Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Kenalkan Media Berbasis Augmented Reality di Forum Internasional Singapura

GORONTALO – Inovasi pembelajaran karya dosen Fakultas Ilmu Pendidikan UNG, kembali mendapat panggung di tingkat internasional. Dosen Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Dr. Pupung Puspa Ardini, M.Pd., tampil sebagai pemakalah dalam Pacific Early Childhood Education Research Association (PECERA) Annual Conference 2026 yang berlangsung pada 10–12 Juli 2026 di Singapore University of Social Sciences (SUSS), Singapura.
Konferensi internasional bergengsi tersebut mengusung tema “Early Childhood Care and Education in a Complex World: Supporting Agency, Diversity and Inclusion” dan mempertemukan para peneliti, akademisi, pendidik, serta praktisi pendidikan anak usia dini dari berbagai negara untuk berbagi hasil riset dan inovasi dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada perkembangan anak.
Dalam forum ilmiah tersebut, Pupung mempresentasikan hasil penelitian berjudul “Bhinneka Magic Cube: The Introduction to Diversity Literacy Through Augmented Reality for Kindergarten”, sebuah inovasi media pembelajaran yang menggabungkan permainan edukatif dengan teknologi Augmented Reality (AR), untuk menanamkan nilai-nilai kebinekaan kepada anak usia dini.
Penelitian tersebut merupakan hasil kolaborasi bersama Sri Rawanti, M.Pd., Arif Dwinanto, M.Pd., dan Hijrah Syahputra, M.Pd. yang berfokus pada pengembangan media pembelajaran interaktif sebagai sarana memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia sejak usia dini.
Menurut Dr. Pupung, Bhinneka Magic Cube dirancang sebagai media pembelajaran, yang memadukan kubus edukatif dengan teknologi AR. Melalui proses pemindaian menggunakan perangkat digital, anak dapat mengakses berbagai konten interaktif, yang mengenalkan keberagaman suku, budaya, bahasa, agama, hingga kehidupan sosial masyarakat Indonesia secara menarik dan menyenangkan.
“Anak-anak belajar melalui pengalaman yang konkret dan menyenangkan. Dengan memanfaatkan teknologi Augmented Reality, mereka dapat memahami keberagaman dengan cara yang lebih interaktif sesuai karakteristik belajar pada usia dini,” jelas Pupung.

Pengembangan media tersebut menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) yang memastikan setiap tahapan dirancang secara sistematis, mulai dari analisis kebutuhan hingga evaluasi efektivitas media.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bhinneka Magic Cube memperoleh respons yang sangat positif. Berdasarkan hasil evaluasi, media ini meraih skor antara 83,40 hingga 87,40 persen pada berbagai aspek penilaian, meliputi tampilan, kreativitas, inovasi, kemudahan penggunaan, manfaat pembelajaran, hingga keamanan desain dan bahan.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa media ini memiliki potensi besar sebagai sarana efektif, dalam menanamkan nilai toleransi dan keberagaman kepada anak sejak usia dini. Pupung menegaskan bahwa penguatan literasi kebinekaan sejak masa kanak-kanak, merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter generasi masa depan.
“Anak yang sejak dini diperkenalkan pada keberagaman akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih toleran, empatik, mampu bekerja sama, serta menghargai perbedaan. Teknologi dapat menjadi media yang efektif untuk mendukung proses tersebut, selama dimanfaatkan secara bijaksana dengan pendampingan guru dan orang tua,” ujarnya.
Keikutsertaan akademisi FIP sebagai pemakalah dalam konferensi internasional tersebut menjadi bukti bahwa hasil riset dosen UNG, mampu berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat global. Sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi yang lahir dari UNG tidak hanya menjawab kebutuhan pendidikan di Indonesia, tetapi juga relevan dengan isu-isu strategis pendidikan anak usia dini di dunia. (**)





