadi hal penting yang harus dibuktikan melalui penelitian. Hal inilah yang dilakukan tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dengan menguji kombinasi dua tanaman lokal, yakni daun galing-galing dan daun insulin, yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan herbal antidiabetes.

Penelitian yang dilakukan Karunita Ika Astuti, Mohamad Reski Manno, dan Indra ini bertujuan memperoleh gambaran awal mengenai tingkat keamanan kombinasi infusa daun galing-galing (Cayratia trifolia L.) dan daun insulin (Tithonia diversifolia). Kedua tanaman tersebut menjadi perhatian karena mengandung berbagai senyawa alami yang berpotensi dikaji lebih lanjut untuk pengembangan bahan obat berbasis tanaman.

Riset bertajuk “Penentuan Toksisitas Akut Kombinasi Infusa Daun Galing-Galing (Cayratia trifolia L.) dan Daun Insulin (Tithonia diversifolia) dengan Metode OECD 425” ini dilaksanakan melalui skema Riset Akselerasi Publikasi Nasional (RAPN) Tahun 2026 pada Bidang Fokus Kesehatan dan Obat Universitas Negeri Gorontalo.

Dalam pengembangan obat herbal, pengujian keamanan merupakan tahapan penting sebelum suatu bahan diteliti lebih jauh. Sebab, kandungan alami dalam tanaman tidak serta-merta menjamin bahwa bahan tersebut aman bagi tubuh. Terlebih, penggunaan dua jenis tanaman dalam satu formulasi memerlukan kajian tersendiri untuk mengetahui kemungkinan efek yang muncul ketika keduanya dikombinasikan.

Untuk menjawab hal tersebut, tim peneliti menggunakan metode OECD 425, yaitu pedoman pengujian toksisitas akut melalui pemberian bahan secara oral kepada hewan uji. Metode ini digunakan untuk mengamati respons tubuh setelah menerima dosis tertentu, sekaligus memperkirakan tingkat toksisitas bahan yang diuji.

Sebelum pengujian dilakukan, daun galing-galing dan daun insulin terlebih dahulu dikumpulkan dan diolah menjadi simplisia atau bahan tanaman kering yang digunakan sebagai bahan awal pembuatan sediaan herbal. Dari proses pengolahan tersebut, sebanyak 3.500 gram daun galing-galing segar menghasilkan 675 gram simplisia, sedangkan 1.500 gram daun insulin segar menghasilkan 340 gram simplisia.

Kedua bahan kemudian diolah menjadi infusa, yaitu sediaan yang diperoleh melalui proses penyarian kandungan tanaman menggunakan air. Hasil pemeriksaan fitokimia menunjukkan bahwa infusa tersebut mengandung sejumlah kelompok senyawa alami, yaitu alkaloid, fenol, flavonoid, saponin, dan tanin. Temuan ini memberikan gambaran mengenai kandungan kimia dalam sampel yang diteliti, meskipun keberadaan senyawa tersebut belum dengan sendirinya membuktikan efektivitas maupun keamanan penggunaannya.

Pengujian toksisitas akut dilakukan pada tikus betina dengan dosis uji batas sebesar 2.000 miligram per kilogram berat badan. Selama 14 hari, peneliti mengamati kondisi hewan uji untuk mengetahui kemungkinan munculnya tanda-tanda gangguan, seperti perubahan kondisi kulit, bulu, dan mata, serta gejala lesu, tremor, kejang, maupun diare.

Hasil pengamatan menunjukkan tidak ditemukan kematian pada hewan uji selama periode penelitian. Tim juga tidak melaporkan munculnya gejala abnormal sebagaimana yang diamati dalam pengujian. Berdasarkan hasil tersebut, estimasi nilai LD50 kombinasi infusa berada di atas 2.000 mg/kg berat badan.

LD50 merupakan ukuran dalam ilmu toksikologi untuk memperkirakan dosis suatu bahan yang dapat menyebabkan kematian pada 50 persen hewan uji dalam kondisi pengujian tertentu. Dalam penelitian ini, tidak ditemukannya kematian pada dosis uji batas menunjukkan bahwa tingkat toksisitas akut kombinasi infusa belum mencapai batas yang dapat ditentukan melalui pengujian tersebut. Hasil ini menjadi informasi awal yang penting untuk melanjutkan evaluasi keamanan bahan herbal.

Selain mengamati kondisi fisik, peneliti juga memantau perubahan berat badan hewan uji selama 14 hari. Pada kelompok perlakuan, rata-rata berat badan meningkat dari 158,64 gram pada awal pengamatan menjadi 171,6 gram pada akhir pengamatan. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol negatif.

Pengamatan juga dilakukan terhadap organ hati, limpa, dan ginjal. Ketiga organ tersebut menjadi perhatian karena memiliki fungsi penting dalam metabolisme, pertahanan tubuh, dan pengeluaran zat sisa. Hasil analisis menunjukkan bahwa indeks ketiga organ tersebut tidak memperlihatkan perbedaan bermakna secara statistik dibandingkan kelompok kontrol negatif.

Secara keseluruhan, hasil pengujian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi infusa daun galing-galing dan daun insulin pada dosis yang digunakan tidak menimbulkan kematian maupun gejala toksisitas akut yang teramati selama masa pengamatan. Hasil ini memberikan gambaran awal mengenai respons tubuh terhadap kombinasi kedua tanaman tersebut, sekaligus menjadi dasar untuk penelitian keamanan pada tahap berikutnya.

Meski demikian, temuan tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyatakan kombinasi herbal ini aman digunakan oleh manusia atau efektif menurunkan kadar gula darah. Pengujian toksisitas akut hanya memberikan informasi mengenai respons tubuh dalam kondisi dan periode pengamatan tertentu. Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan, termasuk pengujian toksisitas subkronis, untuk mengetahui kemungkinan dampak penggunaan berulang dalam jangka waktu lebih panjang.

Melalui skema RAPN 2026, tim peneliti menargetkan publikasi hasil penelitian pada jurnal nasional terakreditasi Sinta 2. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya referensi ilmiah mengenai potensi dan keamanan tanaman herbal lokal, sekaligus mendukung pengembangan penelitian di bidang kesehatan dan obat.

Penelitian tersebut menjadi salah satu upaya UNG dalam mendorong pemanfaatan kekayaan hayati lokal melalui pendekatan ilmiah. Dengan pengujian yang bertahap dan berbasis bukti, tanaman herbal tidak hanya dikaji dari sisi potensi manfaatnya, tetapi juga dari aspek keamanan yang menjadi dasar penting dalam pengembangan calon bahan obat.

Ikuti berita lainnya

Peneliti Fakultas Hukum Terlibat Riset Internasional di Australia, Kaji Teknologi Algoritmik untuk Peradilan yang Humanis
05 Nov 2026
02:16 WITA

Peneliti Fakultas Hukum Terlibat Riset Internasional di Australia, Kaji Teknologi Algoritmik untuk Peradilan yang Humanis

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Kiprah akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di kancah internasional, terus menunjukkan perkembangan membanggakan. Kali ini, dosen Fakultas Hukum (FH) UNG, Vifi Swarianata, S.H., M.H., turut ambil bagian dalam kolaborasi penelitian internasional bersama akademisi Universitas Brawijaya, Universitas Sebelas Maret, dan Western Sydney University, Australia, untuk mengkaji pemanfaatan teknologi algoritmik dalam mewujudkan sistem peradilan pidana yang berkeadilan dan humanis.Keterlibatan Vifi diwujudkan melalui program Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) Tahun 2026, yang dilaksanakan melalui kunjungan riset ke School of Law, Western Sydney University (WSU), New South Wales, Australia, pada 19–27 Oktober 2026.Partisipasi tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi akademisi UNG dalam memperluas jejaring penelitian internasional, sekaligus memperkuat kolaborasi keilmuan lintas perguruan tinggi dalam merespons perkembangan teknologi di bidang hukum.Vifi yang saat ini tengah menempuh pendidikan doktoral pada Program Doktor Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, terlibat dalam penelitian yang memiliki keterkaitan erat dengan fokus kajian disertasinya. Kesempatan ini sekaligus dimanfaatkan untuk memperdalam perspektif akademik melalui diskusi dan pertukaran gagasan bersama para peneliti dari Indonesia dan Australia.Program RKI 2026 tersebut mengangkat tema penelitian “Humanizing Justice in Algorithmic Risk Assessment: The Use of Recidivism Risk Prediction Tools in the Indonesian and Australian Criminal Justice Systems.”Penelitian ini menyoroti penggunaan teknologi algoritmik untuk memprediksi risiko pengulangan tindak pidana atau recidivism risk prediction tools dalam sistem peradilan pidana. Kajian tersebut menjadi relevan di tengah perkembangan teknologi yang semakin membuka peluang pemanfaatan sistem berbasis data dalam mendukung proses pengambilan keputusan di bidang hukum.Dalam penelitian ini tim akademisi berupaya memahami bagaimana teknologi prediksi risiko dapat digunakan secara bertanggung jawab, tanpa mengesampingkan prinsip keadilan, perlindungan hak asasi manusia, serta nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi landasan sistem peradilan pidana.Melalui pendekatan perbandingan antara Indonesia dan Australia, tim peneliti turut mengkaji perbedaan sistem hukum, perkembangan regulasi, serta berbagai tantangan yang dapat muncul dalam penerapan teknologi algoritmik pada sistem peradilan pidana di kedua negara.Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan rekomendasi kebijakan mengenai penggunaan teknologi algoritmik yang transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, inovasi teknologi di bidang hukum dapat terus berkembang tanpa mengabaikan perlindungan hak individu dan prinsip keadilan.Bagi Vifi, keterlibatan dalam forum penelitian internasional tersebut menjadi pengalaman akademik yang penting, terutama dalam memperluas pemahaman mengenai pendekatan penelitian hukum komparatif dan interdisipliner.“Kajian yang dilakukan tidak hanya melihat teknologi dari sisi kemampuan teknis dan efisiensinya, tetapi juga mempertimbangkan potensi dampaknya terhadap hak individu, kualitas pertimbangan hukum, serta kepercayaan terhadap proses peradilan,” jelasnya.Keterlibatan Vifi dalam riset internasional ini juga menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas akademik dosen FH UNG, khususnya dalam mengembangkan penelitian yang relevan dengan isu-isu hukum kontemporer dan perkembangan teknologi global.“Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas peluang kerja sama penelitian, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, serta memperkuat peran akademisi UNG dalam menghadirkan gagasan dan rekomendasi kebijakan yang bermanfaat bagi pengembangan sistem hukum Indonesia,” pungkasnya. (**)

Rektor UNG Terima Kunjungan Kapolda Gorontalo, Perkuat Sinergi Bersama Institusi Pendidikan dan Kepolisian
04 Nov 2026
05:55 WITA

Rektor UNG Terima Kunjungan Kapolda Gorontalo, Perkuat Sinergi Bersama Institusi Pendidikan dan Kepolisian

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat sinergi dan kolaborasi strategis dengan berbagai institusi, termasuk Kepolisian Daerah (Polda) Gorontalo. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kunjungan silaturahmi perdana Kapolda Gorontalo, Irjen Pol. Nurworo Danang, S.I.K., yang diterima langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., di Kampus Kerakyatan UNG, Rabu (4/11).Kedatangan orang nomor satu di jajaran Polda Gorontalo tersebut disambut hangat oleh Rektor UNG yang didampingi jajaran pimpinan universitas, mulai dari para wakil rektor hingga kepala biro. Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh keakraban, sekaligus menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan kelembagaan yang selama ini telah terjalin dengan baik.Dalam audiensi tersebut, kedua pimpinan institusi membahas sejumlah agenda strategis untuk memperluas ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan kepolisian. Beberapa bidang yang menjadi perhatian meliputi pengembangan pendidikan, penguatan keamanan dan ketertiban lingkungan kampus, pencegahan radikalisme, peningkatan wawasan kebangsaan, hingga kerja sama dalam kegiatan akademik dan pengabdian kepada masyarakat.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T.,  menyambut hangat kunjungan silaturahmi Kapolda Gorontalo, sebagai langkah memperkokoh hubungan dan kerja sama kedua institusi. Menurutnya, perguruan tinggi dan kepolisian memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, kondusif, serta mendukung pembentukan generasi muda yang berkualitas.“Hubungan baik antara UNG dan Polda Gorontalo telah terbangun sejak lama. Sinergi tersebut perlu terus dijaga melalui komunikasi yang intensif, koordinasi yang efektif, dan komitmen bersama untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat,” ujar Eduart.Kerja sama yang telah terjalin menjadi modal penting bagi kedua institusi dalam mengantisipasi maupun menangani berbagai persoalan, baik yang muncul di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat. Dengan dukungan dan kolaborasi yang kuat, UNG diharapkan dapat terus menjalankan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.Sementara itu, Kapolda Gorontalo, Irjen Pol. Nurworo Danang, menyampaikan keterbukaan institusi kepolisian untuk terus memperkuat kerja sama dengan dunia pendidikan, khususnya Universitas Negeri Gorontalo.“Kolaborasi antara kepolisian dan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran hukum, memperkuat karakter kebangsaan, serta menciptakan situasi keamanan dan ketertiban yang kondusif bagi aktivitas akademik,” terangnya.Danang juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan akademisi dan mahasiswa, dalam mendukung upaya pemeliharaan keamanan serta membangun kehidupan sosial yang harmonis.Semangat tersebut sejalan dengan tagline Polri, “Polisi Bersama Masyarakat”, yang menekankan pentingnya kedekatan, komunikasi, dan kolaborasi antara kepolisian dengan seluruh lapisan masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban.Melalui pertemuan ini, UNG dan Polda Gorontalo diharapkan dapat semakin mempererat hubungan kelembagaan, sekaligus membuka peluang pengembangan program kolaboratif yang memberikan manfaat bagi sivitas akademika maupun masyarakat luas. (**)

Jelang Akhir Tahun, Kepala BKKU UNG Ingatkan Tendik Tuntaskan Target Kinerja
02 Nov 2026
00:45 WITA

Jelang Akhir Tahun, Kepala BKKU UNG Ingatkan Tendik Tuntaskan Target Kinerja

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Menjelang berakhirnya tahun kerja 2026, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus mendorong optimalisasi kinerja seluruh tenaga kependidikan (tendik) dalam menuntaskan berbagai program dan tanggung jawab di masing-masing unit kerja.Kepala Biro Keuangan, Kerja Sama, dan Umum (BKKU) UNG, Arief Rachman Hakim Abdul, S.Pd., M.Pd., mengingatkan jajaran tendik, untuk semakin meningkatkan produktivitas dan memastikan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu.Menurut Arief, penghujung tahun menjadi momentum penting bagi seluruh pegawai untuk mengevaluasi capaian pekerjaan, sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai agenda yang masih berjalan. Hal ini diperlukan agar seluruh program kerja yang telah direncanakan dapat dituntaskan sesuai target dan ketentuan yang berlaku.“Peningkatan kinerja tidak hanya berkaitan dengan kecepatan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga kualitas pelaksanaan tugas, kedisiplinan, serta tanggung jawab setiap pegawai dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan layanan universitas,” ujar Arief.Untuk mewujudkan hal tersebut, Arief mengimbau seluruh tendik agar terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak, baik di lingkungan unit kerja masing-masing maupun antar unit di tingkat universitas.“Koordinasi yang efektif menjadi kunci dalam mengatasi berbagai kendala pekerjaan, menyelaraskan pelaksanaan program, serta memastikan setiap tugas dapat diselesaikan secara optimal tanpa mengabaikan prosedur dan ketentuan yang berlaku,” terangnya.Arief juga mengingatkan agar seluruh pegawai tetap menjaga semangat kerja, serta tidak menunda penyelesaian tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan waktu kerja yang semakin mendekati akhir tahun, setiap unit diharapkan mampu mengoptimalkan pelaksanaan program melalui kerja sama dan pembagian tugas yang terarah.Melalui penguatan kinerja dan sinergi antarseluruh tenaga kependidikan, Arief berharap berbagai program kerja tahun 2026 dapat diselesaikan dengan hasil yang maksimal. Langkah ini sekaligus menjadi fondasi untuk mendukung peningkatan kualitas layanan dan pelaksanaan program universitas pada tahun berikutnya. (**)

Perkuat Kiprah Internasional, Akademisi UNG Ikuti Simposium Perikanan Berkelanjutan dan Blue Transformation di Tiongkok
02 Nov 2026
00:34 WITA

Perkuat Kiprah Internasional, Akademisi UNG Ikuti Simposium Perikanan Berkelanjutan dan Blue Transformation di Tiongkok

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Kiprah akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di kancah internasional terus menunjukkan perkembangan positif. Kali ini, dosen Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), Dr. Arfiani Rizki Paramata, S.Pi., M.Si., turut ambil bagian dalam International Symposium on Sustainable Fisheries and Aquaculture and Blue Transformation yang berlangsung dalam rangkaian China Fisheries and Seafood Expo 2026 di Qingdao, Tiongkok.Kegiatan internasional yang berlangsung pada 28–30 Oktober 2026 di Qingdao Hongdao International Convention and Exhibition Center tersebut menjadi ajang pertemuan akademisi, peneliti, praktisi, serta pelaku industri perikanan dari berbagai negara untuk membahas inovasi dan masa depan sektor perikanan dan akuakultur yang berkelanjutan.Keikutsertaan Arfiani dalam forum internasional tersebut menjadi langkah penting dalam memperluas wawasan keilmuan sekaligus memperkuat jejaring akademik global, khususnya dalam menghadapi tantangan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.Salah satu isu utama yang menjadi perhatian dalam simposium tersebut adalah konsep Blue Transformation atau transformasi biru, sebuah pendekatan yang mendorong pengembangan sektor perikanan dan akuakultur melalui inovasi teknologi, peningkatan produktivitas, ketahanan pangan, serta pengelolaan sumber daya perairan yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.Menurut Arfiani, transformasi biru menjadi salah satu pendekatan penting dalam menjawab tantangan pembangunan perikanan global. Konsep tersebut menekankan bahwa peningkatan produksi hasil perikanan perlu berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem serta pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.“Melalui pendekatan ini, sektor perikanan diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, dan mendukung keberlanjutan sumber daya perairan bagi generasi mendatang,” ujarnya.Selain mengikuti simposium, kehadiran Arfiani dalam rangkaian China Fisheries and Seafood Expo juga memberikan kesempatan untuk mengenal berbagai perkembangan industri perikanan dunia. Mulai dari inovasi teknologi budidaya, pengolahan hasil perikanan, pengemasan produk, pengendalian mutu, hingga perkembangan perdagangan produk perikanan di pasar internasional.Berbagai pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari forum tersebut, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendidikan dan penelitian di lingkungan FKTP UNG. Khususnya dalam memperkaya pembelajaran mahasiswa, mendorong inovasi penelitian, serta memperluas perspektif akademik mengenai pengelolaan potensi kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.“Partisipasi dalam forum internasional ini juga menjadi peluang bagi akademisi UNG untuk membangun komunikasi, dan membuka kesempatan kolaborasi dengan akademisi maupun praktisi dari berbagai negara,” terangnya.Melalui keikutsertaan dosen pada forum ilmiah berskala internasional, Universitas Negeri Gorontalo terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong peningkatan kapasitas dan daya saing akademisi, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.Kehadiran Arfiani di Tiongkok diharapkan menjadi salah satu langkah dalam memperluas peran FKTP UNG sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif mendukung inovasi, keberlanjutan lingkungan, dan transformasi sektor kelautan dan perikanan di tingkat nasional maupun global.

Lihat Semua Berita