Site Logo

19 Calon Mahasiswa Berebut Kesempatan Kuliah Gratis di UNG Melalui Seleksi Mandiri Berprestasi

Siaran PersAkademik
Abdul Wahid Rauf
05 Jun 2026
02:39 WITA
37 dilihat
19 Calon Mahasiswa Berebut Kesempatan Kuliah Gratis di UNG Melalui Seleksi Mandiri Berprestasi

GORONTALO – Sebanyak 19 calon mahasiswa terbaik, mengikuti tahapan seleksi jalur Seleksi Mandiri Prestasi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahun 2026. Mereka bersaing untuk mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi dengan berbagai fasilitas istimewa, termasuk pembebasan biaya Iuran Pengembangan Institusi (IPI) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Tahapan seleksi berupa penilaian portofolio dan wawancara dilaksanakan pada Jumat (5/6) di Aula Totombowata Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Perencanaan (BAKP). Peserta yang mengikuti seleksi merupakan calon mahasiswa dengan berbagai capaian prestasi tingkat nasional maupun internasional, serta penghafal Al-Qur’an yang memiliki hafalan hingga 20 juz.

Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Perencanaan UNG, Darman, S.Kom., M.Ap., menjelaskan bahwa jalur Seleksi Mandiri Prestasi, merupakan salah satu bentuk apresiasi universitas terhadap generasi muda yang memiliki pencapaian luar biasa di berbagai bidang.

“Peserta yang mengikuti seleksi tahun ini berjumlah 19 orang, terdiri dari kategori prestasi bidang sains, olahraga, olimpiade, kesenian serta kategori hafidz Al-Qur’an,” jelas Darman.

Menurutnya, proses wawancara dan penilaian portofolio menjadi tahapan penting, untuk memastikan keabsahan seluruh dokumen prestasi yang diajukan peserta. Tim seleksi akan melakukan verifikasi langsung terhadap berbagai pencapaian yang tercantum dalam portofolio, sementara peserta kategori hafidz Al-Qur’an akan menjalani pengujian hafalan secara langsung.

“Melalui tahapan ini, kami ingin memastikan bahwa seluruh prestasi yang diajukan benar-benar valid dan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, M.Si., menuturkan bahwa jalur Seleksi Mandiri Prestasi, dirancang untuk menjaring calon mahasiswa unggul yang memiliki kemampuan akademik maupun nonakademik yang menonjol.

Mahasiswa yang berhasil lolos melalui jalur ini akan memperoleh sejumlah keuntungan, di antaranya pembebasan biaya IPI dan UKT selama memenuhi ketentuan yang ditetapkan universitas.

Namun demikian, Hafidz mengingatkan bahwa fasilitas pembebasan UKT tersebut akan dievaluasi setiap tahun. Mahasiswa penerima program diharapkan mampu mempertahankan prestasi yang menjadi dasar penerimaan mereka di UNG.

“Jika mahasiswa tidak lagi mampu menunjukkan capaian prestasi sesuai ketentuan yang berlaku, maka fasilitas pembebasan UKT dapat dicabut dan mahasiswa akan dikenakan pembayaran UKT sebagaimana mestinya,” tegasnya.

Hasil Seleksi Mandiri Prestasi UNG Tahun 2026 dijadwalkan akan diumumkan pada 8 Juni 2026. Melalui jalur ini, UNG berharap dapat memberikan kesempatan lebih luas kepada putra-putri terbaik bangsa untuk mengembangkan potensi akademik dan prestasinya tanpa terbebani biaya pendidikan. (**)

Ikuti berita lainnya

66 Lulusan Profesi Ners UNG Resmi Diangkat Sumpah, Siap Mengabdi untuk Kesehatan Masyarakat
05 Jun 2026
02:59 WITA

66 Lulusan Profesi Ners UNG Resmi Diangkat Sumpah, Siap Mengabdi untuk Kesehatan Masyarakat

Abdul Wahid Rauf

Sebanyak 66 lulusan Profesi Ners Angkatan XXII Jurusan Keperawatan Universitas Negeri Gorontalo, resmi mengikuti prosesi Angkat Sumpah Perawat yang berlangsung khidmat, Rabu (3/6), di Gedung Grand Sumberia. Prosesi ini menjadi penanda kesiapan para lulusan untuk memasuki dunia kerja sebagai tenaga kesehatan profesional, yang akan mengemban tanggung jawab kemanusiaan di tengah masyarakat.Suasana haru dan penuh kebanggaan mewarnai jalannya prosesi, yang turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNG, Mohamad Amir Arham. Hadir pula Dekan Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Hartono Hadjaratie, serta jajaran Jurusan Keperawatan, Koordinator Program Studi Pendidikan Ners, serta orang tua dan keluarga para lulusan.Koordinator Program Studi Pendidikan Ners, Ibrahim Suleman, menjelaskan bahwa prosesi angkat sumpah merupakan tahap akhir, yang menandai selesainya pendidikan profesi ners sekaligus kesiapan lulusan untuk menjalankan tugas profesional di bidang pelayanan kesehatan.Menurutnya, capaian Angkatan XXII patut diapresiasi, karena seluruh peserta berhasil menyelesaikan tahapan pendidikan akademik dan profesi dengan baik. Bahkan, seluruh lulusan mencatatkan tingkat kelulusan 100 persen pada Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Ners (UKOM), sebuah pencapaian yang mencerminkan kualitas pendidikan dan kesiapan kompetensi lulusan.“Angkat sumpah ini menjadi bukti bahwa para lulusan telah memenuhi seluruh persyaratan akademik dan profesional, untuk menjalankan profesi keperawatan serta siap mengabdikan diri kepada masyarakat,” ungkapnya.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNG, Mohamad Amir Arham, menegaskan bahwa sumpah profesi yang diucapkan bukan sekadar rangkaian seremoni akademik, melainkan komitmen moral yang akan menjadi landasan dalam menjalankan profesi perawat.Ia mengingatkan bahwa profesi perawat memiliki peran strategis dalam sistem pelayanan kesehatan. Dengan bekal ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan, lulusan Profesi Ners UNG diharapkan mampu memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, humanis, dan berorientasi pada keselamatan pasien.“Profesi perawat adalah profesi kemanusiaan. Melalui pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki saat ini, para lulusan diharapkan dapat mengambil peran penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.Prosesi angkat sumpah tersebut sekaligus menjadi awal perjalanan baru bagi para lulusan untuk mengabdikan diri di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, baik rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun institusi kesehatan lainnya di tingkat daerah maupun nasional. (**)

Terbitkan Jurnal Internasional, Dosen UNG Teliti Kebijakan Pendidikan Anak Usia Dini di Slovakia
05 Jun 2026
02:46 WITA

Terbitkan Jurnal Internasional, Dosen UNG Teliti Kebijakan Pendidikan Anak Usia Dini di Slovakia

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Nama Universitas Negeri Gorontalo kembali harum di panggung akademik internasional. Dr. Pupung Puspa Ardini, M.Pd., dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNG, berhasil mempublikasikan artikel ilmiahnya pada salah satu jurnal internasional bereputasi tinggi — International Journal of Child Care and Education Policy — edisi tahun 2026. Pencapaian ini bukan hanya kebanggaan pribadi, melainkan bukti nyata bahwa peneliti dari Gorontalo mampu bersaing dan berkontribusi di level global.Artikel bertajuk "The Policy of the Profession in Early Care and Preschool Education: Historical Dynamics on the Example of Slovakia" ini lahir dari kolaborasi internasional yang apik. Dr. Pupung menggandeng dua peneliti dari Trnava University in Trnava, Slovakia, yakni Branislav Pupala dan Dana Masaryková, untuk mengurai perjalanan panjang kebijakan pendidikan anak usia dini di negara Eropa Tengah tersebut.Kajian ini membawa pembaca menelusuri lorong sejarah kebijakan pendidikan anak usia dini di Slovakia — dari era Austro-Hungaria, melewati era sosialisme, hingga tiba di era demokrasi modern yang penuh dinamika.Penelitian ini tidak sekadar mendokumentasikan masa lalu. Di balik kajian historisnya, tersimpan pesan penting tentang bagaimana sistem pendidikan anak usia dini di Slovakia mengalami transformasi besar — dari pendekatan yang semula berorientasi pada layanan kesehatan dan pengasuhan, menuju model yang semakin menekankan aspek pendidikan secara komprehensif.Studi ini juga menyoroti pergeseran peran para profesional di lapangan — guru taman kanak-kanak dan tenaga pengasuh — serta tantangan kebijakan yang muncul dalam upaya menyeimbangkan dua fungsi utama: mendidik dan mengasuh anak.Tak berhenti di situ, artikel ini menghubungkan pengalaman Slovakia dengan lanskap kebijakan pendidikan anak usia dini yang lebih luas di kawasan Eropa Tengah dan Timur — menegaskan pentingnya sistem pendidikan yang terintegrasi, inklusif, dan mampu mendukung tumbuh kembang anak secara holistik melalui sinergi antara sektor pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyambut hangat capaian ini sebagai bukti konkret kontribusi akademisi UNG, dalam pengembangan ilmu pendidikan anak usia dini di tingkat global. Keterlibatan peneliti UNG dalam publikasi internasional ini menjadi bukti, kontribusi akademisi UNG dalam pengembangan keilmuan pendidikan anak usia dini di tingkat global.“Capaian tersebut sekaligus memperkuat komitmen UNG dalam mendorong budaya riset, publikasi ilmiah bereputasi, serta kolaborasi akademik internasional," ujar Eduart.Prestasi akademisi FIP diharapkan menjadi pemercik semangat bagi seluruh dosen dan mahasiswa UNG untuk terus berkarya, meneliti, dan menghasilkan publikasi ilmiah yang memberi dampak nyata — tidak hanya bagi dunia akademik Indonesia, tetapi juga bagi komunitas ilmiah internasional. (**)

Sulap Limbah Jadi Produk Bernilai Ekonomi, Mahasiswa KKN Hadirkan GALAPEAT di Desa Dunggala
04 Jun 2026
05:41 WITA

Sulap Limbah Jadi Produk Bernilai Ekonomi, Mahasiswa KKN Hadirkan GALAPEAT di Desa Dunggala

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Siapa sangka tumpukan sabut kelapa yang selama ini hanya menjadi limbah tak berguna di sudut-sudut kebun warga Desa Dunggala, kini menjelma menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Itulah yang berhasil diwujudkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap I Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui program inovatif bertajuk GALAPEAT.Program yang resmi diluncurkan di Desa Dunggala, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango ini mengolah sabut kelapa menjadi cocopeat — media tanam organik yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.GALAPEAT merupakan salah satu program unggulan dalam kegiatan KKN Tematik bertema "Dunggala Digital Hub: Sinergi Multidisiplin dalam Branding Kearifan Lokal melalui Konten Edukasi Berbahasa Inggris untuk Global Marketing."Dari Limbah ke PeluangGALAPEAT lahir bukan sekadar dari ide di atas kertas. Program ini hadir sebagai jawaban nyata atas persoalan lingkungan sekaligus peluang ekonomi yang selama ini terlewatkan begitu saja oleh warga desa.Ketua tim KKN Tematik, Haris Danial, S.Pd., M.A., mengungkapkan bahwa, potensi besar desa ini selama ini tersembunyi di balik tumpukan sabut kelapa yang tak terurus."Sabut kelapa yang sebelumnya dianggap limbah ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui GALAPEAT, kami ingin mendorong masyarakat agar mampu mengembangkan potensi lokal sekaligus membangun identitas desa yang kuat berbasis kearifan lokal," ujar Haris.Program ini dipimpin oleh tim multidisiplin yang solid, terdiri atas Prof. Nonny Basalama, M.A., Ph.D., Muh. Rezky Friesta Payu, M.Si., dan Dr. Indri Wirahmi Bay, M.A. — membuktikan bahwa inovasi terbaik lahir dari kolaborasi lintas ilmu.Warga Belajar, Warga BerdayaTak hanya sekadar sosialisasi, program GALAPEAT mengajak langsung masyarakat, para petani, dan anggota Karang Taruna Desa Dunggala untuk terjun dalam proses produksi cocopeat dari awal hingga akhir.Dalam sesi pelatihan, peserta diperkenalkan pada berbagai manfaat cocopeat — mulai dari fungsinya sebagai media tanam ramah lingkungan yang menyerap air dengan baik, hingga peluangnya sebagai produk siap jual yang menjanjikan. Dengan terlibat langsung dalam proses produksi, warga tidak hanya menonton, tetapi benar-benar memahami dan menguasai keterampilan baru.Desa Inovatif Berbasis Kearifan LokalKehadiran GALAPEAT dan berbagai program pendampingan lainnya semakin menegaskan posisi Desa Dunggala sebagai desa yang inovatif, edukatif, dan berakar pada kearifan lokal.  Lebih dari sekadar program pengabdian, GALAPEAT membuka babak baru bagi ekonomi kreatif desa — sebuah bukti bahwa mahasiswa tidak hanya datang untuk mengabdi, tetapi mampu meninggalkan jejak perubahan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Waspada Ketika Wajab Tiba-Tiba Membeku, Riset Fakultas Kedokteran Ungkap Bahaya Bell’s Palsy yang Mengintai Di Usia Muda
04 Jun 2026
02:21 WITA

Waspada Ketika Wajab Tiba-Tiba Membeku, Riset Fakultas Kedokteran Ungkap Bahaya Bell’s Palsy yang Mengintai Di Usia Muda

Abdul Wahid Rauf

Pernahkah Anda mendapati seseorang tiba-tiba kesulitan tersenyum, sudut mulut tampak mencong ke satu sisi, atau kelopak mata tidak bisa menutup sempurna? Kondisi ini bukan sekadar kelelahan otot biasa. Dalam dunia medis, gejala tersebut dikenal sebagai Bell's Palsy — kelumpuhan saraf wajah yang terjadi secara tiba-tiba pada satu sisi wajah.Kini, kondisi ini menjadi perhatian serius setelah sebuah studi deskriptif yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Gorontalo (2023–2025) mengungkap pola yang tak terduga: Bell's Palsy ternyata banyak menyerang penduduk di usia produktif. Temuan ini menggeser anggapan lama bahwa gangguan saraf identik dengan kelompok lanjut usia.Bukan Penyakit "Orang Tua"Salah satu temuan paling mengejutkan dari studi ini adalah tingginya prevalensi Bell's Palsy pada kelompok usia 20–29 tahun, yakni mencapai 38,5% dari seluruh kasus yang tercatat. Angka ini jauh melampaui kelompok usia lainnya dan memicu diskusi ilmiah yang serius mengenai peran gaya hidup modern sebagai faktor risiko.Para ahli berpendapat bahwa generasi muda masa kini rentan karena kombinasi beberapa faktor: paparan suhu dingin yang berlebihan — baik dari pendingin ruangan maupun angin saat berkendara malam hari — serta tingkat stres tinggi yang secara kronis melemahkan sistem imun. Kondisi inilah yang diduga memicu reaktivasi virus laten, khususnya virus Herpes Simplex, yang kemudian menyerang saraf kranial ketujuh atau saraf wajah.Data studi ini juga mencatat bahwa perempuan lebih banyak terdampak dibandingkan laki-laki, dengan proporsi mencapai 65,4% dari total kasus. Meski mekanisme pasti di balik perbedaan ini masih terus diteliti, fluktuasi hormonal dan perbedaan respons imun diyakini turut berkontribusi.Mengenali Gejala Sejak DiniBell's Palsy tidak datang tanpa tanda. Studi ini mencatat beberapa gejala dominan yang perlu diwaspadai:Asimetri wajah — sudut mulut mencong ke satu sisi, ditemukan pada 31,4% pasien, merupakan gejala yang paling mudah dikenali secara visual.Gangguan pada mata — kesulitan menutup kelopak mata sepenuhnya dialami oleh 19,6% pasien. Bila dibiarkan, kondisi ini berisiko menimbulkan mata kering, iritasi, bahkan kerusakan kornea.Nyeri di belakang telinga — kerap muncul sebagai gejala awal sebelum kelumpuhan wajah terjadi sepenuhnya, namun sering diabaikan karena dianggap tidak berbahaya.Mengenali gejala-gejala ini sejak dini adalah kunci utama keberhasilan pengobatan.Kecepatan Penanganan Adalah SegalanyaMeskipun perubahan wajah yang mendadak kerap menimbulkan kepanikan, studi ini membawa kabar yang menggembirakan: sebanyak 65,4% pasien berhasil sembuh total. Namun, kesembuhan tersebut sangat bergantung pada satu faktor krusial — kecepatan penanganan.Penggunaan kortikosteroid pada fase akut, yaitu dalam 72 jam pertama sejak gejala muncul, terbukti secara klinis meningkatkan peluang pemulihan secara signifikan. Sebaliknya, pasien yang terlambat mendapatkan penanganan medis — terutama mereka yang lebih memilih pengobatan alternatif yang tidak berbasis bukti ilmiah — berisiko mengalami pemulihan yang tidak sempurna, bahkan kecacatan permanen pada otot wajah.Bell's Palsy Bukan Sekadar "Masuk Angin"Di masyarakat, Bell's Palsy masih sering disalahartikan sebagai dampak dari "masuk angin" atau terkena kipas angin langsung. Mitos ini berbahaya karena dapat menunda pasien untuk segera mencari pertolongan medis.Secara ilmiah, Bell's Palsy adalah kondisi neurologis kompleks yang melibatkan proses peradangan pada saraf wajah. Pendekatan yang tepat bukan panik, melainkan segera bertindak: kenali gejalanya, dan pergi ke fasilitas kesehatan dalam waktu sesingkat mungkin.Studi dari Gorontalo ini menjadi pengingat penting, khususnya bagi generasi muda Indonesia, bahwa menjaga kesehatan sistem imun — melalui pola tidur yang cukup, manajemen stres, dan perlindungan dari paparan dingin ekstrem — bukan sekadar gaya hidup sehat, melainkan bentuk nyata pencegahan gangguan saraf yang dapat mengubah kualitas hidup secara drastis.(Artikel penelitian dipublikasikan melalui laman berikut)

Lihat Semua Berita