Site Logo

Raih Prestasi Gold Medal dan Best Paper, Mahasiswa Fakultas Teknik UNG Bersinar di Idea Fest 6

Siaran PersPrestasi Mahasiswa
Abdul Wahid Rauf
12 Oct 2026
01:43 WITA
55 dilihat
Raih Prestasi Gold Medal dan Best Paper, Mahasiswa Fakultas Teknik UNG Bersinar di Idea Fest 6

GORONTALO — Dua mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) membuktikan bahwa gagasan, yang dikembangkan melalui proses akademik mampu bersaing dan mendapat pengakuan di tingkat nasional. Adelia Syafarusi Sahadat dan Haida Arianti, mahasiswa Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik (FT) UNG, berhasil meraih Gold Medal sekaligus penghargaan Best Paper pada ajang Idea Fest 6 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 10–11 Oktober 2026, di Malang.

Prestasi tersebut diraih pada subtema Pariwisata dan Budaya. Raihan dua penghargaan sekaligus menjadi pencapaian membanggakan karena tidak hanya menunjukkan keberhasilan tim dalam kompetisi, tetapi juga menegaskan pengakuan terhadap kualitas karya tulis ilmiah yang mereka hasilkan.

Gold Medal menjadi apresiasi atas capaian dalam kompetisi, sementara penghargaan Best Paper menunjukkan bahwa karya yang diusung memiliki kualitas penulisan ilmiah yang mendapat pengakuan dari penyelenggara. Prestasi ini sekaligus memperlihatkan kemampuan mahasiswa Teknik Industri UNG dalam mengembangkan gagasan analitis dan inovatif pada isu yang melampaui bidang keilmuan mereka.

Keberhasilan Adelia dan Haida tidak terlepas dari persiapan dan pendampingan akademik yang mereka jalani. Keduanya merupakan mahasiswa bimbingan Idham Halid Lahay, S.T., M.Sc., yang mendampingi proses pengembangan gagasan hingga persiapan mengikuti kompetisi.

Pendampingan dosen menjadi bagian penting dalam mempertajam ide, memperkuat substansi karya, serta mempersiapkan mahasiswa menyampaikan gagasan secara ilmiah. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi dapat berkembang menjadi karya nyata yang memperoleh apresiasi di luar lingkungan kampus.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNG, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menyampaikan apresiasi atas pencapaian kedua mahasiswa tersebut beserta peran dosen pembimbing. Menurutnya, prestasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya akademik yang mendorong mahasiswa untuk aktif berkarya, mengikuti kompetisi, dan mengembangkan kemampuan komunikasi ilmiah.

Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya, agar semakin percaya diri membawa gagasan dan karya mereka ke berbagai forum kompetitif.

“Penghargaan yang diraih melalui proses pembimbingan akademik juga menunjukkan pentingnya lingkungan kampus, dalam menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan kreativitas,” terangnya.

Raihan Gold Medal dan Best Paper oleh Adelia Syafarusi Sahadat dan Haida Arianti menjadi kebanggaan bagi fakultas dan juga universitas. Prestasi ini diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya lebih banyak karya mahasiswa yang inovatif, berkualitas, dan mampu memberikan kontribusi melalui forum akademik di tingkat nasional maupun internasional. (**)

Ikuti berita lainnya

Perkuat Kelimuan Arsitektur dan Teknologi Bangunan, Dosen UNG Tempuh Doktor Double Degree di ITB dan Loughborough University
12 Oct 2026
00:48 WITA

Perkuat Kelimuan Arsitektur dan Teknologi Bangunan, Dosen UNG Tempuh Doktor Double Degree di ITB dan Loughborough University

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Kesempatan menimba ilmu di dua perguruan tinggi, Indonesia dan Inggris, menjadi langkah penting bagi Abdi Gunawan Djafar, dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dalam memperdalam keilmuan sekaligus memperluas pengalaman riset bertaraf internasional. Dosen Jurusan S1 Arsitektur dan Program Studi D-IV Arsitektur Bangunan Gedung tersebut kini tengah menempuh pendidikan doktor melalui program Double Degree hasil kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Loughborough University (LU), Inggris.Pendidikan doktoral Abdi didukung beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia (PDDI) skema Double Degree dari kementerian terkait, dengan pendanaan penuh. Program ini dirancang selama tiga tahun atau 36 bulan, dengan pembagian masa studi dan riset di kedua institusi untuk memberikan pengalaman akademik lintas lingkungan pendidikan dan penelitian.Memulai studi doktoral pada 2025, Abdi menjalani perkuliahan dan pendalaman teori selama 12 bulan di ITB. Tahap berikutnya adalah riset intensif selama 18 bulan di School of Architecture, Building and Civil Engineering, Loughborough University. Setelah itu, ia dijadwalkan kembali ke ITB selama enam bulan untuk menuntaskan tahap akhir penyusunan disertasi.Dalam pendidikan doktoralnya, Abdi memusatkan perhatian pada bidang Sains dan Teknologi Bangunan. Penelitian ini dibimbing oleh tim promotor dari ITB dan Loughborough University, sehingga membuka ruang untuk mengintegrasikan perspektif keilmuan, pendekatan penelitian, dan pengalaman akademik dari dua institusi.Bagi Abdi, kesempatan tersebut tidak sekadar menjadi pencapaian akademik pribadi. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama studi di Indonesia dan Inggris diharapkan dapat dibawa kembali ke kampus untuk memperkuat pembelajaran dan penelitian di Fakultas Teknik UNG, khususnya pada bidang arsitektur dan teknologi bangunan.Pengalaman belajar di dua lingkungan akademik juga menjadi peluang untuk memperluas jejaring riset dan mengenal pendekatan pengembangan ilmu pengetahuan dalam konteks internasional. Bekal tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan materi pembelajaran, peningkatan kualitas penelitian, serta terbukanya peluang kolaborasi akademik yang lebih luas bagi sivitas akademika UNG.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., mengapresiasi keikutsertaan Abdi dalam program doktoral Double Degree. Menurutnya, kesempatan menempuh pendidikan lanjut di perguruan tinggi terkemuka menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualifikasi dan kompetensi dosen, yang pada akhirnya harus bermuara pada penguatan mutu pendidikan dan pengembangan institusi.Eduart menekankan bahwa kompetensi yang diperoleh dosen melalui pendidikan doktoral diharapkan tidak berhenti pada individu, tetapi dapat ditransfer melalui kegiatan pembelajaran, penelitian, publikasi ilmiah, dan berbagai aktivitas akademik yang memberikan manfaat bagi mahasiswa serta pengembangan program studi.“Keikutsertaan Abdi Gunawan Djafar dalam program doktoral Double Degree menjadi salah satu langkah pengembangan sumber daya manusia UNG melalui pendidikan bertaraf internasional,” ujar Eduart.Dengan penguatan kompetensi dosen dan perluasan jejaring akademik, UNG terus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang inovatif, kolaboratif, dan kompetitif sebagai bagian dari upaya mewujudkan universitas yang unggul dan berdaya saing.

Ratri Rahmatya Hiola, Mahasiswa FEB UNG, Tampil di World Economic & Leadership Forum 2026
08 Oct 2026
03:41 WITA

Ratri Rahmatya Hiola, Mahasiswa FEB UNG, Tampil di World Economic & Leadership Forum 2026

Rachmad Hidayah

Denpasar — Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Ratri Rahmatya Hiola, menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia bagian timur yang tampil sebagai presenter sekaligus Impact Delegate pada World Economic & Leadership Forum (WELF) 2026.Forum internasional yang diselenggarakan oleh Sustainable Development League bekerja sama dengan Warmadewa University tersebut berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 di Denpasar, Bali. WELF 2026 mempertemukan generasi muda dari berbagai negara, di antaranya Rusia, Malaysia, Vietnam, Bangladesh, Uzbekistan, London, Papua Nugini, dan Indonesia, untuk membahas berbagai isu strategis terkait ekonomi global, teknologi, rekonstruksi, perubahan iklim, serta kepemimpinan generasi muda.Dalam forum tersebut, Ratri membawa nama Universitas Negeri Gorontalo dan berpartisipasi dalam berbagai rangkaian diskusi sebagai Impact Delegate. Kehadirannya menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa UNG dalam membawa perspektif akademik ke ruang diskusi internasional yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang dan negara.Tidak hanya mengikuti rangkaian forum, Ratri juga berkesempatan mempresentasikan proyek bertajuk “Youth Economic Policy Lab: Building Economic Resilience in an Uncertain Global Environment.” Gagasan tersebut merupakan inisiatif berbasis kepemudaan yang dirancang untuk menghubungkan economic research, policy dialogue, dan youth engagement dalam membangun pemahaman serta pemikiran kebijakan ekonomi yang lebih responsif terhadap ketidakpastian global.Melalui Youth Economic Policy Lab, mahasiswa dan generasi muda diarahkan untuk memahami berbagai persoalan ekonomi melalui pendekatan berbasis data. Gagasan tersebut juga membuka ruang bagi generasi muda untuk berdiskusi bersama akademisi dan praktisi, sekaligus menerjemahkan hasil kajian menjadi gagasan serta rekomendasi yang lebih mudah dipahami masyarakat.“Youth Economic Policy Lab saya gagas sebagai ruang yang menghubungkan penelitian ekonomi dengan diskusi kebijakan dan keterlibatan anak muda. Saya melihat bahwa generasi muda tidak hanya perlu memahami bagaimana kebijakan ekonomi memengaruhi kehidupan mereka, tetapi juga perlu memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan dan terlibat dalam pembahasan isu ekonomi,” ujar Ratri.Gagasan yang dibawa Ratri dalam forum tersebut turut berangkat dari pengalaman akademiknya dalam melakukan penelitian mengenai kebijakan fiskal dan Foreign Direct Investment (FDI) di negara-negara ASEAN+3 periode 2010–2023.Penelitian tersebut menjadi salah satu pijakan dalam melihat bagaimana data dan riset ekonomi dapat dimanfaatkan untuk memahami hubungan antara kebijakan fiskal, kondisi makroekonomi, dan investasi dalam menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi global.Melalui proyek tersebut, Ratri menekankan bahwa economic resilience tidak hanya berkaitan dengan kemampuan suatu negara menghadapi guncangan ekonomi. Menurutnya, ketahanan ekonomi juga membutuhkan kebijakan yang kredibel, kapasitas fiskal yang kuat, investasi produktif, serta keterlibatan masyarakat dan generasi muda dalam memahami berbagai persoalan ekonomi.“Pengalaman mengikuti WELF membuat saya melihat bahwa persoalan ekonomi tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kebijakan atau satu indikator. Ketahanan ekonomi membutuhkan kombinasi antara kebijakan yang baik, institusi yang kuat, investasi produktif, dan keterlibatan berbagai pihak. Di sinilah saya melihat ruang bagi generasi muda untuk berkontribusi melalui riset, dialog, dan aksi,” lanjut Ratri.Keikutsertaan dalam WELF 2026 diharapkan dapat menjadi ruang bagi Ratri untuk terus mengembangkan gagasan Youth Economic Policy Lab, khususnya sebagai wadah pembelajaran dan diskusi bagi mahasiswa dalam memahami isu ekonomi dan kebijakan publik secara lebih kritis serta berbasis bukti.Partisipasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa FEB UNG dalam memperluas jejaring akademik dan membawa perspektif Universitas Negeri Gorontalo ke dalam forum internasional. Kehadiran Ratri juga menunjukkan peran mahasiswa UNG dalam mengambil bagian pada diskusi mengenai ekonomi, pembangunan, dan tantangan global yang semakin kompleks.

Dari UNG untuk Indonesia, Mahasiswa dan Alumni FOK UNG Persembahkan Medali di Asian Games 2026
08 Oct 2026
02:25 WITA

Dari UNG untuk Indonesia, Mahasiswa dan Alumni FOK UNG Persembahkan Medali di Asian Games 2026

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas akademika Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di panggung olahraga internasional. Mahasiswa dan alumni Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) UNG turut berkontribusi, mempersembahkan medali bagi Indonesia pada ajang Asian Games 2026 melalui cabang olahraga sepak takraw.Tiga insan olahraga yang memiliki keterkaitan dengan FOK UNG, tampil membawa nama Indonesia di kompetisi olahraga terbesar di Asia tersebut. Mereka adalah mahasiswa UNG Jelki Ladada, serta dua alumni Gelvin Usman dan Rizki Yusuf Djaina.Jelki Ladada berhasil mencatatkan prestasi dengan menyumbangkan medali perak dan perunggu untuk kontingen Indonesia. Sementara itu, dua alumni FOK UNG, Gelvin Usman dan Rizki Yusuf Djaina, masing-masing turut mempersembahkan medali perunggu bagi Merah Putih.Raihan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi UNG, khususnya Fakultas Olahraga dan Kesehatan. Prestasi para atlet tidak hanya menunjukkan kemampuan mereka bersaing di tingkat Asia, tetapi juga menjadi gambaran kontribusi pendidikan dan pembinaan olahraga di lingkungan kampus.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi atas pencapaian mahasiswa dan alumni Jurusan Pendidikan Kepelatihan dan Olahraga FOK UNG tersebut. Menurutnya, keberhasilan membawa pulang medali dari Asian Games merupakan pencapaian luar biasa yang membanggakan seluruh sivitas akademika UNG.“Keberhasilan meraih medali perak dan perunggu pada cabang olahraga sepak takraw merupakan sebuah pencapaian luar biasa dan membanggakan, khususnya bagi sivitas akademika UNG,” ungkap Eduart.Menurut Rektor, prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan kualitas pembinaan olahraga yang terus dikembangkan FOK UNG. Cabang olahraga sepak takraw menjadi salah satu bidang, yang menunjukkan kontribusi nyata melalui kiprah mahasiswa dan alumni di tingkat internasional.“Capaian Jelki, Gelvin, dan Rizki menjadi bukti bahwa perjalanan seorang atlet tidak berhenti ketika meninggalkan ruang kelas. Dari kampus, mereka membawa bekal pendidikan, pembinaan, dan pengalaman untuk kemudian tampil di panggung Asia dengan membawa nama Indonesia,” terangnya.Prestasi tersebut diharapkan semakin memotivasi mahasiswa UNG untuk mengembangkan potensi, baik di bidang akademik maupun olahraga. Di sisi lain, capaian ketiga atlet tersebut menjadi bentuk komitmen UNG dalam membina atlet terbaik, khususnya dalam olahraga sepaktakraw untuk kemudian berkompetisi dan menghadirkan prestasi bagi Indonesia khususnya di tingkat internasional.

Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk Pengelolaan Cumi-Cumi di Teluk Tomini
08 Oct 2026
00:19 WITA

Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk Pengelolaan Cumi-Cumi di Teluk Tomini

Abdul Wahid Rauf

Teluk Tomini menyimpan potensi perikanan yang besar, termasuk sumber daya cumi-cumi (Loligo spp.) yang menjadi salah satu komoditas penting bagi masyarakat pesisir. Namun, di balik potensi tersebut, keberlanjutan sumber daya cumi-cumi menghadapi sejumlah tantangan. Penelitian Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan adanya kecenderungan penurunan hasil tangkapan yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan perikanan di kawasan Teluk Tomini.Penelitian bertajuk “Integration of ecosystem approach in Loligo spp. resource management in Tomini Bay” dilakukan oleh Yuniarti Koniyo, Abdul H. Olii, Wila R. Nento, dan Muhammad R. Gobel. Penelitian tersebut mengkaji status pengelolaan perikanan cumi-cumi dengan menggunakan pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) dan Flag Model. Pendekatan ini tidak hanya melihat kondisi sumber daya ikan, tetapi juga mempertimbangkan aspek habitat, teknologi penangkapan, sosial, ekonomi, serta kelembagaan.Salah satu temuan penting penelitian terlihat dari perubahan Catch Per Unit Effort (CPUE), yaitu jumlah hasil tangkapan yang diperoleh dalam setiap satuan upaya penangkapan. Data menunjukkan CPUE cumi-cumi di Teluk Tomini turun dari 21,78 kg per perjalanan pada 2019 menjadi 17,02 kg per perjalanan pada 2023. Pada periode yang sama, produksi cumi-cumi juga mengalami penurunan, dari sekitar 4,79 juta kilogram pada 2019 menjadi 3,72 juta kilogram pada 2023.Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap sumber daya cumi-cumi perlu diperhatikan. Penelitian mengindikasikan bahwa peningkatan aktivitas penangkapan belum selalu menghasilkan tangkapan yang lebih tinggi. Kondisi ini dapat berkaitan dengan meningkatnya tekanan penangkapan maupun perubahan lingkungan yang memengaruhi ketersediaan cumi-cumi di perairan.Dari sisi teknologi, nelayan di kawasan Teluk Tomini menggunakan sejumlah alat tangkap, dengan pancing cumi dan circle gill net menjadi alat yang dominan di beberapa wilayah. Penelitian menilai teknologi penangkapan yang digunakan relatif selektif, meskipun risiko tertangkapnya spesies non-target masih ada. Karena itu, peningkatan selektivitas alat tangkap tetap diperlukan agar pemanfaatan sumber daya dapat berlangsung lebih berkelanjutan.Tantangan pengelolaan juga berkaitan dengan kondisi habitat. Penelitian mencatat adanya kerusakan ekosistem terumbu karang akibat aktivitas manusia, termasuk praktik penangkapan yang merusak. Padahal, kondisi habitat memiliki hubungan penting dengan keberadaan dan keberlanjutan sumber daya perikanan. Perubahan lingkungan dan dampak perubahan iklim juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan Teluk Tomini.Persoalan keberlanjutan tidak berhenti pada aspek ekologi. Penelitian menemukan bahwa kondisi ekonomi rumah tangga nelayan cumi-cumi masih relatif rendah, dengan pendapatan yang dalam banyak kasus berada di bawah upah minimum provinsi. Kepemilikan aset produktif dan kemampuan menabung juga masih terbatas. Di sisi sosial, partisipasi berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan dinilai tinggi, tetapi konflik antara nelayan maupun antara nelayan dan pemerintah masih terjadi.Hasil penilaian enam domain EAFM menunjukkan nilai rata-rata pengelolaan sebesar 58 yang masuk kategori sedang. Domain teknologi penangkapan dan sosial memperoleh kategori baik, sementara sumber daya ikan dan aspek ekonomi masih berada pada kategori kurang. Aspek kelembagaan juga memerlukan penguatan, terutama karena belum adanya rencana pengelolaan perikanan Teluk Tomini yang secara khusus diterapkan sebagai dasar pengelolaan bersama.Temuan tersebut menegaskan bahwa menjaga keberlanjutan cumi-cumi di Teluk Tomini membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Peneliti merekomendasikan penggunaan alat tangkap yang semakin selektif, rehabilitasi ekosistem, peningkatan kesejahteraan nelayan, serta penguatan kerja sama antarlembaga dan keterlibatan para pemangku kepentingan.Dengan pendekatan berbasis ekosistem, pengelolaan cumi-cumi tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan hasil tangkapan, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan memastikan sumber daya tersebut tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir dalam jangka panjang.Artikel Penelitian Dipublikasikan Melalui Tautan Berikut

Lihat Semua Berita