Site Logo

UNG Beri Gelar Doktor Honoris Causa Kepada Ary Mochtar Pedju

Abdul Wahid Rauf
05 Feb 2019
09:12 WITA
2.350 dilihat
UNG Beri Gelar Doktor Honoris Causa Kepada Ary Mochtar Pedju

 

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo melalui program Pascasarjana memberikan gelar kehormatan untuk tokoh nasional asal Gorontalo Ir. Ary Mochtar Pedju, M.Arch, Senin (4/2). Gelar yang diberikan yakni Doktor Honoris Causa (Dr. HC) untuk bidang pendidikan sains dan teknologi.


Pemberian gelar Doktor Honoris Causa (Dr. HC) berikan melalui prosesi rapat senat terbuka penganugerahan gelar Doktor Kehormatan, yang dipimpin Rektor UNG Prof. Dr. Syamsu Qamar Badu, M.Pd, didampingi para anggota senat Universitas.


Rektor UNG Prof. Dr. Syamsu Qamar Badu, M.Pd, mengungkapkan pemberian gelar Doktor Kehormatan kepada Ir. Ary Mochtar Pedju, M.Arch, merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan atas dedikasinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Terlebih maski diusia senja, Ir. Ary Mochtar Pedju, M.Arch, terus konsisten menumbuh kembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.


“Meskipun diusia senja tidak pernah kehilangan energi jika berdiskusi tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dan itu yang membuatnya luar biasa. Atas kontibusinya tersebut membuatnya layak menerima gelar kehormatan ini,” ungkap Prof. Syamsu.


Pemberian gelar Doktor Kehormatan kata Prof. Syamsu juga menjadi momen membanggakan bagi UNG, karena menjadi kali pertama dalam sejarah UNG pemberiaan gelar kehormatan untuk tokoh masyarakat. “Dengan terakreditasi A institusi, UNG telah layak dan memenuhi syarat untuk pemberian gelar kehormatan ini. Sehinggan momen ini menjadi momen membanggakan bagi kita semua,” terangnya.

 

 


Sementara itu Wakil Gubernur Prov. Gorontalo Dr. Drs. Idris Rahim, MM, menilai, pemberian gelar Doktor Kehormatan untuk Ir. Ary Mochtar Pedju, M.Arch sangatlah layak jika melihat kontribusinya dalam bidang sains dan teknologi.


“Penghargaan yang setinggi-tingginya kepada bapak Ary Mochtar terhadap jasanya dibidang sains dan teknologi baik itu pendidikannya, pengalamannya maupun karya-karyanya. Disamping itu beliau bersama keluarga juga menyumbangkan hartanya, untuk kemajuan UNG yang selama ini terakreditasi A,” ujar Dr. Idris.


Turut hadir dalam rapat senat terbuka tersebut antara lain, jajaran anggota senat UNG, jajaran Pimpinan di lingkungan UNG, serta beberapa anggota DPR dan DPD RI dan undangan lainnya. (wahid)

Ikuti berita lainnya

Tenaga Kependidikan UNG Dibekali Keterampilan Manajemen Stres, Wujudkan Lingkungan Kerja yang Sehat dan Produktif
21 Jul 2026
06:07 WITA

Tenaga Kependidikan UNG Dibekali Keterampilan Manajemen Stres, Wujudkan Lingkungan Kerja yang Sehat dan Produktif

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Dalam upaya meningkatkan kapasitas Tenaga Kependidikan (Tendik) dalam menangani isu manajemen stres, Universitas Negeri Gorontalo melalui UPA. Bimbingan dan Konseling melaksanakan pelatihan manajemen stres pegawai bagi Tendik di lingkungan UNG, Selasa (21/7). Kegiatan yang dilaksanakan di Ball Room TC Damhil UNG mengangkat tema “Tetap tanggap di bawah tekanan melalui seni mengelola stres”.Kepala UPA Bimbingan dan Konseling UNG, Idriyani Idris, S.Pd., M.Pd., menjelaskan pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya UNG meningkatkan kapasitas tenaga kependidikan dalam menghadapi berbagai tekanan pekerjaan yang semakin dinamis. Tidak hanya memberikan pemahaman mengenai stres di lingkungan kerja, kegiatan ini juga membekali peserta dengan berbagai teknik praktis untuk menjaga kesehatan mental dan meningkatkan kesejahteraan diri.“Kemampuan mengenali dan mengelola stres merupakan kompetensi penting yang perlu dimiliki setiap tenaga kependidikan. Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai manajemen stres, tetapi juga mempraktikkan teknik relaksasi, pelepasan emosi, serta self-care yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Idriyani.Menurutnya, pengelolaan stres yang baik akan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas, kualitas pelayanan administrasi, serta terciptanya budaya kerja yang lebih positif dan berkelanjutan di lingkungan kampus.Dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut juga disampaikan Kepala Biro Keuangan, Kerja Sama, dan Umum UNG, Arief Rachman Hakim Abdul, M.Pd. Ia menilai pelatihan ini menjadi investasi penting dalam pengembangan sumber daya manusia, khususnya tenaga kependidikan yang memiliki peran strategis dalam mendukung layanan akademik dan administrasi universitas.“Melalui pelatihan seperti ini, kami berharap kompetensi tendik semakin meningkat, sehingga mampu memberikan pelayanan administrasi yang optimal dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan tinggi di UNG,” ujarnya.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum UNG, Dr. Mohamad Hidayat Koniyo, S.T., M.Kom., menegaskan bahwa kesehatan mental tendik, merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kualitas kinerja institusi.Menurutnya, dinamika pekerjaan, target yang harus dicapai, perubahan kebijakan, hingga berbagai tuntutan pelayanan sering kali menjadi sumber tekanan, yang dapat memengaruhi kondisi fisik maupun psikologis pegawai apabila tidak dikelola dengan baik.“Pelatihan ini menjadi langkah preventif sekaligus bentuk kepedulian universitas, terhadap kesejahteraan tenaga kependidikan. Ketika pegawai mampu mengelola stres secara sehat, maka produktivitas meningkat, pelayanan kepada sivitas akademika menjadi lebih baik, dan suasana kerja yang harmonis akan semakin terbangun,” jelas Hidayat.Melalui pelatihan ini, UNG berharap mampu membangun budaya kerja yang lebih adaptif, sehat, dan berorientasi pada kesejahteraan pegawai. Dengan tendik yang tangguh secara mental dan profesional, UNG optimistis dapat terus menghadirkan layanan pendidikan tinggi yang berkualitas serta mendukung terwujudnya universitas yang unggul dan berdaya saing. (**)

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Kenalkan Media Berbasis Augmented Reality di Forum Internasional Singapura
21 Jul 2026
05:38 WITA

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Kenalkan Media Berbasis Augmented Reality di Forum Internasional Singapura

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Inovasi pembelajaran karya dosen Fakultas Ilmu Pendidikan UNG, kembali mendapat panggung di tingkat internasional. Dosen Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Dr. Pupung Puspa Ardini, M.Pd., tampil sebagai pemakalah dalam Pacific Early Childhood Education Research Association (PECERA) Annual Conference 2026 yang berlangsung pada 10–12 Juli 2026 di Singapore University of Social Sciences (SUSS), Singapura.Konferensi internasional bergengsi tersebut mengusung tema “Early Childhood Care and Education in a Complex World: Supporting Agency, Diversity and Inclusion” dan mempertemukan para peneliti, akademisi, pendidik, serta praktisi pendidikan anak usia dini dari berbagai negara untuk berbagi hasil riset dan inovasi dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada perkembangan anak.Dalam forum ilmiah tersebut, Pupung mempresentasikan hasil penelitian berjudul “Bhinneka Magic Cube: The Introduction to Diversity Literacy Through Augmented Reality for Kindergarten”, sebuah inovasi media pembelajaran yang menggabungkan permainan edukatif dengan teknologi Augmented Reality (AR), untuk menanamkan nilai-nilai kebinekaan kepada anak usia dini.Penelitian tersebut merupakan hasil kolaborasi bersama Sri Rawanti, M.Pd., Arif Dwinanto, M.Pd., dan Hijrah Syahputra, M.Pd. yang berfokus pada pengembangan media pembelajaran interaktif sebagai sarana memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia sejak usia dini.Menurut Dr. Pupung, Bhinneka Magic Cube dirancang sebagai media pembelajaran, yang memadukan kubus edukatif dengan teknologi AR. Melalui proses pemindaian menggunakan perangkat digital, anak dapat mengakses berbagai konten interaktif, yang mengenalkan keberagaman suku, budaya, bahasa, agama, hingga kehidupan sosial masyarakat Indonesia secara menarik dan menyenangkan.“Anak-anak belajar melalui pengalaman yang konkret dan menyenangkan. Dengan memanfaatkan teknologi Augmented Reality, mereka dapat memahami keberagaman dengan cara yang lebih interaktif sesuai karakteristik belajar pada usia dini,” jelas Pupung.Pengembangan media tersebut menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) yang memastikan setiap tahapan dirancang secara sistematis, mulai dari analisis kebutuhan hingga evaluasi efektivitas media.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bhinneka Magic Cube memperoleh respons yang sangat positif. Berdasarkan hasil evaluasi, media ini meraih skor antara 83,40 hingga 87,40 persen pada berbagai aspek penilaian, meliputi tampilan, kreativitas, inovasi, kemudahan penggunaan, manfaat pembelajaran, hingga keamanan desain dan bahan.Hasil tersebut menunjukkan bahwa media ini memiliki potensi besar sebagai sarana efektif, dalam menanamkan nilai toleransi dan keberagaman kepada anak sejak usia dini. Pupung menegaskan bahwa penguatan literasi kebinekaan sejak masa kanak-kanak, merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter generasi masa depan.“Anak yang sejak dini diperkenalkan pada keberagaman akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih toleran, empatik, mampu bekerja sama, serta menghargai perbedaan. Teknologi dapat menjadi media yang efektif untuk mendukung proses tersebut, selama dimanfaatkan secara bijaksana dengan pendampingan guru dan orang tua,” ujarnya.Keikutsertaan akademisi FIP sebagai pemakalah dalam konferensi internasional tersebut menjadi bukti bahwa hasil riset dosen UNG, mampu berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat global. Sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi yang lahir dari UNG tidak hanya menjawab kebutuhan pendidikan di Indonesia, tetapi juga relevan dengan isu-isu strategis pendidikan anak usia dini di dunia. (**)

Peneliti UNG Sulap Kunyit Jadi Minuman Effervescent Penakluk Kolesterol
21 Jul 2026
05:25 WITA

Peneliti UNG Sulap Kunyit Jadi Minuman Effervescent Penakluk Kolesterol

Abdul Wahid Rauf

Aterosklerosis atau penumpukan plak kolesterol di pembuluh darah sering kali dijuluki sebagai "pembunuh senyap". Kondisi inilah yang menjadi biang kerok utama penyakit jantung dan stroke. Namun, siapa sangka jika solusi untuk melawan ancaman serius ini ternyata tersimpan rapi di dapur kita: Kunyit (Curcuma domestica).Di tangan tim peneliti yang terdiri dari Zulkifli B. Pomalango, Mohamad Aprianto Paneo, Nasrun Pakaya, La Ode Aman, dan Ariani H. Hutuba, rimpang emas ini bertransformasi menjadi minuman kekinian berbentuk effervescent yang praktis dan menyegarkan, yang dapat menjadi senjata ampuh untuk mencegah aterosklerosis dan menurunkan kadar kolesterol secara signifikan.“Selama ini, kunyit identik dengan jamu tradisional yang berasa pekat. Melalui riset ini, peneliti mengembangkan formulasi serbuk effervescent yang menghasilkan minuman berwarna oranye cerah dengan aroma khas kunyit dan sentuhan rasa manis,” ungkap tim peneliti Zulkifli B. Pomalango.Selama ini, kunyit identik dengan jamu tradisional yang berasa pekat. Melalui riset ini, peneliti mengembangkan formulasi serbuk effervescent yang menghasilkan minuman berwarna oranye cerah dengan aroma khas kunyit dan sentuhan rasa manis.Paduan ini tidak hanya menyegarkan, tetapi juga menawarkan manfaat kesehatan yang luar biasa. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa minuman ini memiliki pH sekitar 5.9, waktu alir 14 detik, sudut repos serbuk 30°, dan waktu pelarutan selama 4 menit 20 detik, menjadikannya nyaman dikonsumsi.Rahasia kekuatan minuman ini terletak pada Curcumin, senyawa aktif dalam kunyit yang memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi tingkat tinggi. Para peneliti melakukan uji canggih menggunakan pemodelan molekuler Autodock-vina. Hasilnya menunjukkan bahwa Curcumin memiliki potensi besar, untuk menghambat penumpukan kolesterol sebagai langkah pencegahan aterosklerosis.Tak berhenti di teori, untuk menilai kualitas dan komposisi produk effervescent ini tim peneliti juga melakukan uji nyata terhadap tikus yang telah diinduksi kolesterol tinggi (mencapai kadar 290 mg/dL) menggunakan margarin. Hasilnya sangat luar biasa, pada minggu pertama setelah rutin diberikan dosis kunyit effervescent, kadar kolesterol turun drastis menjadi 165 mg/dL. Sedangkan pada minggu kedua menunjukan penurunan terus berlanjut hingga mencapai angka normal 143 mg/dL.Temuan ini memberikan harapan baru bagi dunia kesehatan. Minuman effervescent kunyit ini bukan hanya menawarkan cara baru menikmati herbal, tetapi juga berpotensi menjadi alternatif alami dalam menurunkan kadar kolesterol, serta juga efektif untuk menjaga kesehatan jantung dan mencegah risiko aterosklerosis sejak dini."Formulasi ini membuktikan bahwa bahan alami lokal kita, jika diolah dengan sentuhan teknologi farmasi yang tepat, bisa menjadi senjata ampuh melawan penyakit degeneratif," ujarnya.Dengan riset yang terus dikembangkan, produk ini berpotensi menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat modern. Jadi, dari pada sekadar minum minuman manis biasa, mengapa tidak mencoba cara segar untuk melindungi jantung Anda.

Peran Keluarga dan Lingkungan Rumah Penting untuk Pencegahan, Peneliti UNG Ingatkan TB Anak Masih Mengancam
21 Jul 2026
05:17 WITA

Peran Keluarga dan Lingkungan Rumah Penting untuk Pencegahan, Peneliti UNG Ingatkan TB Anak Masih Mengancam

Abdul Wahid Rauf

Tuberkulosis (TB) hingga kini masih menjadi masalah kesehatan global yang serius, termasuk bagi kelompok anak. Data global menunjukkan bahwa pada tahun 2023, TB diperkirakan menyebabkan sekitar 1,25 juta kematian di seluruh dunia. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, termasuk anak-anak. Di Indonesia, data periode 2014–2019 menunjukkan peningkatan signifikan dalam capaian penemuan kasus TB anak, sementara pada periode 2019–2023 grafik kasus cenderung fluktuatif, menandakan bahwa TB anak masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.Peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Nurul Fauziah Sabir, bersama tim peneliti, mengungkapkan bahwa TB pada anak memerlukan perhatian khusus mengingat peran anak sebagai generasi penerus bangsa. Melalui kajian berbasis riset terhadap tujuh jurnal penelitian yang dilakukan di Indonesia, tim peneliti mengidentifikasi sejumlah faktor utama yang berperan dalam terjadinya infeksi TB pada anak.Hasil kajian menunjukkan bahwa kontak erat dengan penderita TB dewasa, khususnya yang terjadi di dalam lingkungan rumah, merupakan faktor risiko paling dominan terhadap kejadian TB pada anak. Risiko ini semakin tinggi pada anak usia dini, mengingat sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang secara optimal sehingga lebih mudah terinfeksi dan berpotensi mengalami gejala yang lebih berat.“Selain itu, lingkungan fisik tempat tinggal juga menjadi determinan penting, terutama pada kawasan padat penduduk dengan kondisi hunian yang kurang sehat,” ujarnyaKondisi rumah yang padat, sirkulasi udara yang buruk, tingkat kelembapan yang tinggi, serta paparan asap rokok menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penularan TB. Anak-anak yang secara fisiologis lebih rentan menjadi kelompok yang paling terdampak dalam kondisi tersebut. Penelitian juga mencatat bahwa karakteristik biologis dan imunologis anak, seperti usia dan status imunitas, berperan besar dalam menentukan tingkat kerentanan terhadap infeksi TB.Selain faktor lingkungan dan biologis, dinamika sosial serta perilaku keluarga turut memengaruhi kejadian TB pada anak. Pengetahuan keluarga yang rendah mengenai TB dan praktik kesehatan yang kurang baik terbukti meningkatkan risiko penularan.“Pengetahuan orang tua tentang gejala, cara penularan, serta pencegahan TB memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian TB pada anak di lingkungan rumah tangga,” tegasnya.Temuan ini menegaskan bahwa kapasitas keluarga dalam mengenali, mencegah, dan merespons gejala TB menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan, khususnya di tingkat rumah tangga. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan penguatan strategi skrining kontak serumah, peningkatan edukasi perilaku hidup sehat, serta perbaikan kondisi lingkungan rumah sebagai bagian integral dari program nasional pengendalian TB.Peneliti juga berharap masyarakat dapat lebih waspada terhadap berbagai faktor risiko penularan TB pada anak. Peran aktif tenaga kesehatan dinilai sangat penting dalam melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya orang tua, agar pengetahuan mengenai TB anak meningkat dan upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih optimal. (**)

Lihat Semua Berita