Site Logo

Kali Pertama Lakukan Akreditasi Internasional, Rektor Optimis Peroleh Hasil Terbaik

Abdul Wahid Rauf
14 Sep 2022
22:17 WITA
1.607 dilihat
Kali Pertama Lakukan Akreditasi Internasional, Rektor Optimis Peroleh Hasil Terbaik

GORONTALO - Lima Program Studi (Prodi) yang bernaung di Universitas Negeri Gorontalo melakukan tahap akreditasi internasional untuk pertama kalinya. Meskipun menjadi kali pertama dilakukan UNG, namun Rektor Dr. Ir. Eduart Wolok, ST, MT, mengaku optimis akreditasi internasional bisa memberikan hasil yang terbaik bagi Prodi yang dilakukan visitasi.

"Dengan melihat persiapan yang dilakukan sejak beberapa bulan ini kemudian melakukan tahapan simulasi, saya optimis akreditasi internasional bisa memberikan hasil terbaik bagi UNG," ungkap Rektor.

Akreditasi yang dilakukan oleh badan akreditasi internasional Foundation for Internasional Business Administration Accreditation (FIBAA) sangat penting bagi UNG. Menurutnya akreditasi ini merupakan satu lompatan besar, yang akan semakin menegaskan pengakuan akan kualifikasi dan kapasitas Program Studi (Prodi) yang ada di UNG tidak hanya di level Nasional namun juga di level internasional.

"Pengakuan secara internasional melalui akreditasi ini akan semakin mendorong peningkatan daya saing kita kedepan untuk berkontribusi lebih terhadap ilmu pengetahuan," pungkasnya.

Lima Prodi yang dijadwalkan untuk dilakukan visitasi akreditasi oleh Badan Akreditasi Internasional yakni Prodi S1 pendidikan biologi, S1 pendidikan fisika, S1 pendidikan kimia, S1 pendidikan geografi dan S1 pendidikan bahasa Inggris. 

Sementara itu Tim Penghubung FIBAA, Dr. rer.nat. Mohamad Yahya menuturkan FIBAA merupakan lembaga swasta yang bertugas dalam akreditasi internasional. Lembaga tersebut banyak digunakan oleh perguruan tinggi di Indonesia dalam melakukan tahapan penilaian akreditasi internasional. (**)

Ikuti berita lainnya

Kunci Kendalikan Diabetes, Peneliti UNG Ungkap Pentingnya Pola Makan dan Aktivitas Fisik
22 Jul 2026
22:45 WITA

Kunci Kendalikan Diabetes, Peneliti UNG Ungkap Pentingnya Pola Makan dan Aktivitas Fisik

Abdul Wahid Rauf

Diabetes Melitus (DM) tipe 2 masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Tidak hanya membebani fisik penderitanya, penyakit ini juga menjadi penyumbang utama tingginya biaya kesehatan nasional. Menanggapi hal tersebut, tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melakukan studi mendalam untuk menemukan kunci pengendalian kadar gula darah.Penelitian yang dilakukan oleh Nadia Oktaviana Rahman bersama tim ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Tapa, Kabupaten Bone Bolango. Hasilnya, yang telah dipublikasikan dalam Medic Nutricia: Jurnal Ilmu Kesehatan tahun 2025, mengungkap fakta krusial: pola makan dan aktivitas fisik adalah dua pilar yang tidak bisa dipisahkan dalam menjinakkan diabetes.Riset ini menemukan data yang cukup mengejutkan. Sebanyak 71,2 persen responden penderita diabetes tercatat memiliki kadar gula darah yang tidak terkontrol. Angka ini menjadi alarm bagi layanan kesehatan dasar, terutama di wilayah pedesaan, bahwa penanganan diabetes belum mencapai hasil yang optimal.Setelah ditelusuri lebih lanjut, perilaku harian menjadi pemicu utamanya meliputi, Pola Makan Buruk: Sebanyak 57,5 persen responden memiliki kebiasaan makan yang tidak sehat. Selain itu juga disebabkan paradoks Aktivitas Fisik, dimana hampir separuh responden melakukan aktivitas fisik berat karena tuntutan pekerjaan sebagai petani.“Namun, aktivitas fisik yang berat tidak otomatis menjamin kadar gula darah terkontrol jika tidak diimbangi dengan pola makan sehat dan kepatuhan pengobatan,” ungkap Nadia.Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pola makan dengan kadar gula darah (p = 0,032) serta aktivitas fisik dengan kadar gula darah (p = 0,028). Artinya, penderita diabetes dengan pola makan lebih teratur dan aktivitas fisik yang dikelola dengan baik cenderung memiliki kontrol gula darah yang lebih stabil.“Konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, jadwal makan tidak teratur, serta kurangnya pemahaman gizi menjadi faktor utama sulitnya pengendalian diabetes. Di sisi lain, aktivitas fisik yang dilakukan secara berlebihan tanpa istirahat cukup juga berpotensi memperburuk kondisi metabolisme,” ujarnya.Temuan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-3, yakni menjamin kehidupan sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua usia. Diabetes melitus tipe 2 merupakan salah satu fokus utama dalam agenda pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) yang dicanangkan pemerintah melalui program GERMAS dan penguatan layanan primer. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan promotif dan preventif, khususnya melalui edukasi pola makan sehat, aktivitas fisik terukur, serta skrining rutin di Puskesmas.“Dengan penguatan peran layanan kesehatan dasar dan peningkatan literasi kesehatan masyarakat, pengendalian diabetes diharapkan dapat menekan risiko komplikasi serius seperti penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke,” terangnya.Penelitian merekomendasikan agar program puskesmas dan pemerintah tidak hanya berfokus pada pemberian obat-obatan. Kunci keberhasilan jangka panjang terletak pada, (1) Edukasi Berkelanjutan: Penyuluhan kesehatan yang menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami masyarakat dari berbagai tingkat pendidikan. (2) Literasi Gizi: Meningkatkan pemahaman keluarga mengenai jadwal makan dan jenis nutrisi yang aman bagi penderita diabetes. (3) Pendekatan Komunitas: Mendorong perubahan perilaku hidup sehat mulai dari tingkat keluarga.Dengan langkah tersebut, upaya pengendalian diabetes melitus tipe 2 tidak hanya mendukung target nasional kesehatan, tetapi juga berkontribusi langsung pada pencapaian SDGs dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia. (**)

Peneliti UNG Raih Pendanaan Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju
22 Jul 2026
22:40 WITA

Peneliti UNG Raih Pendanaan Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Program pendanaan kegiatan penelitian di tingkat Nasional, berhasil diperoleh peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Dua dosen terbaik UNG berhasil lolos memperoleh pendanaan Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi Gelombang XI, sebuah skema pendanaan riset bergengsi yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi strategis untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional.Keberhasilan tersebut menjadi bukti meningkatnya kualitas penelitian yang dihasilkan sivitas akademika UNG. Lebih dari sekadar capaian administratif, pendanaan RIIM menjadi pengakuan atas kapasitas peneliti UNG dalam menghadirkan riset yang inovatif, aplikatif, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.Dua peneliti UNG yang berhasil memperoleh pendanaan tersebut adalah Dr. Heryati, S.T., M.T., dan Dr. La Ode Aman, M.Si., dengan mengusung tema penelitian yang berbeda namun sama-sama memiliki nilai strategis bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan Indonesia.Dr. Heryati memperoleh pendanaan melalui penelitian berjudul "Model Konseptual Keberlanjutan Budaya Bermukim Masyarakat Jawa-Tondano (Jaton) di Gorontalo sebagai Dasar Kebijakan Pelestarian Rumah Tradisional." Penelitian ini berupaya merumuskan model konseptual yang dapat menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan pelestarian rumah tradisional masyarakat Jawa-Tondano (Jaton) di Gorontalo.Riset tersebut diharapkan mampu mendukung upaya pelestarian warisan budaya lokal yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Gorontalo, sekaligus memberikan rekomendasi kebijakan berbasis penelitian bagi pemerintah dan pemangku kepentingan.Sementara itu, Dr. La Ode Aman, M.Si., meraih pendanaan melalui penelitian bertajuk "Pengembangan Platform Nasional dalam Penemuan Obat: Integrasi Pendekatan Komputasi Molekular dan Kecerdasan Buatan."Penelitian ini menawarkan pendekatan inovatif dengan memadukan teknologi komputasi molekular dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mempercepat proses penemuan kandidat obat baru. Melalui pemanfaatan teknologi digital, riset tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi penelitian di bidang farmasi serta memperkuat kemandirian Indonesia dalam pengembangan obat berbasis teknologi mutakhir.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan kedua dosen tersebut yang berhasil bersaing pada program pendanaan riset tingkat nasional.Menurut Eduart, keberhasilan tersebut mencerminkan komitmen para dosen UNG dalam menghasilkan proposal penelitian yang berkualitas, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan pembangunan bangsa."Capaian ini menunjukkan bahwa dosen-dosen UNG terus meningkatkan kualitas penelitian dan mampu bersaing secara nasional. Kami berharap pendanaan RIIM ini dapat menghasilkan luaran penelitian yang berkualitas, memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, serta semakin memperkuat posisi UNG sebagai perguruan tinggi yang aktif menghasilkan inovasi melalui riset," ujarnya.Ia menambahkan, keberhasilan tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh peneliti UNG untuk terus meningkatkan produktivitas riset, memperluas jejaring kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, serta menghasilkan inovasi yang mampu menjawab tantangan di berbagai sektor, mulai dari sosial, budaya, kesehatan, hingga teknologi.Eduart menegaskan bahwa UNG terus berkomitmen dalam memperkuat budaya riset yang unggul dan berdampak. Melalui dukungan terhadap penelitian berkualitas, UNG terus berupaya menghadirkan inovasi yang tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan nasional serta mendukung terwujudnya Indonesia yang lebih maju melalui riset dan inovasi. (**)

Tenaga Kependidikan UNG Dibekali Keterampilan Manajemen Stres, Wujudkan Lingkungan Kerja yang Sehat dan Produktif
21 Jul 2026
06:07 WITA

Tenaga Kependidikan UNG Dibekali Keterampilan Manajemen Stres, Wujudkan Lingkungan Kerja yang Sehat dan Produktif

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Dalam upaya meningkatkan kapasitas Tenaga Kependidikan (Tendik) dalam menangani isu manajemen stres, Universitas Negeri Gorontalo melalui UPA. Bimbingan dan Konseling melaksanakan pelatihan manajemen stres pegawai bagi Tendik di lingkungan UNG, Selasa (21/7). Kegiatan yang dilaksanakan di Ball Room TC Damhil UNG mengangkat tema “Tetap tanggap di bawah tekanan melalui seni mengelola stres”.Kepala UPA Bimbingan dan Konseling UNG, Idriyani Idris, S.Pd., M.Pd., menjelaskan pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya UNG meningkatkan kapasitas tenaga kependidikan dalam menghadapi berbagai tekanan pekerjaan yang semakin dinamis. Tidak hanya memberikan pemahaman mengenai stres di lingkungan kerja, kegiatan ini juga membekali peserta dengan berbagai teknik praktis untuk menjaga kesehatan mental dan meningkatkan kesejahteraan diri.“Kemampuan mengenali dan mengelola stres merupakan kompetensi penting yang perlu dimiliki setiap tenaga kependidikan. Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai manajemen stres, tetapi juga mempraktikkan teknik relaksasi, pelepasan emosi, serta self-care yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Idriyani.Menurutnya, pengelolaan stres yang baik akan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas, kualitas pelayanan administrasi, serta terciptanya budaya kerja yang lebih positif dan berkelanjutan di lingkungan kampus.Dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut juga disampaikan Kepala Biro Keuangan, Kerja Sama, dan Umum UNG, Arief Rachman Hakim Abdul, M.Pd. Ia menilai pelatihan ini menjadi investasi penting dalam pengembangan sumber daya manusia, khususnya tenaga kependidikan yang memiliki peran strategis dalam mendukung layanan akademik dan administrasi universitas.“Melalui pelatihan seperti ini, kami berharap kompetensi tendik semakin meningkat, sehingga mampu memberikan pelayanan administrasi yang optimal dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan tinggi di UNG,” ujarnya.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum UNG, Dr. Mohamad Hidayat Koniyo, S.T., M.Kom., menegaskan bahwa kesehatan mental tendik, merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kualitas kinerja institusi.Menurutnya, dinamika pekerjaan, target yang harus dicapai, perubahan kebijakan, hingga berbagai tuntutan pelayanan sering kali menjadi sumber tekanan, yang dapat memengaruhi kondisi fisik maupun psikologis pegawai apabila tidak dikelola dengan baik.“Pelatihan ini menjadi langkah preventif sekaligus bentuk kepedulian universitas, terhadap kesejahteraan tenaga kependidikan. Ketika pegawai mampu mengelola stres secara sehat, maka produktivitas meningkat, pelayanan kepada sivitas akademika menjadi lebih baik, dan suasana kerja yang harmonis akan semakin terbangun,” jelas Hidayat.Melalui pelatihan ini, UNG berharap mampu membangun budaya kerja yang lebih adaptif, sehat, dan berorientasi pada kesejahteraan pegawai. Dengan tendik yang tangguh secara mental dan profesional, UNG optimistis dapat terus menghadirkan layanan pendidikan tinggi yang berkualitas serta mendukung terwujudnya universitas yang unggul dan berdaya saing. (**)

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Kenalkan Media Berbasis Augmented Reality di Forum Internasional Singapura
21 Jul 2026
05:38 WITA

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Kenalkan Media Berbasis Augmented Reality di Forum Internasional Singapura

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Inovasi pembelajaran karya dosen Fakultas Ilmu Pendidikan UNG, kembali mendapat panggung di tingkat internasional. Dosen Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Dr. Pupung Puspa Ardini, M.Pd., tampil sebagai pemakalah dalam Pacific Early Childhood Education Research Association (PECERA) Annual Conference 2026 yang berlangsung pada 10–12 Juli 2026 di Singapore University of Social Sciences (SUSS), Singapura.Konferensi internasional bergengsi tersebut mengusung tema “Early Childhood Care and Education in a Complex World: Supporting Agency, Diversity and Inclusion” dan mempertemukan para peneliti, akademisi, pendidik, serta praktisi pendidikan anak usia dini dari berbagai negara untuk berbagi hasil riset dan inovasi dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada perkembangan anak.Dalam forum ilmiah tersebut, Pupung mempresentasikan hasil penelitian berjudul “Bhinneka Magic Cube: The Introduction to Diversity Literacy Through Augmented Reality for Kindergarten”, sebuah inovasi media pembelajaran yang menggabungkan permainan edukatif dengan teknologi Augmented Reality (AR), untuk menanamkan nilai-nilai kebinekaan kepada anak usia dini.Penelitian tersebut merupakan hasil kolaborasi bersama Sri Rawanti, M.Pd., Arif Dwinanto, M.Pd., dan Hijrah Syahputra, M.Pd. yang berfokus pada pengembangan media pembelajaran interaktif sebagai sarana memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia sejak usia dini.Menurut Dr. Pupung, Bhinneka Magic Cube dirancang sebagai media pembelajaran, yang memadukan kubus edukatif dengan teknologi AR. Melalui proses pemindaian menggunakan perangkat digital, anak dapat mengakses berbagai konten interaktif, yang mengenalkan keberagaman suku, budaya, bahasa, agama, hingga kehidupan sosial masyarakat Indonesia secara menarik dan menyenangkan.“Anak-anak belajar melalui pengalaman yang konkret dan menyenangkan. Dengan memanfaatkan teknologi Augmented Reality, mereka dapat memahami keberagaman dengan cara yang lebih interaktif sesuai karakteristik belajar pada usia dini,” jelas Pupung.Pengembangan media tersebut menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) yang memastikan setiap tahapan dirancang secara sistematis, mulai dari analisis kebutuhan hingga evaluasi efektivitas media.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bhinneka Magic Cube memperoleh respons yang sangat positif. Berdasarkan hasil evaluasi, media ini meraih skor antara 83,40 hingga 87,40 persen pada berbagai aspek penilaian, meliputi tampilan, kreativitas, inovasi, kemudahan penggunaan, manfaat pembelajaran, hingga keamanan desain dan bahan.Hasil tersebut menunjukkan bahwa media ini memiliki potensi besar sebagai sarana efektif, dalam menanamkan nilai toleransi dan keberagaman kepada anak sejak usia dini. Pupung menegaskan bahwa penguatan literasi kebinekaan sejak masa kanak-kanak, merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter generasi masa depan.“Anak yang sejak dini diperkenalkan pada keberagaman akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih toleran, empatik, mampu bekerja sama, serta menghargai perbedaan. Teknologi dapat menjadi media yang efektif untuk mendukung proses tersebut, selama dimanfaatkan secara bijaksana dengan pendampingan guru dan orang tua,” ujarnya.Keikutsertaan akademisi FIP sebagai pemakalah dalam konferensi internasional tersebut menjadi bukti bahwa hasil riset dosen UNG, mampu berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat global. Sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi yang lahir dari UNG tidak hanya menjawab kebutuhan pendidikan di Indonesia, tetapi juga relevan dengan isu-isu strategis pendidikan anak usia dini di dunia. (**)

Lihat Semua Berita